NIKAH DADAKAN (Aira & Abian )

NIKAH DADAKAN (Aira & Abian )
Bab 78


__ADS_3

Sandi dan Nilam kini sudah sampai di kostan Sandi, lebih tepatnya di sebuah kontrakan yang tidak terlalu besar. Ya karena saat itu Sandi hanya tinggal sendiri, jadi ia tidak terlalu membutuhkan kontrakan yang besar. Akan tetapi kini ia bersama dengan Nilam, jadi mungkin ia akan mencari kontrakan yang lebih besar saja. Eh tunggu dulu, bukankah ia kini sudah menjadi seorang juragan tanah. Astaga akan sangat memalukan jika ia hanya mengontrak, Bukankah lebih baik ia membeli sebuah rumah saja karena jika ia mengontrak sebuah rumah maka ia harus mengeluarkan uang setiap bulannya, akan tetapi rumah itu tidak akan menjadi miliknya. Lain halnya jika ia mengambil sebuah rumah, saat ia melakukan cicilan nanti maka suatu saat nanti rumah itu akan menjadi miliknya. Benar-benar brilian pemikiran kepiting goreng ini, ternyata Ia memang sangat pintar dalam menghitung uang. Baiklah, besok ia akan mencari sebuah rumah untuk ia dan Kinan tinggali di sana.


"Nilam, maaf kalau kontrakan ini sempit. Besok aku akan mencari rumah untuk kita," Nilam tersenyum mendengarnya, ia senang Sandi memikirkan untuk membeli rumah. Perempuan mana yang tidak senang, jika suaminya mampu memberikan sebuah rumah untuk mereka tinggali.


"Iya A, Nilam seneng banget dengernya,"


"Tapi kita bisa mencari rumah dengan cicilan yang tidak terlalu besar, agar aku bisa menyimpan sebagian uang gajiku untuk rumah kita nanti. Sangat sayang sekali jika uang yang aku dapatkan untuk hanya untuk membayar kontrakan milik orang lain,"


"Iya A, Nilam ikut aja,"


"Ya sudah, aku mau mandi dulu. Kau juga istirahat saja dulu. Nanti kita keluar untuk makan dan sekalian belanja untuk keperluan kita,"

__ADS_1


"Iya A," Sandi pun kini pergi mandi karena ia merasa tubuhnya lengket setelah seharian melakukan perjalanan. Ia berjalan dengan bangga, karena merasa sudah menjadi suami yang sangat bertanggung jawab. Ia bahkan mampu mencicil rumah tanpa takut menunggak, karena memiliki jumlah tabungan yang cukup banyak. Bukannya tidak ingin membeli rumah secara langsung, akan tetapi tabungannya tidak sebanyak itu, apalagi iya baru saja membeli sebuah mobil. Akhirnya Ia memutuskan untuk mencicil rumah saja, yang terpenting kehidupan mereka tercukupi dan tidak terlalu memusingkan untuk membayar cicilan rumah. Karena ia mempunyai tabungan untuk cadangan kehidupan mereka. Senangnya jadi orang kaya, meskipun tidak sekaya Abian, tapi ia bahagia karena ia mempunyai tabungan yang banyak.


*


*


*


"Di kota mah rame ya A, Nilam suka,"


"Makanya aku mengajakmu tinggal di sini, aku tidak terbiasa hidup di desa yang sepi,"

__ADS_1


"Iya, Nilam seneng di sini. Nanti cari rumahnya yang deket sama jalan ya, biar Nilam busa main ke jalan,"


"Mau apa kau main ke jalan, kau mau tertabrak mobil?"


"Aihh ya enggak atuh Aa amit-amit, Nilam teh mau cuci mata gitu,"


"Oh ya ampun Nilam, kau tinggal ke kamar mandi kalau mau mencuci mata. Kenapa harus repot-repot pergi ke jalan," mendengar ucapan Sandi, Nilam hanya mampu menggaruk keningnya dengan wajah bingung.


'Udah lama tinggal di kota kok A Sandi malah kudet ya, masa cuci mata pake air,'


****

__ADS_1


Sandi mana tahu Nilam, kepiting goreng kan tahunya cuma cari uang 😌😌😌*


__ADS_2