Napas Baru

Napas Baru
Chapter 35


__ADS_3

Farhan tiba di kantor dengan begitu tenang. Tubuhnya perlahan membaik dan bisa diajak untuk bekerja lagi. Ia membuka pintu ruang kerjanya dengan pelan. Namun, ketika ia baru saja memasuki ruangan yang sebenarnya merupakan ruang kerja sang kakak, Farhan begitu tersentak. Di kursi kerja itu sudah duduk Papa dengan ekspresi yang cukup menyeramkan bagi Farhan. Ia sampai susah untuk menelan saliva. Farhan terpaku di ambang pintu. Ia bingung bagaimana bisa ayahnya ada di dalam ruangan, sedangkan informasi yang ia dapatkan adalah ayahnya sedang melakukan perjalanan pekerjaan ke luar kota.


"Kamu tau ini sudah jam berapa?"


Suara berat, dingin, dan datar itu menelusup ke indra pendengaran Farhan. Sungguh terdengar sangat mengerikan. Farhan sampai memejamkan mata mendengar suara Papa yang sudah pasti terkesan sedang marah. Ya, Farhan sudah hafal betul dengan sikap Papa. Lalu, setelah ini ia harus mempersiapkan diri untuk menerima kemungkinan terburuk, karena ia sudah sangat terlambat datang ke kantor. Bukan keinginan Farhan untuk terlambat, tetapi tubuhnya yang tadi memberontak meminta istirahat sejenak. Sebab itulah, ia membaringkan tubuh dan terlelap beberapa saat sebelum memilih untuk pergi ke kantor. Dan kini yang ia dapati adalah sosok yang siap kapan saja menerjang tubuhnya dengan keras. Astaga! Apakah itu akan terjadi lagi menimpa Farhan di tengah gejolak sakit yang semakin parah?


"Maaf, Pa." Hanya kata itu yang bisa diucapkan Farhan. Memang jika ia menjelaskan alasan keterlambatannya Papa akan paham dan menjadikannya sebagai masalah besar? Ya, tentu saja tidak. Kejadian seperti ini sudah sangat sering terjadi. Jadi, tidak ada gunanya juga bicara panjang lebar menjelaskan tentang apa pun pada Papa. Cukuplah Farhan meminta maaf dan menunggu tindakan Papa selanjutnya yang pasti akan berakhir sama. Sudahlah! Biarlah Farhan lagi-lagi pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti. Lagi pula, ia sudah cukup terbiasa dengan hal itu. Meski tetap saja akan merasa sakit. Tak hanya fisik, tetapi juga hatinya.


Farhan membawa sepasang tungkainya melangkah mendekati meja kerja. Lalu, ia berdiri di sana tanpa berniat untuk langsung duduk sebelum dipersilakan oleh sang ayah. Sebab, melakukannya sendiri pun nanti juga akan mengundang amarah. Jadi, posisi Farhan sekarang sebenarnya adalah posisi yang serba salah dan akan disalahkan.


"Duduk!"


Lelaki dalam balutan pakaian formal itupun melaksanakan titah ayahnya. Ia mendaratkan bokongnya di kursi yang berseberangan meja dengan sang ayah. Farhan tak berani mengangkat kepalanya. Ia takut menatap sorot sepasang mata yang begitu tajam dan seperti bersiap-siap untuk menerkamnya. Harusnya ia sudah terbiasa akan hal itu, tetapi nyatanya tidak mudah. Selalu saja ada ketakutan yang menyelimuti seorang Farhan.


"Kamu nggak lupa 'kan kamu siapa?" tanya Papa. "Kamu itu pimpinan di sini. Harusnya kamu bisa memberikan contoh yang baik untuk bawahanmu. Bukan malah mencontohkan kelakuan seperti ini. Datang seenaknya saja," tukas Papa dengan nada tegas. Memang ia tipekal orang yang selalu menjunjung tinggi kedisiplinan. Tak hanya pada karyawan biasa, bahkan pada pimpinan direksi sekalipun.

__ADS_1


"Coba kamu bisa mencontoh kakakmu," lanjut Papa lagi.


Farhan yang tidak suka dibanding-bandingkan pun memberanikan diri menatap ayahnya. Dari dulu ia tidak pernah suka dengan kelakuan ayahnya seperti saat ini. Selalu membandingkan, padahal Papa sendiri tahu bahwa masing-masing anak memiliki sifat dan keahlian berbeda.


"Kenapa? Kamu nggak terima?"


"Iya," jawab Farhan dengan berani. "Farhan nggak suka dibanding-bandingkan. Tapi, Papa terus melakukannya. Harusnya Papa tahu kalau Farhan dan Kakak itu beda," ungkap Farhan lagi dengan tegas dan tanpa rasa takut sedikitpun. Ia juga dengan berani membalas tatapan tajam Papa. Sudah cukup kesabaran Farhan selama ini menghadapi sikap ayahnya. Lagi pula, apa yang ia lakukan sejak menggantikan posisi Reyhan tak serta merta membuat Papa melihat usahanya. Percuma saja rasanya apa yang ia lakukan selama ini. Tidak sedikit pun ia mendapatkan apresiasi positif dari Papa. Ia tidak gila hormat. Ia hanya ingin dihargai usahanya sedikit saja.


"Siapa yang membandingkan kamu? Apa yang Papa katakan memang benar adanya."


Papa terdiam. Baru kali ini ia melihat bagaimana Farhan dengan berani melawannya.


"Tapi, ya sudahlah, Pa. Apa pun yang Farhan lakukan nggak akan bisa Papa hargai kok. Sekarang Kakak sudah sehat. Farhan mau berhenti."


Rahang Papa mengeras. "Kamu mau buat kakakmu sakit lagi? Dia masih butuh istirahat."

__ADS_1


"Cuma duduk doang di ruang kerja juga nggak bakalan bikin Kakak jantungan lagi kok," sahut Farhan dan memainkan polpen yang ia ambil dari atas meja. Sudahlah. Percuma melawan Papa dengan emosi. Hanya menyakiti diri sendiri saja, pikir Farhan. Namun, ia begitu tersentak ketika bingkai foto milik Reyhan jatuh dan mengenai tangannya seiring suara bising yang terdengar, karena barang-barang di atas meja dijatuhkan oleh sang ayah dengan perasaan murka.


"Jadi, kamu suka melihat kakakmu sakit? Dasar kurang ajar!" Papa berjalan memutar untuk mengikis jarak dengan putranya. Ia kemudian mendaratkan satu pukulan telak di wajah Farhan hingga membuat telinga lelaki itu berdengung.


Farhan mulai lepas kendali. Ia bangkit dan menatap Papa dengan nyalang. "Kenapa berhenti? Ayo pukul lagi. Bila perlu bunuh saja Farhan, Pa."


Papa terdiam. Dalam hati ia menyesali perbuatannya yang lagi-lagi berbuat kasar pada anak keduanya itu. Ia memang susah mengendalikan emosi. Apalagi jika sudah berhadapan dengan Farhan.


Farhan meraih tangan Papa yang tadi meninju wajahnya. Sialnya, tangannya justru kembali bergetar. Refleks ia melepaskan tangan Papa lagi sebelum pria itu menyadarinya. Ia kemudian menyembunyikan tangannya di belakang punggung. "Farhan capek, Pa, seperti ini terus menerus. Farhan capek menjadi boneka yang bisa Papa mainkan sesuka hati Papa," ucap Farhan dengan nada suara yang juga ikut bergetar.


Papa masih bergeming. Ia menundukkan kepala dan menatap tangan di balik punggung putranya. Meski tidak begitu jelas, tetapi ia masih bisa melihat tangan itu bergetar. Ia bertanya-tanya dalam hati. Apa yang terjadi pada putranya?


"Memang di mata Papa cuma Kakak yang bisa membuat Papa bangga. Sedangkan Farhan nggak sama sekali. Padahal, Farhan sudah berusaha menjadi seperti yang Papa mau," lanjut Farhan. Ia memejamkan mata ketika merasakan getaran tangannya semakin kuat. Ia tidak bisa tinggal diam. Sebelum Papa menyadarinya, ia harus segera pergi.


"Farhan akan berhenti, Pa. Biar dilanjutkan lagi sama Kakak. Permisi," ucap Farhan dan berlalu dengan cepat seraya menahan tangannya yang semakin memberontak.

__ADS_1


Papa. Pria itu hanya bisa diam di tempat dengan pikiran tentang apa yang terjadi. Apakah ada yang disembunyikan oleh Farhan?


__ADS_2