Napas Baru

Napas Baru
Chapter 30


__ADS_3

Mama dan Papa pergi untuk menghadiri acara teman mereka. Rumah besar itu tampak sepi di hari libur. Reyhan yang bosan di dalam kamar terus menerus mendengus kesal. Setelah bangun dari tidur panjang selama tiga bulan. Sikap Reyhan terlihat begitu manja. Tidak hanya pada Nadhira saja, tetapi juga pada Mama. Ia terlihat seperti seseorang yang haus perhatian.


"Al, aku bosan di kamar terus. Ayo kita ke luar," ucap Reyhan dengan nada penuh permohonan.


Nadhira yang sibuk merapikan pakaian si kembar pun menoleh ke arah Reyhan. "Ke luar ke mana, Kak? Kondisi Kakak belum memungkinkan untuk kita pergi," ucap Nadhira mengingatkan kondisi Reyhan. Bukannya tidak ingin memenuhi keinginan suaminya. Akan tetapi, Nadhira hanya tidak ingin nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Reyhan.


Reyhan mengembuskan napas kasar. Ia kemudian menyandarkan lagi tubuhnya pada dashboard tempat tidur.


Nadhira yang melihat wajah kusut Reyhan pun merasa kasihan pada lelaki itu. Mungkin Reyhan sudah benar-benar bosan dan suntuk, karena tidak pernah mengirup udara luar. "Kita diteras depan saja, ya, Sayang. Main sama si kembar. Nanti kalau kondisi Kakak sudah memungkinkan, baru kita pergi ke luar. Ke mana saja Kakak mau. Bagaimana?" Nadhira mencoba memberikan penawaran untuk Reyhan dan berharap lelaki itu menerimanya. Ya, paling tidak Reyhan tidak berada di kamar terus.


Reyhan tak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangannya yang semula lurus ke depan ke arah sang istri. Dilihatnya senyum manis perempuan yang sudah mendampinginya sejak dua tahun itu terpatri dengan sangat cantik di paras ayunya. Senyum itu seketika membuat hati Reyhan luluh. Secepat itu Reyhan melunak hanya karena sebuah senyuman yang dipertontonkan Nadhira. "Jangan tersenyum seperti itu kalau kamu nggak mau bikin adik untuk si kembar," ucap Reyhan dengan nada penuh ancaman.


"Heh?!" Refleks Nadhira langsung memundurkan tubuhnya. Ia kemudian menatap tajam Reyhan. Bisa-bisanya lelaki itu berpikir untuk melakukannya. Sedangkan si kembar saja belum genap berumur empat bulan. Memang suaminya itu sekarang sering bertingkah aneh.


Entah kenapa ekspresi yang ditunjukkan Nadhira sukses membuat Reyhan terkekeh. Ia merasa gemas dengan sikap istrinya. Hal itu membuat Reyhan tidak sadar bergerak cepat dan mengunci tubuh Nadhira di dalam rengkuhkannya. Ia kemudian menghadiahi perempuan itu ciuman bertubi-tubi di wajah Nadhira.


Nadhira mencoba melepaskan diri dari pelukan erat sang suami. Bukan karena ia tidak suka dengan perlakuan Reyhan, tetapi ia merasa geli saja. Tawanya bahkan sudah menguar dan bercampur dengan udara sore hari di dalam kamar yang jendelanya ia biarkan terbuka. Rasanya sudah lama Nadhira tidak pernah menikmati suasana seperti ini.


Nadhira menekan perutnya yang terasa sakit, karena terlalu lelah tertawa setelah pelukan Reyhan terlepas. Ia kemudian menyeka air matanya yang berhasil lolos dari sudut netranya.


"Masih mau lagi, nggak?" Reyhan memainkan alisnya naik turun untuk menggoda sang istri. Ia kemudian memposisikan diri untuk bersiap-siap lagi memeluk Nadhira. Namun, tawanya lebih dulu terdengar melihat ekspresi penolakan Nadhira. Apalagi perempuan itu langsung melompat dengan cepat untuk menghindar. "Aneh, ya. Mau dipeluk sama suami sendiri saja nggak mau."


"Kak, sudah dong. Kan aku masih ada kerjaan rapiin baju-bajunya si kembar," ucap Nadhira dengan raut wajah memelas. Berharap Reyhan bisa menghentikan aksi konyolnya dan membiarkan Nadhira melanjutkan aktivitasnya.


"Iya. Iya. Aku bantu, ya," kata Reyhan. Kali ini ia tidak berbohong. Ia tidak mau merepotkan lebih lagi istrinya. Mengingat bagaimana pekerjaan Nadhira, selain menjaga dan mengurus si kembar, Nadhira juga harus mengurusnya karena kondisinya masih dalam proses pemulihan. Reyhan salut pada Nadhira. Perempuan yang dulu terkenal manja di hadapan keluarganya kini sudah tumbuh dan bermetamorfosa menjadi sosok istri dan ibu yang hebat. Reyhan sangat bersyukur dengan perubahan yang ada di dalam diri Nadhira.

__ADS_1


"Janji, ya, mau bantuin? Bukan mau gangguin." Nadhira menatap selidik Reyhan. Ia harus mewanti-wanti lelaki itu agar tidak membohonginya lagi seperti yang sering dilakukan Reyhan padanya.


"Iya, Sayang. Aku janji. Kan biar kerjaanmu cepat kelar dan kita bisa main di teras depan sama si kembar," jawab Reyhan dengan nada serius dan meyakinkan. Ia mengulurkan tangannya pada Nadhira. Kemudian, Nadhira duduk di dekatnya. Sesuai janjinya, Reyhan ikut membantu Nadhira merapikan pakaian si kembar yang baru diangkat dari jemuran. Meski di rumah itu ada asisten rumah tangga dan baby sitter, Nadhira tidak pernah membiarkan mereka untuk ikut campur urusan pakaian atau makanan si kecil. Baby sitter hanya berperan untuk membantu Nadhira menjaga si kembar saja. Untuk urusan bayi kembarnya, Nadhira memang sangat berhati-hati. Apalagi dengan kondisi Radit yang tentu saja lebih sensitif daripada adiknya, Radin.


Hm. Mengingat Radit selalu berhasil membuat ulu hati Nadhira berdenyut nyeri. Ya, sebagai seorang ibu ia tentu sangat merasa sedih, karena harus menyaksikan sendiri bagaimana kondisi putranya. Namun, Nadhira selalu berdo'a bahwa suatu hari seiring berjalannya waktu dan usaha yang dilakukan, Radit akan hidup menjadi manusia normal. Meski tentu saja akan terus berada di dalam pengawasan orang tua dan keluarga.


Nadhira menatap suaminya yang asyik membantu melipat baju-baju yang tampak sangat lucu itu. Tidak heran jika Reyhan sangat menikmati perannya. Ia baru merasakan kedekatan dengan sepasang bayi kembarnya. Perihal cemburu dengan si kembar, tentu saja itu tidak benar-benar terjadi. Itu hanya sikap anehnya yang tiba-tiba muncul.


"Bagaimana reaksi Reyhan jika tau nanti, ya?" Pertanyaan itu tiba-tiba kembali muncul di dalam benak Nadhira lagi. Namun, detik berikutnya ia menyadari bahwa tak boleh ia pertanyakan hal itu sekarang. Sebab, sama saja dengan membuatnya akan melamun pada akhirnya. Dan hal itu pasti akan mengundang tanya sang suami.


"Al, jadi ini yang kau lakukan setiap sorenya?" tanya Reyhan. Ia menatap istrinya seraya tersenyum bangga ketika melihat anggukan perempuan itu. Bagaimana ia tidak merasa bangga pada Nadhira? Istrinya bahkan bisa melakukan banyak hal sekarang.


"Memang siapa yang akan mengerjakan ini semua kalau bukan aku, hm?"


"Baby sitter kan ada, Al."


Reyhan mengusap puncak kepala yang tertutup hijab itu dengan lembut. "Terima kasih, ya, Sayang, sudah jadi ibu yang baik untuk si kembar," ucap Reyhan. "Aku bangga dan bersyukur banget bisa menjadi suamimu."


"Aku lebih bangga menjadi istri CEO muda dan tampan." Nadhira tertawa setelah itu. "I'm so lucky to have you, Reyhan Akbar Oktara," sambung Nadhira dengan nada yang lebih serius. Lalu, ia mendapatkan sebuah kecupan di kening dari Reyhan.


Setelah menyelesaikan aktivitas membereskan dan merapikan pakaian si kembar. Nadhira dan Reyhan pun ke luar dari kamar. Keduanya langsung bergerak meniti anak tangga yang menghubungkan ke lantai dasar rumah megah itu.


"Si kembar di mana, ya, Al?" tanya Reyhan setelah menginjakkan kaki di anak tangga terakhir. Ia yang belum hafal betul kegiatan harian kedua bayinya pasti bertanya-tanya.


"Di depan sama Suster," jawab Nadhira.

__ADS_1


Pasangan suami istri itu kemudian melangkah menuju ruang depan. Dan benar saja, mereka mendapati sepasang bayi kembar mereka tengah bermain bersama sang baby sitter. Lantas, mereka mendekat ke arah dua stroller yang ditempati Radit dan Radin.


"Sus, nggak apa-apa istirahat saja. Biar saya sama Bapak saja yang jaga si kembar," ucap Nadhira dengan nada sopan dan sangat lembut. Ya, memang begitulah Nadhira. Ia selalu memperlakukan pekerja di rumah itu dengan sangat baik. Meski ia adalah majikan, ia tidak pernah berlaku semena-mena pada mereka yang bekerja di rumah itu. Bahkan, ia selalu mencoba untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan mereka. Sehingga, ia enak untuk meminta tolong.


Dengan senang hati baby sitter tersebut menganggukkan kepala. "Terima kasih, Bu, Pak," ucap sang baby sitter. Ia kemudian beranjak meninggalkan sepasang suami istri itu untuk menikmati waktu sore mereka bersama sepasang bayi kembar yang menggemaskan.


Nadhira dan Reyhan mendorong masing-masing stroller bayi mereka menuju teras depan. Sesuai tawaran Nadhira, mereka akan menghabiskan waktu bermain bersama di sana.


Reyhan. Lelaki itu seperti melihat pemandangan baru saat berdiri di ambang pintu. Rasanya ia sudah sangat lama tidak pernah mengirup udara bebas seperti ini. Padahal, ia hanya berdiri di depan pintu saja. Apalagi nanti jika ia benar-benar bisa ke luar. Mungkin ia akan bertingkah seperti seorang narapidana yang baru terbebas dari hotel prodeo. Terkesan sangat berlebihan, bukan? Namun, itulah yang dirasakan Reyhan.


"Kakak duduk di sini," ucap Nadhira seraya menunjuk kursi di teras depan. Sedangkan ia sendiri sudah lebih dulu mendaratkan bokong di kursi yang satunya lagi. Lalu, stroller sang bayi yang ia dorong tadi diletakkan tepat di hadapannya dan menghadap dirinya.


Reyhan dengan patuh mengikuti titah istrinya. Lalu, ia memposisikan stroller itu sama seperti Nadhira. Dengan begitu, ia bisa lebih leluasa menatap dan mengajak bermain salah satu bayinya, yaitu Radit. Dengan sangat lekat Reyhan memandangi Radit. Kemudian, ia beralih menatap ke arah Radin. Hal yang sama ia lakukan berulang kali hingga menimbulkan tanda tanya di benak Nadhira.


"Ada apa, Kak?" tanya perempuan berhijab itu dengan kening mengkerut dalam. Ia bingung melihat sikap aneh suaminya.


"Apa cuma aku yang melihat Radit terlihat lebih kurus dan lemas daripada Radin, Al?" Reyhan sekali lagi mencoba menelisik kedua bayinya. Namun, ia mendapati hal yang sama. Radin lebih terlihat bugar daripada Radit.


Nadhira terdiam. Ia tidak tahu harus merespons apa pertanyaan sang suami. Apakah Reyhan sudah menyadari tentang kekurangan Radit?


"Perasaan Kakak saja. Mungkin Radit ngantuk, Kak," balas Nadhira setelah beberapa saat terdiam mencari jawaban.


Reyhan kemudian dengan mudahnya membenarkan ucapan Nadhira. Ya, Reyhan jelas tahu bahwa Nadhira pasti lebih paham tentang si kembar dibanding dirinya.


Keluarga kecil itu kemudian menikmati sore dengan asyik. Mereka menikmati kehangatan yang tercipta di keluarga kecil itu. Benar-benar tampak keluarga yang sangat harmonis.

__ADS_1


Di tengah keasyikan keluarga Reyhan bermain. Sebuah taksi datang dan berhenti tepat di pelataran rumah. Kedatangan kendaraan roda empat itu berhasil menyita atensi Reyhan dan Nadhira. Kemudian, keduanya saling melempar tatapan penuh tanya. Hingga rasa penasaran mereka terbayar tatkala seseorang ke luar dari kendaraan tersebut.


__ADS_2