
Mendengar ada suara seseorang yang memanggilnya, Sandi pun menengok ke belakang. Disana Sandi melihat seorang gadis cantik berambut panjang, kulitnya yang putih terlihat semakin bersinar saat cahaya matahari mengenai kulit putihnya.
"Bener kan, ini teh A Sandi?" tanyanya sambil tersenyum manis kearah Sandi.
Sandi yang merasa tidak mengenal gadis itu pun hanya mengernyit heran saja, tapi ia mengangguk saat gadis itu menanyakan jika ia memang adalah Sandi.
"Ya ampun, gimana kabarnya A?" tanyanya ramah.
"Aku baik, kau siapa?" tanya Sandi.
"Aihh ... ya ampun jadi A Sandi teh lupa? Ini Nilam A, adik kelas A Sandi wakti di SMU dulu." jelasnya.
"Emmm...maaf, aku memang lupa. Sudah lama aku tidak pulang, dan keadaan disini banyak sekali yang berubah," jawab Sandi.
"Iya sih wajar aja A Sandi lupa, soalnya udah lama gak pulang,"
"Aku sangat sibuk, jadi tidak ada waktu untuk pulang," jelas Sandi. Ya begitulah Sandi, dia memang terlalu sibuk bekerja dan menabung hingga ia tidak sempat untuk pulang. Tapi ia selalu mengirimkan uang pada orangtuanya, sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai anak laki-laki satu-satunya. Dan jika ia ingin bertemu dengan orangtuanya, maka orangtunya lah yang datang mengunjunginya ke kota.
Tapi orang tua Sandi tidak mempermasalahkan hal itu. Karena mereka juga merasa senang mengunjungi anaknya di kota, hitung-hitung jalan-jalan pikir mereka.
"Ya sudah kalau begitu, aku duluan ya," pamit Sandi pada Nilam. Dan Nilam pun mengangguk dan tersenyum senang.
"Makin ganteng aja ... " gumam Nilam, akan tetapi terdengar oleh Sandi, jika dulu ia akan merasa senang jika ada yang memujinya. Namun, tidak untuk kali ini. Hatinya yang masih terasa hampa tidak merasakan apapun, hanya terasa kosong.
Tak lama setelah itu Sandi pun sampai di rumahnya, banyak sekali hal yang berbeda. Bahkan ia tidak mengenali rumahnya sendiri, ia merasa sangat asing dengan lingkungannya. Beberapa kali Sandi mengitari rumah yang ia kira rumahnya, tapi ia merasa ragu karena terasa sangat berbeda. Seperti bukan rumahnya saja.
Hingga seseorang datang menghampirinya, seseorang yang sangat Sandi rindukan akhir-akhir ini. Ya, dia adalah ibu dari Sandi, Salamah. Perempuan setengah baya itu menghampiri putranya yang sangat ia rindukan. Lama tidak bertemu dengan putranya membuat perempuan yang sudah tidak muda lagi itu pun merasa terharu, ia kemudian memeluk Sandi. Air mata menggenang di pelupuk matanya yang sudah mulai dihiasi oleh kerutan itu.
"Sandi, anak Umi kenapa kamu teh baru pulang. Umi teh kangen sama kamu Sandi." ucapnya sambil memeluk Sandi dan menepuk-nepuk punggung kokoh itu.
__ADS_1
"Maaf, Umi." Sandi pun membalas pelukan ibunya yang sangat ia rindukan. Entah kenapa hatinya mulai menghangat kembali saat ia mendapatkan pelukan dari sang ibu.
"Dasar kamu mah, ayo masuk Umi udah masak dari subuh. Pas kemarin sore kamu nelepon mau pulang. Umi teh langsung masak makanan kesukaan kamu," ucap Salamah tersenyum senang.
"Nanti saja Umi makannya, aku masih lelah." jawab Sandi karena ia memang masih lelah.
"Oh ya udah atuh, sebentar Umi buatkan teh manis dulu ya,"
"iya Umi." Sandi pun menyandarkan kepalanya di sofa yang ada di rumahnya itu. Sungguh keadaan rumahnya ini sangat berubah menjadi seratus delapan puluh derajat.
Rumah dimana tempat ia dibesarkan, dulu adalah rumah yang sangat sederhana. Bahkan terbilang kecil jika dibandingkan dengan yang lain, tapi kini rumahnya malah terlihat menjadi rumah yang paling besar diantara yang lainnya. Bahkan rumahnya bertingkat. Sangat kontras terlihat menonjol jika dibandingkan dengan rumah-rumah yang lainnya. Apalagi letaknya yang berada di tengah pesawahan, membuat rumahnya itu sangat mencolok.
Salamah pun kemudian datang dengan membawa segelas teh manis dingin, karena kebetulan cuaca disana sedang panas, jadi minum teh dingin pasti sangat menyegarkan.
Sandi pun langsung meminumnya dan benar saja, tenggorokannya yang terasa haus kini terasa sangat segar tersiram oleh minuman manis itu. Yang membuat Sandi heran adalah rasa teh nya yang khas dan juga aromanya sangat harum membuat minuman itulah sangatlah nikmat. Sepertinya jika diminum selagi panas akan terasa lebih mantap lagi, begitu pikirnya.
"Abah mana Umi?"
"Abah kerja?" tanya Sandi, Sandi sudah mengirimkan uang yang cukup untuk ayah dan ibunya, tapi kenapa ayahnya masih saja bekerja. Apa demi mendapatkan rumah bagus ini ayahnya harus bekerja.
"Enggak, cuman cek aja. Sekalian nengok ke pabrik teh, katanya mau ada kiriman siang ini." jawabnya sambil menata makanan ringan di meja.
"Sepertinya Abah orang penting di sana, memangnya Abah bekerja di kebun dan pabrik teh milik siapa?" tanya Sandi penasaran.
"Kebun sama pabrik teh nya, punya kamu atuh Sandi," jawab Salamah tersenyum senang. Sandi hampir saja tersedak, mendengar dia pemilik pabrik teh katanya.
"M-maksud Umi?" rupanya kepiting goreng ini masih belum paham maksud dari ibunya.
"Itu pabrik milik kamu," jelasnya lagi
__ADS_1
"Bagaimana bisa?!" tanya Sandi shock mendengar jika pemilik pabrik dan kebun teh itu.
"Ya bisa atuh, kan uang yang kamu kirim tiap bulan dikirim sama kamu teh, sebagian ditabung. Nah kebetulan karena pemilik kebun sama pabrik itu teh mau pindah, dijual sama pemiliknya dengan harga miring. Yang penting laku katanya,"
"Terus?" tanya Sandi penasaran.
"Ya karena ada tabungan dari uang kamu yang selalu dikirim. Abah memberanikan diri untuk membelinya. Apalagi ini usahanya sudah jalan, jadi tinggal diteruskan saja. Dan Alhamdulillah hasilnya, bisa membangun rumah.
Sandi terkejut dibuatnya, dia benar-benar shock. Orangtuanya benar-benar membuat uangnya menjadi sangat bermanfaat.
"Selain bikin rumah, sama Abah juga dibelikan sawah sama kebun dan Alhamdulillah, banyak yang datang untuk membeli sayuran dan juga padi yang Abah sama Umi tanam, untuk dijual ke pasar-pasar. Dan hasilnya semakin bertambah sekarang."
"Bertambah berapa?"
"Masing-masing satu hektar lah,"
"Apa!" Sandi semakin terkejut bahkan jantung dan ginjalnya ikut bergetar mendengar kabar luar biasa ini.
"Alhamdulillah Sandi hasil kamu selama sepuluh tahun teh banyak hasilnya, kamu juga disuruh pulang teh susah. Bilangnya sibuk-sibuk terus."
"Kenapa tidak telepon?" tanya Sandi lemas.
"Umi teh mau bikin surpres buat kamu," ucapnya cekikikan.
"Umi, jadi sekarang Sandi jadi juragan?" tanyanya lemah.
"Iya, kamu teh juragan sekarang mah. Malah kemarin Abah beli tanah yang ada disamping kebun sayuran. Katanya biar makin banyak yang ditanam dan hasilnya juga bisa lebih banyak.
"Oh ya ampun, aku kaya ...".ucapnya lemah. Sandi jadi membayangkan berapa jumlah kekayaannya di desa di tambah tabungannya selama bekerja.
__ADS_1
***
Kepiting goreng ternyata jadi juragan tanah di desa 😆😆😆