
Kabar kehamilan Aira membuat semua orang bahagia, Andini dan juga Arman sangat bahagia karena mereka akan mempunyai cucu. Cucu pertamanya akan lahir dari putri bungsunya.
"Angga kau juga harus semangat mencetak cucu untuk kami," ucap Arman. Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga dan seperti biasa mereka selalu menghabiskan waktu untuk bercengkrama atau membicarakan hal yang tidak penting.
"Siap, Yah!" jawab Angga semangat.
'Aku baru tahu, jika sikap tidak peduli yang selalu ia tunjukkan pada semua orang saat di kantor. Ternyata mempunyai sisi yang penyayang saat dekat dengan keluarganya,' gumam Tasya dalam hati.
"Setelah tahu rasanya kau sangat bersemangat, dulu kemana saja kau. Bahkan tidak mau menikah dan lebih suka menjadi perjaka tua," sambung Andini.
"Jangan mengungkit masa lalu, Bu. Asal ibu tahu sebenarnya aku merasa menyesal dengan pernikahan ini," ucap Angga.
Deg...
Mendengar ucapan Angga seketika hati Tasya menjadi menciut. Ia jadi merasa malu dihadapan orang tuanya kenapa suaminya yang tadi telah membuka segelnya malah mengatakan jika kini ia menyesal telah menikah dengannya. Kenapa Angga setega itu pikirnya.
'Dasar jahat,' batin Tasya.
__ADS_1
"Hei anak nakal, apa maksudnya kalau kau sudah menyesal sudah menikah. Bahkan karena pernikahanmu uang celengan Ayah, Ayah relakan untukmu!" ucap Arman kesal.
"Berani bicara yang tidak-tidak, Ibu pastikan kau tidak akan kebagian warisan!" sambung Andini.
"Astaga kalian ini, aku memang menyesal karena sudah menikah kemarin. Aku menyesal kenapa tidak dari dulu saja aku menikah, kalau tahu rasanya seenak ini mungkin dari dulu aku menikah," jawab Angga sambil terbahak-bahak.
"Dasar anak kurang garam!"
Tak...
Satu jitakan dari Arman pun mendarat di kepala Angga, Angga yang kesakitan pun langsung mengusap-usap kepalanya.
"Rasakan itu!" balas Andini. Tasya menahan senyumnya melihat kekonyolan keluarga suaminya. Termasuk sifat dan suaminya yang aneh ternyata.
"Tasya, kuatkan iman dan kesabaranmu dalam menghadapi sifat suamimu, ya," ucap Angga.
"Iya Bu," jawab Tasya mengulum senyumnya, ternyata suaminya ini memang sangat gila jika bicara.
__ADS_1
*
*
*
Setelah malam larut, dua pasangan berbeda generasi itu pun kembali ke kamarnya masing-masing.
Tasya mulai mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur karena malam ini ia merasa sangat mengantuk, jadi ia memutuskan untuk menyiapkan pakaian dan segala sesuatunya untuk besok bekerja, besok pagi saja. Mereka berdua sengaja tidak mengambil cuti yang lama karena mereka juga tidak merencanakan untuk pergi bulan madu. Mereka lebih fokus kepada pekerjaan mereka, karena menurut mereka di manapun itu tetap saja ujung-ujungnya mereka akan bergulat di atas kasur. Daripada membuang waktu dan uang lebih baik mereka mengumpulkan uang itu untuk masa depan mereka dan juga anak-anak mereka nanti.
Tasya mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur, terlihat Angga juga sedang bermain ponselnya. Tak ingin banyak bertanya karena merasa lelah, Tasya pun memejamkan matanya. Namun, baru saja ia akan masuk ke dalam dunia mimpi. Terasa ada seseorang yang sedang bermain di bagian depan tubuhnya. Rasanya sangat nikmat hingga gelenyar panas kini menyelimuti tubuhnya.
Saat kesadarannya mulai terkumpul, Marsha melihat jika pakaian yang ia gunakan sudah berantakan. Dan suaminya kini sedang minum susu di pabrik miliknya. Astaga rupanya suaminya ini sangat suka sekali bermain disana.
"Angga ... " lirih Tasya, tapi sepertinya Angga tidak mau mendengarnya. Dan akhirnya Tasya pun membiarkan apa yang sedang Angga lakukan di pabrik miliknya. Dalam kegiatannya Angga tersenyum senang.
'Ternyata begini rasanya punya, istri. Bisa minum susu kapan saja,' gumamnya dalam hati dan terus melakukan kegiatannya sampai puas. Hingga ronde ketiga pun terjadi malam itu.
__ADS_1
'Astaga, ternyata suamiku ini sangat buas,' batin Tasya, kini ia sedang mencengkram punggung Angga.