
Sore ini Angga pulang kerja seperti biasanya. Namun, ada yang aneh dengan sikap sang ibu yang melihat ke arahnya dengan tatapan aneh. Ya, aneh, tatapannya terlihat mengintimidasi Angga. Astaga Angga baru ingat sesuatu, ia pun memberikan barang berharga milik ibunya. Karena kemarin ia sempat kena omel gara-gara kotak makan berwarna pink itu tidak pulang tepat waktu.
"Aku tahu apa yang ibu khawatirkan, tenang saja semuanya aman terkendali," ucap Angga sambil memberikan kotak yang sangat berharga itu.
"Ini, kembali pulang dengan selamat jadi itu tidak usah khawatir," ucap Angga sambil tertawa. Andini pun mengambilnya dan mengernyit heran karena sepertinya kotak yang ia pegang tidak kosong.
"Ini apa isinya?" tanya Andini.
"Oh itu, hadiah dari calon menantu," jawab Angga sambil pergi meninggalkan ibunya karena sudah merasa aman. Sedangkan ibunya dibuat shock dengan isi dari kotak itu. Ternyata sebuah kue brownies kesukaannya. Dan saat ia cicipi, rasanya sangat tidak asing. Rasanya sama persis dengan kue brownies yang selalu ia beli. Andini terdiam sejenak, kemudian ia seperti mengingat sesuatu. Oh tidak jangan-jangan....
*
*
*
"Angga, kue brownies itu dari siapa?" tanya Andini dengan tatapan menyelidik pada anaknya yang sedang makan malam. Arman sang ayah pun jadi ikut-ikutan mengintimidasi anaknya.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu? Kuenya tidak beracun kan?" tanya Angga penasaran, ia takut jika Tasya meracuninya karena mereka sering bertengkar di kantor.
"Sama sekali tidak, kuenya sangat enak," jawab Andini.
"Lalu." Angga masih penasaran dengan sikap ibunya yang terlihat aneh sejak ia pulang kerja tadi
"Ibu tanya dari siapa?"
"Aku sudah bilang itu dari calon menantu," jawab Angga asal sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Isshhh, anak ini. Kau bilang tadi ibunya calon menantu jualan kan. Tolong minta kan nomornya, ibu mau pesan kuenya sangat enak," ucap Andini. Angga seketika melihat wajah ibunya yang terlihat senang. Sepertinya ia memang sangat menyukai kue itu.
"Baiklah, nanti aku minta kan nomornya soalnya aku tidak tahu," jawab Angga.
"Baiklah, ibu tunggunya. Ibu mau pesan kuenya, sekaligus mau pesan anaknya," gumamnya dia akhir kalimat. Untung saja makhluk acuh ini tidak mendengarnya.
Setelah makan malam, Angga pun mengirimkan pesan pada Tasya, nomor ponselnya Angga ambil di grup kantor. Jadi ia tidak perlu susah-susah mencari nomor Tasya.
[Berikan nomor ibumu, ibuku mau memesan kue ibumu. Katanya rasa kuenya sangat enak] Bahkan pesan chat pun ia kirimkan tanpa basa basi.
[Siapa ini?] balas Tasya.
[Orang paling tampan di kantor setelah pak CEO] jawab Angga. Di seberang sana, Tasya hanya berdecih, sangat menyebalkan orang ini pikirnya.
[Baiklah, tunggu sebentar] Tasya.
Tak lama setelah itu, Tasya pun mengirimkan nomor ibunya pada Angga. Ia tidak curiga apapun. Ia senang jika ada yang menyukai kue buatan ibunya. Itu berarti usahanya akan berjalan lancar jika banyak yang menyukainya.
Namun, setelah Tasya mengirimkan nomornya. Angga bahkan tidak mengucapkan terima kasih padanya. Membuat Tasya merasa sebal pada pria yang terkenal sangat cuek ini. Tasya pun kemudian mengirimkan pesan pada Angga.
[Terima kasih ya] sindirnya. Tak lama pesannya langsung di balas oleh Angga.
[Sama-sama] Angga.
"Dia bahkan tidak merasa tersindir, dasar menyebalkan," gumamnya.
Tasya tidak percaya dengan jawaban pesan yang ia terima, sungguh pria ini memang sangat menyebalkan pikirnya. Ia pun tidak mau membalas pesan Angga lagi dan memilih untuk menonton film kesukaannya.
__ADS_1
*
*
*
Di rumahnya, Angga masih berkumpul dengan keluarganya untuk minum teh di temani dengan kue pemberian calon menantu.
"Angga, kapan kau akan melepas masa lajangmu?" tanya Arman pada putra sulungnya ini.
"Nanti saja," jawabnya cuek.
"Nanti ... Nanti, nanti tunggu kau jadi perjaka tua. Tunggu sampai pisangmu itu keriput sampai tidak ada yang mau," ucap Andini tanpa saringan.
"Astaga, Ibu kau sangat jahat pada anakmu yang tampan ini," jawab Angga tidak terima.
"Makanya menikah," Andini mendelik.
"Dengan siapa?" tanya Angga.
"Dengan calon menantu!!!" jawab Arman dan Andini bersamaan.
"Astaga, kenapa aku mempunyai orang tua seperti mereka," gumam Angga.
****
Vote nya mana niihh 🤗 kalau like sama komennya nambah nanti Mimin up lagi 💃💃💃
__ADS_1
Votenya keluarin dong sama bunganya juga, buat tambahan imun 😌