
Sejak Papa mengetahui semua yang telah ia sembunyikan. Banyak ketakutan yang mulai bermunculan dalam diri Farhan. Hal itu membuat lelaki yang kini sudah dalam balutan selimut tebal itu semakin merasa tidak nyaman. Jika sebelumnya ia hanya takut kalau-kalau keluarganya tahu tentang kondisinya. Lalu, setelah Papa tahu, Farhan takut jika pria itu juga angkat suara di hadapan orang lain. Lantas, mengganggu kondisi mental keluarganya lagi. Terutama Mama. Baru beberapa waktu terakhir Mama merasa lega karena Reyhan yang sudah kembali. Farhan takut membuat kesedihan untuk wanita itu lagi. Farhan juga memikirkan kondisi Reyhan. Kakaknya tentu akan tersentak nanti jika kabar tentang kondisinya sampai di telinga Reyhan. Jika itu terjadi, harapan Farhan semoga tak mempengaruhi juga kondisi kesehatan Reyhan yang masih dalam proses pemulihan.
Farhan membalik badan dan tidur menyamping. Sebenarnya, ia sama sekali belum mengantuk. Hanya saja, ia sedang malas bekerja untuk merampungkan pekerjaan kantor yang makin hari menyita waktu saja. Ia hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya dulu. Memanglah ini bukanlah sebuah rencana, tetapi bertemu Papa sepulang bekerja tadi sore dan bicara tentang sesuatu yang ia rahasiakan selama ini membuat Farhan malas. Niat hati mengistirahatkan tubuh agar pikiran juga ikut istirahat. Nyatanya tidak semudah itu juga. Semakin ia tak memiliki aktivitas. Semakin pikirannya penuh dengan pikiran-pikiran yang tak seharusnya ada.
Bukankah seharusnya Farhan sudah mempersiapkan diri untuk tiba di titik ini? Titik di mana segala sesuatu yang menjadi rahasia akan terbongkar dan menjadi konsumsi seisi rumahnya. Namun, Farhan sepertinya memang tidak akan siap dengan kemungkinan itu. Merahasiakan memang menjadi pilihan terbaik. Lalu, pergi dengan tiba-tiba adalah satu konsekuensi yang jelas mengagetkan semua orang. Kecuali, Nadhira dan kekasihnya—Finza. Dan itu mungkin lebih baik, sebab tak ada kesakitan yang tercipta sebelum itu. Nanti yang ada hanya duka kehilangan setelah kepergiannya. Astaga! Farhan tidak ingin melihat kesedihan lagi-lagi terpatri di wajah keluarganya. Cukuplah kesedihan-kesedihan lalu yang terasa.
Tak juga bisa terlelap. Farhan bangkit dari pembaringannya. Dadanya entah kenapa juga kali ini terasa sedikit sesak. Jadi, ia memilih untuk duduk bersandar dengan harapan alur napasnya bisa berjalan dengan normal. Ia menatap nanar dinding di hadapannya seraya mengelus dadanya. Namun, apa yang terjadi? Sesak itu tak mereda. Akan tetapi, pandangannya justru tampak kabur dan berbayang. Farhan memejamkan matanya dengan erat seraya memijat pelipisnya. Lalu, membuka kembali kelopak matanya dan semuanya kembali normal.
Hanya sepersekian detik sebelum rasa pening yang begitu hebat mendera. Farhan meringis tertahan. Akhir-akhir ini ia merasa intensitas rasa sakit di kepalanya semakin sering terasa dan rasanya sakit berkali-kali lipat. Apakah itu artinya penyakitnya semakin parah? Ya, harusnya Farhan sudah menemui Dokter Aghni sejak lima hari yang lalu. Namun, sampai hari ini ia belum juga datang mengunjungi wanita itu di rumah sakit. Percuma saja bagi Farhan. Toh, sampai sekarang ia belum juga sembuh, padahal ia sudah menjalankan saran dari Dokter Aghni.
“Ma, sakit banget,” lirih Farhan. Ia menjambak rambutnya dengan kuat berharap rasa sakit itu mereda. Sayang, tak berpengaruh apa pun.
Duka Farhan tak sampai di titik ini. Darah segar pun tak urung mengalir dari hidung lelaki itu. Sebelah tangan sibuk menjambak rambutnya, sedang tangan satunya lagi berusaha menyeka benda cair berbau anyir itu. Ah, sungguh ini menyakitkan bagi seorang Farhan. Apalagi sekarang tak ada satupun manusia yang bisa mintai tolong di ruangan ini. Namun, sepertinya memang keberuntungan tengah berpihak padanya. Ia mendengar pintu kamarnya terbuka.
__ADS_1
“Farhan!”
¶¶¶
Papa masih belum kembali ke kamar dan Mama sendirian di ruangan itu. Ia tidak bisa memejamkan mata dengan mudah. Tak seperti biasa tentunya. Mama gelisah. Mama takut. Akan tetapi, ia tidak tahu betul apa penyebabnya. Atau mungkin karena perubahan sikap siang tadi yang tampak lebih banyak diam? Lalu, apa yang terjadi dengan sang suami? Adakah masalah yang tengah dihadapi pria itu sebenarnya?
Mama memilih beranjak dari tempat tidur untuk menemui Papa. Jika memang betul Papa sedang menghadapi masalah. Ia akan menjadi seseorang yang bisa menenangkan pria itu. Maka, Mama memilih untuk menemui Papa di ruang kerja dan mengurungkan niatnya untuk tidur lebih dulu.
Tatkala Mama baru saja ke luar dari kamar dan berdiri di depan pintu kamar. Tak sengaja sepasang bola mata miliknya jatuh pada pintu kamar yang lampunya masih menyala. Ia terdiam sejenak. Lalu, entah dorongan dari mana yang membuat Mama justru membawa kakinya melangkah ke arah kamar itu. Sedang tujuannya untuk menemui Papa menguar begitu saja dan ia lupakan.
Tangan Mama secepat kilat menyambar tisu di atas meja di samping tempat tidur Farhan. Ia mencoba menyeka darah segar itu. Namun, bukannya berhenti ke luar. Justru semakin banyak yang menetes dan membuat sebagian kaos oblong yang dikenakan Farhan berubah warna. Warna yang sebenarnya sangat mengerikan di mata Mama. Ya, Mama bukanlah orang yang begitu berani melihat cairan merah pekat itu. Namun, ia mengenyahkan ketakutannya sebab putranya tentu sangat membutuhkannya saat ini.
Farhan menyentuh tangan ibunya. Ia tahu Mama takut akan darah. Namun, ia merasakan tangannya justru ditepis oleh Mama. “Ma, please, jangan memaksa diri,” ucap Farhan di tengah rasa sakit yang menderanya.
__ADS_1
“Mama nggak apa-apa,” jawab Mama dengan sungguh-sungguh.
Belum sempat Farhan membalas ucapan sang ibu. Ia sudah lebih dulu dikalahkan rasa sakit yang begitu hebat dan menyiksa. Tubuhnya ambruk begitu saja dan membentur tubuh Mama yang berusaha menyangganya. Farhan tak langsung kehilangan kesadarannya. Ia masih mendengar teriakan Mama yang terus meneriakkan namanya diiringi isak tangis yang sangat memilukan. Isakan yang membuat kesakitan Farhan semakin bertambah. Tak hanya kesakitan fisik, tetapi juga batin. Inilah yang ia takutkan. Tangisan yang pecah dari seorang wanita yang melahirkan dan membesarkannya.
“Farhan, kamu masih dengar Mama ‘kan, Nak?” tanya Mama dengan segala rasa panik yang menenggelamkannya.
Farhan hanya bisa menganggukkan kepala dengan lemah. Ia tak bisa untuk bersuara. Rasa sakit itu seakan merenggut segalanya. Ia meraba tangan Mama. Lalu, ia genggam dengan sangat erat. “Sa-kit, Ma,” rintihnya untuk terakhir kali sebelum genggaman itu kembali melonggar, kelopak mata yang pelan-pelan terkatup rapat, dan kegelapan merenggut hidup Farhan.
Apa yang Mama saksikan dengan mata kepalanya sendiri malam ini adalah duka hebat yang kembali terasa. Di depannya sang putra kehilangan kesadaran. Entah apa yang terjadi dengan putranya yang satu ini. Mama menangis tersedu. Ia berteriak kencang meminta tolong.
“Papa, tolong!”
Suara itu bertalu-talu mendeportasi sepi malam. Suara tangisan itu mendayu mengiris hati. Mama hanya bisa memeluk tubuh yang sudah kehilangan kesadaran itu dengan erat. Tak peduli jika benda cair yang ia takuti itu merubah warna piyamanya. “Nak, bangun, Sayang. Ayo cerita sama Mama apa yang kamu rasakan,” ucap Mama dengan lirih berusaha membangunkan sang putra.
__ADS_1
“Farhan bangun!”