
Kandungan Aira kini sudah berjalan menginjak usia empat bulan, perutnya sudah terlihat sedikit membuncit. Abi sangat bahagia melihatnya karena itu tandanya pertemuan dengan calon anaknya akan semakin dekat. Tidak perlu diwakilkan lagi oleh gagang sapu premiumnya jika ingin menengok calon anaknya itu.
"Aira, sejak hamil kau terlihat semakin cantik," jujur Abi, karena memang sejak tahu istrinya itu sedang hamil Aira memang terlihat sangat cantik walaupun tanpa riasan.
"Benarkah? Oh ya ampun aku jadi malu," jawab Aira sambil menutup wajahnya.
"Tentu saja benar, untuk apa aku berbohong. Aku adalah suami yang sangat jujur," ucap Abi kemudian mengecup kening dan juga bibir Aira.
"Terima kasih, Kak. Oh ya, tapi kenapa aku tidak boleh kuliah lagi. Padahal banyak yang sedang hamil tapi mereka kuliah dan mereka baik-baik saja." Aira menyandarkan kepalanya di dada bidang Abi sambil bermain-main disana.
"Aku yakin kalau kau juga akan kuat dan baik-baik saja, tapi masih ada yang aku khawatirkan." ucap Abi.
"Apa itu?" Aira masih betah bermanja-manja di dada bidang suaminya sambil sesekali menciumnya hingga membuat Abi merinding saja.
"Disana ada Sultan si anak Sultan, aku tidak mau dia terus mendekatimu apalagi mengganggumu yang terlihat semakin cantik dan menggemaskan. Aku tidak rela," ucap Abi semakin memeluk Aira dengan erat. Aira tersenyum mendengarnya ternyata suaminya ini memang sangat mencintainya dan ia merasa sangat beruntung.
"Oh aku pikir karena Kak Abi takut kalau ... "
"Aku takut anak kita mirip dengannya, menurut pepatah jaman dulu jika kita tidak menyukai seseorang disaat istri sedang hamil maupun istrinya yang juga sama tidak menyukainya. Maka bayi itu akan mirip dengan orang tidak kita sukai," potong Abi, Aira mencebikkan bibirnya.
"Sudah ku dugong, Kak Abi akan mengatakan hal itu," Aira mencebikkan bibirnya
"Aku hanya berjaga-jaga saja sayang, aku tidak mau anak kita mirip orang lain," jawaban yang membuat Aira geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Berarti aku juga harus membenci Kak Abi, kalau aku ingin anak kita ini mirip denganmu," Aira tertawa melihat mimik wajah Abi yang mulai berubah aneh.
"Tidak bisa begitu, kau harus sangat-sangat mencintaiku karena aku juga sangat mencintaimu," ucap Abi dan kemudian menidurkan Aira perlahan. Aira yang terkejut langsung menahan tubuh Abi dengan tangannya.
"Kak Abi kau mau apa?" tanya Aira yang kini sudah di kungkung olehnya.
"Aku mau mengajak bermain cilukba anakku,"
"Isshh, bukannya kau akan berangkat kerja sekarang?" Aira mendorong perlahan tubuh kekar Abi. Aira sudah mandi dan ia tidak mau mandi lagi, kalau Abi sampai mengajaknya ehem-ehem sekarang.
"Berangkat bekerja bisa nanti sayang, aku mau ya ... " rengek Abi.
"Kenapa kau selalu saja mau, apa Kak Abi tidak pernah lelah,"
*
*
*
"Mas Angga, pakaianmu sudah aku siapkan," ucap Tasya sambil menyimpan pakaian Angga yang akan ia pakai kerja hari ini. Sebutan untuk Angga ia rubah karena permintaan Angga, ia ingin dipanggil Mas oleh Tasya.
"Iya, terima kasih," jawab Angga.
__ADS_1
"Kenapa wajahmu pucat?" tanya Angga, Tasya pun kemudian memegang wajahnya dan melihat ke arah cermin.
"Emmmm, mungkin karena aku belum berdandan jadi terlihat pucat," jawab Tasya.
"Benarkah?" Angga pun mulai mendekati Tasya dan melihat Tasya dengan jarak yang sangat dekat. Lalu kemudian Angga tiba-tiba mengecup bibir Tasya dan mengecap rasa manisnya. Angga tersenyum dan mem u k u l dada Angga perlahan.
"Dasar modus,"
"Aku selalu ingin menciummu, memangnya tidak boleh?"
"Tentu saja boleh, kau kan suamiku," jawab Tasya sambil pergi dan akan menyiapkan barang-barangnya juga yang akan ia bawa kerja. Namun, Angga malah menariknya hingga Tasya kini duduk dipangkuannya.
"Masss ... ini udah siang loh,:
"Bos nya adik iparku, jadi tenang saja dia tidak akan memecatku," Tasya tertawa mendengarnya.
"Kamu mau apa sihh?" tanya Tasya pada Angga yang kini malah membuka kancing kemejanya hingga memperlihatkan buah mangga ranum miliknya.
"Aku mau sarapan sebentar," jawab Angga kemudian menenggelamkan kepalanya disana dan meminum sumber energinya itu.
"Oh ya ampun," Ada yang aneh saat Angga menyentuhnya karena dua asetnya terasa ngilu saat Angga memainkannya. Tidak seperti biasanya, ini sangat aneh menurut Tasya.
'Kenapa sakit ya, apa karena Angga terlalu sering menyentuh dan meminumnya,' gumam Tasya dalam hati. Ia meringis akan tetapi juga menikmati.
__ADS_1