
Saat sudah mengetahui siapa Abi sebenarnya, awalnya Aira mau diajak tinggal bersama di rumahnya yang besar itu. Namun, karena terbiasa tidak dilayani banyak orang membuat Aira tidak nyaman. Hingga ia memutuskan untuk tinggal di rumah yang pertama kali Abian beli saat menikah.
Dan Abian sama sekali tidak merasa keberatan, ia merasa senang dimana pun ia tinggal asalkan ada Aira bersamanya. Dan hari ini, Aira mengajak Abi untuk membeli semua kebutuhan bulanan. Dan dengan setia Abi selalu menemani isteri kesayangannya. Jika dulu Abi sangat takut bertemu dengan Aira maka kini ia sangat takut jika tidak bertemu dengan Aira.
Kini mereka berdua sudah sampai di pusat perbelanjaan di kota itu. Dengan mata berbinar Aira siap memilih barang-barang yang penting mau pun tidak penting. Dan Abi sama sekali tidak membatasi keinginan Aira. Selama istrinya bahagia, maka Abi pun ikut bahagia.
"Kak Abi kita beli sabun mandi dan kawan-kawannya dulu ya," ajak Aira.
"Oke sayang," jawab Abi, ia pun kemudian mengikuti kemana pun istrinya pergi yang terpenting baginya adalah istrinya bahagia. Dan saat sampai di tempat persabunan, Abi melihat begitu banyak jenis sabun dari berbagai merk dan ukuran. Ia berdecal kagum melihat istrinya. Yang begitu senang mengunjungi tempat dimana sabun dan kawan-kawannya tinggal.
'Aku baru tahu jika sabun-sabun ini berkawan, apa mereka juga bertetangga. Astaga, semoga kalian semua akur,' batin Abi
"Kak Abi ayo kemari!" panggil Aira, mendengar panggilan merdu sang istri Abi pun langsung menghampirinya.
"Ada apa sayang," jawab Abi.
"Coba lihat ini, menurut Kak Abi lebih bagus sabun yang hadiahnya mangkuk atau yang berhadiah piring?" tanya Aira.
"Apa? I-itu..." yang ditanya malah menggaruk kepalanya. Ia bingung memikirkan untuk apa mangkuk dan piring itu jika barang-barang di rumahnya jauh lebih bagus dibandingkan dengan mangkuk dan piring hadiah sabun. Tapi tentu saja ia tidak akan berani mengatakan itu semua pada Aira karena jika Abi sampai berani membuka mulutnya. Sudah bisa Abi pastikan jika jatah minum susu dan nganu-nganu akan lenyap begitu saja.
Oh tidak, kesejahteraan gagang sapunya terancam, lebih baik ia memilih sebelum istrinya ini mengatakan sesuatu yang tidak ingin ia dengar.
__ADS_1
"Aira menurutku lebih baik kau memilih yang isinya..."
"Ahh ya ampun!" pekik Aira.
'Astaga ada apalagi, semoga gagang sapu ku nasibnya baik-baik saja,' gumam Abi dalam hati.
"A-ada apa Aira?" tanya Abi.
"Kak Abi, coba lihat ke atas." Abi pun kemudian mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah atas. Dan disana tidak apa-apa, hanya keluarga sabun cuci lainnya yang sedang berderet disana, tidak ada yang aneh pikirnya.
"Ada apa memangnya? Itu hanya sabun Aira, apa mungkin mereka masih saudara dengan sabun yang kau pegang?" tanya Abi, sontak saja Aira tertawa mendengarnya. Memangnya ada sabun yang bersaudara pikirnya.
"Kak Abi, kau ini sangat lucu tahu. Kau adalah orang yang sangat pintar bercanda padahal yang aku tahu kau itu adalah orang yang pendiam dan jarang bicara. Tapi kini kau selalu bercanda dan membuatku selalu tertawa mendengarnya." ucap Aira sambil terus tertawa.
"Cepat ambil Kak sabunnya." Dengan sigap Abi pun langsung mengambil sabun yang kemasannya adalah sebuah gelas, gelas yang sama persis dengan gelas yang suka dipakai pedagang es cendol. Astaga apa yang menariknya dari gelas ini, apa karena ada tutupnya pikir Abi.
"Ini Aira, ambilah," ucap Abi.
"Oh ya ampun, aku suka sekali belanja di sini. Barang-barang di sini hampir semua berhadiah," ucap Aira dengan antusias.
"Hanya hadiah piring dan gelas seperti itu saja, dia sudah sangat bahagia. Bagaimana jika nanti ia membeli shampoo berhadiah rambut palsu. Apa dia juga akan senang," gerutu Abi,
__ADS_1
"Kak Abi kau mengatakan sesuatu?" tanya Aira.
"T-tidak, aku pun sangat heran bagaimana mereka bisa memberikan hadiah seperti ini," ucap Abi.
"Benar, penjualnya sangat baik," jawab Aira sambil memilih-milih tetangga sabun cuci yaitu sabun mandi.
"Kali ini apa hadiahnya," gumam Abi sambil memperhatikan rak sabun mandi yang di rak ini semuanya terlihat normal tidak ada piring mangkuk ataupun gelas disana.
"Kak Abi lihat," ucap Aira, Abi pun langsung melihat ke arah Aira yang sedang memperlihatkan sebuah pasta gigi yang bertumpuk-tumpuk. Apa itu pasta gigi berhadiah pasta gigi, pikir Abi.
"Iya, kenapa Aira,"
"Lihatlah, jika kita membeli pasta gigi ini 3 buah maka hadiahnya satu pasang sikat gigi. Jadi sikat giginya bisa satu untukku dan satu untukmu, hebatkan,"
"Apa! I-iya, itu sangat hebat dan juga hemat," puji Abi.
'Astaga Aira, suamimu ini banyak uang tapi kenapa kau suka sekali yang gratisan' Abi membatin.
"Kak Abi," panggil Aira lagi.
'Apalagi kali ini, apa ia membeli beras dengan hadiah panci,' gumam Abi dalam hati.
__ADS_1
****
Dukungannya mana nihh 😚😚😚