NIKAH DADAKAN (Aira & Abian )

NIKAH DADAKAN (Aira & Abian )
Bab 68


__ADS_3

"Aira melahirkan, dan Abi baru memberitahu kita?" tanya Andini tidak percaya. Kenapa menantunya dia memberitahukan jika anaknya akan melahirkan. Andini tahu sendiri bagaimana rasanya akan melahirkan itu ia sangat membutuhkan dukungan orang-orang terdekatnya.


"Aira yang memintanya, Bu. Katanya jangan beritahu siapapun, ia tidak ingin semua orang khawatir." Angga menjelaskan semua yang Abi ceritakan tadi di telepon.


Terdengar helaan napas kasar Andini, Aira memang manja tapi ia tidak pernah ingin orang tuanya tahu tentang rasa sakitnya.


"Kalau begitu antar Ibu ke rumah sakit sekarang," ajak Andini.


"Baiklah, kita semua bersiap ke rumah sakit sekarang," ucap Angga. Andini pun kembali ke kamarnya dan memberi tahu suaminya jika anaknya sudah melahirkan.


*


*


*


Kini mereka berempat sudah berada di rumah sakit, Mereka semua sangat senang karena Aira sudah melahirkan dengan selamat. Bayinya juga sehat dan tampan, tadi pagi Abi sempat mengirimkan fotonya pada mereka.


Tak menunggu lama kini mereka sudah sampai di ruangan Abi dan Aira. Kedatangan mereka disambut bahagia oleh Aira dan juga Abi. Bayi kecil itu juga sudah ada di ruangan Aira dan baru selesai dimandikan, hingga bayi itu kini sudah sangat harum dan juga tampan.


"Ya ampun, Aira kau melahirkan tapi tidak memberitahu Ibu. Ibu sangat khawatir," Andini menangis dan memeluk putrinya.


"Aku tidak apa-apa, Bu. Bukankah semua sudah selamat, aku juga tidak mau membuat kalian khawatir jadi cukup Kak Abi saja yang menemaniku." ucap Aira. Andini membalas ucapan anaknya dengan usapan lembut di rambutnya.


"Hei lihatlah, cucuku ini sangat tampan." ucap Arman yang kini sedang menggendong cucunya.

__ADS_1


"Kemarikan ... kemarikan cucuku." Andini tidak mau kalah, ia juga ingin menggendong cucunya. Dan ia pun tersenyum saat melihat cucunya itu.


"Ya ampun, dia memang benar-benar tampan," Andini mengelus pipinya yang sangat lembut. Dan bayi itu pun bergerak dan terlihat sangat lucu, hingga semua orang tertawa.


"Oh ya Aira, apa melahirkan itu sakit?" tanya Tasya, Angga yang mengerti kegelisahan istrinya itu pun langsung memegang tangannya seolah memberi kekuatan.


"Emmm, bagaimana ya. Rasanya campur-campur antara sakit mulas dan apalagi ya ... tapi saat kau mendengar tangisan anakmu rasa sakit itu semuanya lenyap. Dan kehadiran orang yang paling kita sayangi akan memberikan kita kekuatan saat kita melahirkan," jawab Aira.


"Begitu ya, aku jadi takut ... " ucap Tasya.


"Jangan takut, melahirkan itu kodratnya wanita. Banyak berdoa semoga semuanya diberikan kemudahan dan juga kelancaran," ucap Andini.


Untuk saat ini keluarga aneh ini berbicara dengan normal, dan tidak mengeluarkan bahasa absurdnya. Mereka semua bergantian, untuk menggendong bayi kecil itu.


"Siapa namanya?" tanya Angga, ditanya nama Abi malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bahkan sampai lupa memberi nama anaknya itu.


"Kau ayah yanga aneh," ejek Angga


"Hei aku panik, aku belum sempat memberikannya nama. Tapi tenang saja aku akan memberikan nama yang bagus untuknya.


"Namanya dari huruf A, supaya keluarga kita kompak namanya," ucap Arman. Namun, pandangan Abi dan Aira mengarah pada Tasya.


"Kenapa kalian melihatku begitu?" tanya Tasya heran.


"Namamu bukan dari huruf A, sayang sekali padahal kalau sama keluarga kita akan sangat kompak," tutur Abi pada kakak iparnya itu.

__ADS_1


"Hei adik ipar, siapa bilang namanya bukan dari huruf A, nama istriku ini awalannya huruf A, "ralat Angga.


"Namanya Tasya huruf depannya T sebelah mana huruf A nya, kalau huruf belakanganya memang iya," jawab Abi.


"Astaga memangnya kau tidak mendengarnya saat aku mengucapkan ijab kabul kalau nama istriku ini ANASTASYA, " ucap Angga menjelaskan pada adik iparnya ini.


"Benarkah?" tanya Aira, dan Tasya pun mengangguk.


"Mana aku tahu, kau kan yang mengatakannya bukan aku." Abi mengangkat bahunya acuh. Membuat kakak iparnya menjadi kesal.


"Kalau begitu panggilannya ganti saja," ucap Arman.


"Jadi Tasya harus dipanggil apa?" tanya Andini.


"Panggil saja Anas, benar kan," jawaban Angga malah membuat ibu hamil itu kesal. Panggilan yang kurang pas menurut Tasya.


"Anas?" tanya mereka serempak, Tasya menggelengkan kepalanya.


"Tunggu dulu ... " ucap Arman.


"Apa?" tanya Andini.


"Bukankan Anas itu seperti makanan yang baru matang?" tanya Arman.


"ITU PANAAAASSSS ...." jawab mereka semua.

__ADS_1


'Oh Tuhan keluarga A ini memang sangat aneh,' batin Tasya.


__ADS_2