
Untuk pertama kalinya Angga dan Tasya pergi ke kantor bersama, dan pastinya mereka menjadi bulan-bulanan teman-teman yang lainnya. Karena mereka uang asalnya selalu berdebat kini menikah dan menjadi pasangan suami istri l.
"Ternyata benar ya, jika asalnya selalu bertengkar dan membenci, maka mereka akan berjodoh," ucap Romi rekan Sandi. Dan teman-teman yang lain pun mengiyakan. Tasya merasa malu karena terus menerus menjadi guyonan di kantor. Berbeda dengan Angga yang cuek dan tidak peduli terhadap omongan-omongan mereka.
Sikap Angga sangat berbeda jika di kantor dan di rumah, mereka tidak akan menyangka jika orang yang terlihat jarang bicara ini ternyata sangatlah mesum.
"Tasya, apa di rumah Angga sangat cuek padamu?" tanya Mira. Tasya langsung melihat ke arah Mira.
"Cuek apa, dia bahkan tidak bisa diam sangat cerewet dan juga ... " Tasya langsung terdiam ia tidak mungkin mengatakan kepada orang lain jika suaminya sangat mesum. Bahkan baru satu hari mereka menikah dan Angga sudah empat kali mengajaknya main ehem-ehem dengan durasi yang lama. Dan tentu saja itu membuat Tasya sangat kelelahan.
"Juga apa?" tanya Mira penasaran.
"Dia juga sangat banyak bicara, entahlah dia itu sangat aneh. Tapi meskipun begitu dia pria yang baik," ucap Tasya. Ia ingat betul bagaimana Angga sangat perhatian saat Tasya merasa kesakitan karena pertama kali melakukannya. Dengan telaten ia membantu Tasya bahkan ke kamar mandi pun Tasya di gendong olehnya. Saat makan Angga lah yang mengambilkannya.
"Bukankah dia memang pria yang sangat baik, dia adalah orang yang sangat peduli terhadap keluarga apalagi pada adiknya. Namun, sejak adiknya menikah dengan Pak Abi ia jadi tidak pernah memanjakannya lagi karena tugasnya sudah beralih pada suaminya." ucap Mira.
Tasya memang belum terlalu lama mengenal Angga, karena yang ia kenal adalah Abi dulu. Tasya menaruh hati pada Abi hingga ia melamar pekerjaan di kantornya ini. Namun, ternyata Angga tidak rela jika suami sang adik diganggu olehnya. Dan disitulah awal mula Tasya dan Angga selalu bertengkar. Tasya jadi tersenyum mengingat hal itu.
Hingga waktunya makan siang tiba, Angga masih terlihat cuek dan tidak mengajaknya makan itu membuat Tasya kesal. "Awas saja jika nanti malam kau meminta, aku akan mengunci pabrik milikku rapat-rapat," gumam Tasya kesal.
__ADS_1
Namun baru saja Tasya akan beranjak makan, ponsel miliknya berbunyi. Dan saat Tasya melihatnya itu adalah pesan dari Angga.
"Shincan kemarilah makanan untukmu sudah aku pesankan," ~ Angga.
Melihat pesan yang dikirimkan oleh Angga, ia menjadi sangat senang. Ternyata ia pergi duluan karena memang ia ingin memesan makanan duluan untuknya, betapa manisnya suaminya itu. Marsha pun segera membalas pesan dari Angga.
"Baiklah ... " ~ Tasya.
"Baiklah, karena kau sudah sangat baik padaku maka aku akan membuka pabrik milikku lebar-lebar," gumam Tasya sangat senang dan pergi menuju kantin.
*
*
*
"Sayang, apa kau belum menginginkan sesuatu?" tanya Abi, hari ini Aira juga tidak kuliah karena Abi melarangnya. Ia takut terjadi sesuatu kepada istrinya ini.
"Belum Kak, aku tidak ingin apa-apa sekarang," jawab Aira sambil menonton drama kesukaannya.
__ADS_1
"Hei, kenapa kau menonton film seperti itu?" tanya Abi.
"Bukankah setiap hari aku selalu menontonnya, kenapa sekarang tidak boleh?" tanya Aira.
"Karena sekarang kau sedang hamil, aku takut nanti jika anakku nanti akan mirip dengan para pria dari negeri ginseng itu," jawab Abi.
"Oh ya ampun, itu tidak mungkin Kak Abi ini sangat aneh," Menurut Aira pikiran Abi ini sangatlah konyol. Mana mungkin gara-gara menonton drama maka anaknya ini akan mirip dengan mereka.
"Hei aku takut tahu! Pokoknya anakku harus mirip denganku!" ucapnya dengan kekeuh.
"Ishhh, tentu saja anakku ini akan mirip denganmu tidak mungkin mirip tetangga. Lagipula aku mencetaknya hanya denganmu kan, jadi kenapa kau harus khawatir," ketus Aira kesal.
"Benar juga, aku yang menanamnya bukan orang lain. Jadi aku tidak perlu khawatir. Kalau begitu ayo ... " aja Abi.
"Ayo kemana?" tanya Aira, karena kini ia sedang menikmati waktu siangnya di taman belakang rumah Abi yang sangat nyaman.
"Kita ke kamar, aku ingin menjenguk anakku sekarang," ucap Abi dengan sangat bersemangat
"Apa! Oh ya ampun ..."
__ADS_1