Napas Baru

Napas Baru
Chapter 33


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Ruangan yang biasanya hening di jam itu kini terdengar sedikit bising oleh tangisan salah satu bayi kembar dari pasangan Nadhira dan Reyhan, Radin. Nadhira menjadi bingung melihat bayinya yang tak biasa rewel seperti ini. Begitu juga dengan Reyhan yang baru kali ini mendapati tangisan Radin. Pasangan suami istri itu sudah berusaha untuk menenangkan. Bahkan, Nadhira sudah berusaha untuk memberikan susu, tetapi Radin tak bisa juga ditenangkan. Ia mulai kelimpungan dengan kondisi Radin saat ini. Berbeda dengan Radit yang begitu tenang dalam pejamnya.


Reyhan yang melihat Nadhira berjalan mondar-mandir seraya menimang sang bayi pun merasa kasihan. Ia bisa melihat bagaimana raut wajah lelah istrinya. Begitu dengan raut kantuk yang begitu kentara dan tak bisa disembunyikan. Sebab, Nadhira belum sempat tertidur sebelumnya. Nadhira baru saja memejamkan mata, lalu tangisan Radin tiba-tiba terdengar dengan sangat keras. Reyhan langsung membayangkan Nadhira setiap malam harus seperti ini saat ia masih koma. Sungguh besar pengorbanan Nadhira sebagai seorang ibu.


“Nak, kamu kenapa sih? Kok tumben rewel seperti ini?” Nadhira bertanya-tanya pada putranya. Meski yang ia dapati hanyalah tangisan yang lagi-lagi terdengar lebih keras. Hati Nadhira terasa teriris mendengar tangisan bayinya. Sebab, tak biasanya juga Radin seperti saat ini.


Reyhan bangkit dari tempat tidur. Ia kemudian mendekati Nadhira. “Radin kenapa, Al?”


Nadhira mengangkat kepalanya untuk kemudian bisa menatap wajah sang suami. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya, sebab ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan Radin. “Aku juga nggak tau, Kak. Aku bingung,” ucap Nadhira dengan nada suara bergetar. Seperti ibu-ibu lainnya di luaran sana. Nadhira tiga tega mendengar tangisan putranya. Terlalu menyakitkan mendengar tangisan anak.


Reyhan menyentuh kening Radin. Namun, suhu tubuh Radin tidak hangat. Hal itu membuat Reyhan juga ikut bingung dengan perubahan sang bayi yang begitu tiba-tiba. Ia kembali menatap wajah lelah Nadhira yang sedang dicoba sembunyikan oleh perempuan itu. Sayangnya, di mata Reyhan, Nadhira akan gagal untuk melakukannya. Reyhan juga mendengar jelas suara bergetar Nadhira yang tengah menahan tangisnya. Reyhan kasihan pada Nadhira. Ia kemudian memeluk tubuh Nadhira dari belakang. Kemudian dikecupnya kepala sang istri dengan hangat.


“Sayang,” panggil Reyhan. Namun, tak ia dapatkan respons apa pun dari sang istri. Justru, ia mendengar isakan istrinya yang memilukan. Seketika Reyhan memutar tubuh Nadhira. Kemudian, ia mengambil alih Radin dari tangan perempuan itu. “Hei! Jangan nangis dong.” Reyhan meraih tubuh istrinya dan memeluknya dengan hangat serta ia kirimkan ketenangan untuk Nadhira.


“Aku nggak bisa jadi ibu yang baik, Kak. Aku nggak bisa nenangin anakku sendiri,” lirih Nadhira pilu di sela isakannya.


Reyhan mengelus lembut punggung Nadhira yang bergetar. “Nggak. Kata siapa kamu nggak bisa jadi ibu yang baik? Kamu sudah jadi ibu yang baik untuk Radit dan Radin, Sayang. Kamu hebat,” ucap Reyhan menenangkan istrinya. Begitu juga dengan Radin yang tengah ia usahakan untuk lebih tenang lagi. Ya, setelah Radin berada di dalam gendongannya. Radin mulai sedikit tenang dan tidak lagi menangis dengan keras. Hanya terdengar sesekali isakan. Hal itu membuat Reyhan sedikit lebih tenang juga. Kini, ia tinggal mencoba untuk menenangkan istrinya yang mulai menyalahkan diri sendiri.


Tidak mudah menenangkan Nadhira. Dan itulah satu hal yang belum berubah dari perempuan itu sampai detik ini. Seperti sebelumnya, Reyhan mulai kewalahan sebab Nadhira yang masih saja tersedu. Ia tidak tahu pasti bagaimana perasaan istrinya saat ini. Namun, Reyhan berpikir bahwa Nadhira sedang dalam kondisi emosi yang tidak baik-baik saja. Perempuan itu juga pasti sedang merasa lelah.


"Kamu tunggu di sini sebentar, ya," ucap Reyhan seraya menuntun tubuh Nadhira untuk duduk di tempat tidur. Kemudian ia menyentuh dagu sang istri hingga Nadhira mengangkat kepalanya. Ia menyeka air mata Nadhira dengan ibu jari. Lantas dielusnya lagi puncak kepala Nadhira dengan sebelah tangan. "Tunggu, ya."


Reyhan melangkah ke luar kamar seraya menggendong Radin. Ia bergerak menuju kamar kedua orang tuanya. Sebenarnya ia tidak enak hati untuk membangunkan Papa dan Mama di jam istirahat seperti ini. Namun, ia terpaksa melakukannya karena harus menenangkan istrinya dulu. Ia tidak bisa melakukan itu dengan mudah, karena Radin yang masih dalam gendongan.

__ADS_1


Tangan Reyhan terangkat untuk mengetuk pintu kamar orang tuanya dengan pelan. "Ma," panggil Reyhan pelan agar tidak ada manusia lain yang terganggu. Beberapa saat Reyhan menunggu hingga pintu kamar Papa dan Mama terbuka. Lalu, menampilkan sosok Mama dengan setelan piyama serta wajah bangun tidurnya.


"Ada apa, Kak?" tanya Mama dengan nada suara khas bangun tidur. Mama mengucek sepasang netranya mencoba untuk mengusir rasa kantuk yang masih mendera. Ia kemudian menyadari bahwa Reyhan tak datang sendiri. Namun, ada Radin yang berada di dalam gendongan si sulung. Seketika Mama kaget dan takut ada yang terjadi dengan sang cucu. "Radin kenapa?"


"Nggak apa-apa, Ma. Kakak mau titip Radin sebentar. Nggak tau Aleeana kayaknya lagi capek banget. Jadi, dia emosinya nggak stabil," terang Reyhan tanpa mau berbasa-basi lebih dulu. Lagi pula untuk apa? Bukan saat yang tepat juga untuk berbasa-basi, karena istrinya sekarang sedang membutuhkannya.


"Nadhira kenapa?"


"Aleeanan nangis di kamar. Makanya Kakak bawa Radin ke sini. Mau nenangin ibunya dulu," jawab Reyhan.


Mama mengangguk paham. Ia kemudian mengambil alih sang cucu dari gendongan ayahnya. Mungkin benar apa yang dikatakan Reyhan bahwa Nadhira sedang dalam kondisi lelah. Dan Mama berharap semoga menantunya itu tidak mengalami baby blues.


"Maaf, ya, Ma, sudah ganggu waktu istirahat Mama," ucap Reyhan yang sedikit merasa bersalah, karena sudah membangunkan sang ibu yang sudah terlelap.


Reyhan menganggukkan kepala. Sebelum ia benar-benar berlalu, tak lupa Reyhan mengelus puncak kepala Radin. Lalu, menciumnya dengan singkat. Setelah itu, Reyhan beranjak kembali menuju kamarnya untuk menemui sang istri yang sempat ia tinggalkan sementara waktu.


Reyhan masih menemukan posisi Nadhira seperti yang terakhir kali ia lihat. Ia tersenyum tipis seraya membawa sepasang tungkainya mendekat. Didaratkan bokongnya di samping perempuan cantik yang sudah menemaninya dua tahun terakhir. Lalu, melahirkan sepasang bayi kembar yang menggemaskan.


"Sayang," panggil Reyhan dengan lembut. Ia meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat. Kemudian, ia mencoba menubrukkan pandangannya dengan sepasang mata basah milik Nadhira. "Nggak apa-apa, Sayang, sekarang nangis saja," ucap Reyhan lagi. Lalu, ia dengan pelan meraih tubuh Nadhira untuk direngkuh dalam kehangatan dan menyalurkan ketenangan pada Nadhira.


Dan benar saja. Nadhira menumpahkan tangisnya di dalam rengkuhan hangat sang suami. Ia benar-benar lelah kali ini. Seharian berperan sebagai seorang istri sekaligus ibu yang harus mengasuh kedua bayinya. Lalu, malamnya justru si kecil rewel dan ia tidak tahu apa yang terjadi dengan putranya. Ia sudah mencoba untuk menenangkan. Namun, ia gagal total.


"Maafin aku belum bisa jadi ibu yang baik untuk si kembar," ucap Nadhira menyalahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Nggak, Sayang. Kamu nggak perlu minta maaf. Aku sudah bilang kalau kamu itu adalah ibu dan istri yang hebat," balas Reyhan menepis ucapan Nadhira. Ia tidak berbohong atau mencoba merayu istrinya, tetapi apa yang ia katakan memang benar adanya. Tiga bulan berjuang dalam kondisi koma, tak serta merta membuat Nadhira menyerah dan meninggalkannya. Justru, perempuan itu ikut berjuang hebat menunggunya kembali. Lalu, selama tiga bulan itu juga Nadhira harus berjuang menjaga si kecil sendiri.


"Al, berhenti menyalahkan dirimu seperti ini, Sayang. Kamu hanya lelah, karena seharian harus ngurusin aku sama si kembar. Sekarang, kamu istirahat, ya," bujuk Reyhan. Biarlah malam ini ia yang menggantikan posisi istrinya.


Nadhira menggelengkan kepala. Bagaimana bisa ia tertidur lelap jika Radin masih saja rewel? Radin? Nadhira langsung melepaskan diri dari rengkuhan suaminya ketika ia mengingat Radin. "Radin di mana?"


"Radin aku titipin Mama dulu. Sekarang kamu istirahat saja. Biar nanti aku yang jaga Radin," ucap Reyhan.


"Tapi, Kak—"


Reyhan membungkam istrinya agar tidak melakukan penolakan lagi dengan cara menempelkan bibirnya di bibir Nadhira. Lalu, ia melepaskannya tak lama. "Jangan membantah. Sekarang istirahat. Aku temani di sini."


Nadhira terdiam.


"Atau kamu mau kasih aku waktu untuk bikinin si kembar adik?" Reyhan memainkan alisnya naik turun.


"Aku istirahat sekarang," ucap Nadhira dan langsung berbaring dengan cepat di atas tempat tidur. Hal itu sukses membuat Reyhan tertawa.


"Ya sudah istirahatlah. Sleep well, Sayang," ucap Reyhan dan mengecup kening sang istri. Ia tak beranjak dari bibir tempat tidur. Ia terus membelai rambut yang sudah tidak tertutup hijab itu dengan lembut hingga Nadhira terlelap begitu cepat.


Reyhan tersenyum melihat wajah damai istrinya dalam pejam. Tak henti-hentinya Reyhan bersyukur mendapatkan istri sebaik dan sekuat Nadhira. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hidupnya jika ia tak dipersatukan dengan perempuan itu.


"Terima kasih, ya, Al, sudah menjadi kuat sampai detik ini. Aku janji akan menjaga dan membahagiakanmu bersama si kembar." Sekali lagi Reyhan mengecup kening istrinya. "I love you, Sayang," bisik Reyhan di telinga sang istri dengan nada suara teramat lembut.

__ADS_1


__ADS_2