Napas Baru

Napas Baru
Chapter 31


__ADS_3

"Mas Farhan mau langsung saya temani ke rumah sakit?" tanya Tio pada Farhan yang kini hanya bisa menyandarkan tubuhnya dengan sempurna di bangku penumpang. Ia juga melihat dengan jelas wajah yang masih sangat pucat itu, persis seperti yang seringkali ia lihat di wajah Reyhan. Mendapati pengalaman di mana ia bekerja bersama sepasang adik kakak yang ditakdirkan memiliki keistimewaan membuat Tio semakin banyak bersyukur atas nikmat sehat yang Tuhan berikan padanya. Sehat itu memang mahal. Meski harta kekayaan berlimpah tak serta merta bisa membuat kondisi baik-baik saja. Seperti yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri pada Reyhan dan Farhan.


Reyhan dan Farhan terlahir keluarga kaya raya, memiliki bidang usaha dan bisnis yang sudah menggurita hingga ke mancanegara. Bahkan, dengan kekayaan yang dimiliki bisa membeli apa yang mereka inginkan. Namun, mereka tidak bisa membeli nikmat sehat itu.


Farhan membuka kelopak matanya yang terkatup rapat. Kendati demikian, lelaki itu tak benar-benar tertidur. Ia hanya berusaha mengurangi rasa pening yang masih mendera. Ia kemudian menoleh ke samping—ke arah Tio yang tengah menatapnya dengan tatapan lekat. Lalu, Farhan menggelengkan kepalanya. "Farhan langsung pulang saja, Mas," ucapnya dengan nada suara lemas. Lantas, ia mengulum senyum yang dipaksakan sebagai isyarat atau pertanda baik-baik saja. Kendati hal itu tidak benar adanya.


Tio menghela napas panjang. Ia menemukan sosok Reyhan dalam diri Farhan. Lelaki itu juga seringkali menolak dan berusaha menunjukkan dirinya baik-baik saja jika Tio menawarkan pergi ke rumah sakit. Memang adik kakak sama saja, gerutu Tio dalam hati.


"Mas Tio juga nggak perlu ngantar Farhan sampai di rumah. Mas Tio nanti turun duluan saja," ucap Farhan lagi. Ia merasa kasihan pada Tio, karena harus menunda kepulangan dan bertemu keluarganya hanya karena kondisinya yang tiba-tiba menurun drastis. Sebab itulah, ia tidak ingin menyusahkan lagi lelaki itu dengan mengantarnya sampai di depan rumah.


"Tapi, Mas—"


"Tidak apa-apa, Mas. Farhan akan pastikan tiba di rumah dengan selamat. Jangan khawatir."


Sekali lagi Tio menghela napas panjang. Kemudian, ia mengangguk pasrah karena tidak bisa memaksakan kehendaknya pada Farhan.


Tak sampai lima belas menit. Taksi yang membawa Farhan dan Tio tiba di depan sebuah kompleks perumahan. Ya, kompleks yang tentu saja tidak semewah di kawasan kompleks perumahan yang ditempati Farhan dan keluarganya. Di sana Tio langsung turun, meski berat hati. Namun, sekali lagi, ia tidak bisa memaksakan kehendaknya. Mungkin jika itu Reyhan, ia masih bisa keukeuh. Namun, yang ia hadapi kali ini adalah Farhan. Seseorang yang bahkan jauh lebih keras dibanding Reyhan.


Farhan. Lelaki itu kembali memejamkan matanya. Entah kenapa tubuhnya masih saja belum terasa membaik. Lemas dan tak bertenaga. Kepalanya juga masih terasa pening. Padahal, ia sudah meminum obat yang sudah diberikan dokter sesuai dosis yang dianjurkan. Namun, sepertinya memang obat-obatan tersebut tidak bisa menanggulangi rasa sakitnya. Apakah sekarang kondisinya sudah semakin memburuk?

__ADS_1


Hanya butuh empat puluh menit saja dari kompleks perumahan Tio. Kendaraan roda empat itupun memasuki gerbang tinggi sebuah rumah. Lalu, perlahan melaju hingga benar-benar berhenti di depan rumah megah tersebut. Farhan lebih dulu menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu pada sang sopir. "Pak, kembaliannya diambil saja," ucap Farhan. "Minta tolong koper saya dikeluarkan, ya, Pak," sambung lelaki itu, lalu ke luar mobil dengan kondisi tubuh yang dipaksakan bergerak.


Tatkala tubuhnya sudah berdiri dengan tegak. Farhan terpaku di tempat saat melihat orang-orang di teras depan. Perasaan Farhan bercampur aduk melihat sosok yang langsung berdiri ketika melihat kedatangannya. Tanpa sadar air mata Farhan tumpah begitu saja. Ia melangkah perlahan dan berusaha mengenyahkan rasa sakit di tubuhnya. Ia ingin memeluk tubuh itu. Ia rindu. Sangat.


Tanpa berkata-kata Farhan langsung memeluk tubuh kakak semata wayangnya dengan erat. Meski hubungannya tak begitu harmonis dengan keluarganya, tetapi dengan Reyhan sudah beda cerita. Hanya Reyhan yang ia jadikan tempat pulang. Sebab itulah, selama Reyhan asyik menikmati tidur panjangnya. Farhan tak memiliki rumah ternyaman lagi. Memang Nadhira selalu berusaha menggantikan sosok Reyhan di sampingnya, tetapi tetap saja Farhan tak begitu bisa berbicara dengan bebas. Farhan juga tidak ingin menambah beban pikiran kakak iparnya.


Farhan melepaskan pelukannya. Ia sentuh anggota tubuh Reyhan, mulai dari wajah, pundak, tangan untuk memastikan bahwa yang ia lihat berdiri di hadapannya saat ini benar-benar sang kakak. Ia ingin memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi. Lalu, Farhan kembali memeluk tubuh kakaknya. "Terima kasih sudah kembali," ucap Farhan di sela isakannya yang sudah lolos.


"Kamu ke mana saja? Dihubungi tidak bisa," ucap Reyhan seraya melepaskan pelukan Farhan dari tubuhnya. Ia kemudian menelisik setiap inci wajah dan tubuh sang adik. Kening Reyhan mengkerut melihat wajah pucat adiknya. Tak hanya itu, ia juga merasa adiknya terlihat lebih kurus dari yang terakhir ia lihat. "Kamu baik-baik saja? Kenapa wajahmu pucat seperti itu, Dek?" tanya Reyhan lagi sebelum Farhan sempat menjawab pertanyaan yang ia lontarkan sebelumnya.


"Nggak apa-apa kok, Kak. Farhan cuma kecapekan doang. Kemarin jadwal Farhan sama Mas Tio padat banget," jawab Farhan tak sepenuhnya berbohong. Ia benar-benar lelah sekarang. Rasanya ia sudah ingin membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur karena tubuhnya terasa remuk dan kepalanya berdenyut nyeri. Namun, melihat kondisi Reyhan yang sekarang baik-baik sajalah yang membuat Farhan lebih kuat. Dan ia berharap semoga tidak ada sesuatu yang terjadi di depan kakaknya. Ia belum siap jika Reyhan harus tahu tentang kondisinya yang sebenarnya.


Sempat tatapan Nadhira bertubrukan dengan tatapan sepasang mata dengan sorot sayu milik Farhan. Namun, adik iparnya itu hanya mengulum senyum tipis seakan memberitahunya bahwa semuanya baik-baik saja. Meski kenyataan yang ada memang begitu kontras. Bagaimana bisa dikatakan baik-baik saja sedang wajah tanpa rona Farhan tak bisa berbohong tentang kondisinya? Ya, tetap juga hanya Nadhira yang memahami itu.


Reyhan menepuk pelan pundak Farhan dengan bangga. Beberapa bulan tenggelam dalam tidur panjang dan saat ia bertemu untuk pertama kalinya dengan sang adik ketika terbangun. Reyhan sudah menemukan sosok adiknya yang berubah. Kini bukan Farhan yang dulu hampir setiap hari ia nasihati, karena terus menerus beradu pendapat dengan sang ayah. Kini ia melihat sosok Farhan yang dewasa dan berusaha menjadi seseorang yang bisa membanggakan ayahnya. Meski Reyhan tahu dunia yang digeluti Farhan saat ini bukanlah dunia yang diinginkannya. Akan tetapi, bukankah tak semua keinginan bisa menjadi nyata?


"Sekarang adiknya Kakak sudah bisa jadi pemimpin, ya," ucap Reyhan dengan nada bangga pada adiknya. Meski sekarang Farhan hanya sedang menggantikan posisinya untuk sementara, tetapi Reyhan tetap berharap bahwa Farhan tidak akan ke luar dari kantor setelah ia kembali. Ia ingin bekerja bersama adiknya. Ia ingin membawa perusahaan yang berada di bawah pimpinannya menjadi perusahaan besar seperti perusahaan pusat yang dipimpin sang ayah.


"Kan Farhan hanya menggantikan Kakak untuk sementara waktu. Setelah Kakak kembali bekerja, Farhan nggak akan ke kantor lagi," jawab Farhan. Ia menatap kakaknya dengan mata memicing, karena pandangannya yang tampak memburam. Beginilah yang terjadi jika rasa pening di kepalanya tak juga berkurang.

__ADS_1


"Kata siapa kamu nggak akan ke kantor lagi? Kamu akan tetap bekerja sama Kakak," putus Reyhan. Ia ingin membuat lebih nyaman lagi adiknya menggeluti dunia yang selalu digeluti oleh keluarga besarnya.


Kening Farhan mengkerut. "Farhan mau coba pekerjaan lain, Kak," ucap Farhan.


"Kamu masih mau menentang keinginan Papa, Dek? Memangnya kamu bisa menang? Untuk apa kamu mencoba pergi jika pada akhirnya gagal juga dan kembali lagi." Reyhan bukan memaksa adiknya. Namun, apa yang ia katakan adalah apa yang ia rasakan dulu. Siapapun tidak bisa menentang keinginan Papa. Menentang sama dengan menantang dan mencari masalah.


Farhan terdiam. Dalam hati ia membenarkan ucapan kakaknya. Memang apa yang bisa Farhan lakukan jika Papa sudah angkat suara? Bukankah setiap ucapan Papa adalah sebuah ultimatum yang tak boleh dilanggar oleh siapapun?


Farhan merasakan rasa peningnya berubah menjadi denyutan yang nyeri dan membuat kepalanya seakan berputar. Ia kemudian refleks menyentuh kepalanya dengan sebelah tangan, sedangkan tangan lainnya ia gunakan untuk berpegangan di pundak Reyhan agar tidak terjatuh. Farhan menundukkan kepalanya dengan mata terpejam erat. Begitu juga dengan pegangannya yang berubah menjadi cengkraman kuat.


"Farhan, kamu kenapa, Dek?" tanya Reyhan yang mulai khawatir bercampur panik melihat adiknya. Ia menatap Nadhira hingga perempuan itu bergerak cepat mendekat.


"Bawa Farhan duduk dulu, Kak," ucap Nadhira. Lalu, Reyhan melaksanakan apa yang ia katakan. Melihat kejadian saat ini membuat Nadhira berpikir bahwa Farhan pasti sedang dalam kondisi yang tidak baik dan semakin parah. Astaga!


"Farhan, kamu masih dengar suara Kak Nadhira?" Nadhira berusaha menarik atensi Farhan agar tak tenggelam dalam kegelapan nantinya. Ia juga mengguncang pelan lengan Farhan. Lalu, ia lihat anggukan pelan adik iparnya itu dan cukup membuat Nadhira bisa bernapas lega. Nadhira lalu menatap suaminya yang sudah terlihat sekali kekhawatiran di wajah lelaki itu. "Jangan khawatir, Farhan butuh istirahat."


"Ya sudah aku akan menemani Farhan ke kamarnya."


Dengan cepat Nadhira menggelengkan kepala. Ia tidak bisa membiarkan Reyhan melakukannya mengingat kondisi Reyhan yang belum stabil. "Jangan. Biar aku panggil Pak Mus—yang membantu Farhan," ucap Nadhira dan langsung memanggil Pak Mus—security yang berjaga di depan gerbang—untuk membantu Farhan ke kamarnya di lantai dua.

__ADS_1


__ADS_2