
Setelah Andini menutup pintu kamar Tasya langsung mendorong Angga. Dan ia langsung berdiri dan menatap Angga dengan perasaan kesal sekaligus malu.
"Lain kali jangan begitu, kau membuatku malu," ucap Tasya kesal.
"Kenapa harus malu, ayo kita ulangi lagi," ajak Angga.
"S-sebaiknya kau mandi dulu," ucap Tasya.
"Benar juga, lebih baik aku mandi dulu setelah itu kita akan menyelam," jawab Angga sambil tertawa dan pergi meninggalkan Tasya sendiri di kamar. Tasya pun bernapas lega saat Angga pergi ke kamar mandi. Karena jujur saja, sebenarnya ia belum siap untuk melakukan ritual mantap-mantap dengan Angga. Namun, ia kini sudah menjadi istri sah nya tidak mungkin jika Tasya menolaknya, bukan.
"Sebaiknya, aku tidur duluan," ucap Tasya, kemudian ia naik ke kasur dan bergulung dengan selimut. Berharap Angga tidak meminta hak nya malam ini.
Setelah tiga puluh menit menghabiskan waktu di kamar mandi, Angga pun keluar dengan wajah dan tubuh yang terasa segar. "Wahh, tenagaku sudah pulih. Sepertinya aku akan kuat sampai pagi," gumamnya. Setelah itu Angga pun keluar dari kamar mandi dan melihat Tasya sudah tidur. Angga berdecak sebal melihatnya.
"Eh, tunggu dulu. Abi bilang walaupun sedang tidur lakukan saja. Karena justru jika saat sedang tidur, aku bisa melakukan apapun padanya," gumam Angga.
"Tidak sia-sia kau menjadi adik iparku," Angga pun kemudian naik ke atas kasurnya. Angga melihat jika Tasya memang sudah tertidur, napasnya teratur dan terdengar dengkuran halus dari bibirnya. Sangat lucu, pikir Angga.
"Ternyata gadis galak ini cantik juga, tidak ... dia sudah bukan gadis lagi, dan tidak lama lagi dia akan menjadi mantan perawan." Angga terkikik geli. Namun, melihatnya tidur nyenyak Angga menjadi tidak tega, karena Tasya pasti sangat kelelahan setelah acara pernikahannya tadi.
Angga pun kemudian menarik tubuh Tasya, dan mendekapnya di dadanya yang tidak terhalang apapun. "Kau sudah menjadi istriku, perempuan cerewet. Jika kau macam-macam maka aku akan membungkam mu dengan caraku," gumam Angga tersenyum. Sedangkan Tasya, ia tak sengaja terbangun saat Angga menarik tubuhnya dan mendekapnya.
__ADS_1
Jantungnya berdegup sangat kencang saat Angga menempelkan wajahnya di dadanya yang tak terhalang apapun. Akan tetapi, jika ia bangun sudah pasti Angga akan meminta haknya sekarang, dan ia belum siap. Jujur Saja Tasya merasa sangat malu jika semua yang ada dalam dirinya akan dilihat oleh musuhnya. Jadi sebaiknya ia tidur saja, lagipula pelukan Angga ini terasa sangat hangat dan nyaman. Keduanya tertidur dengan bibir tersenyum.
*
*
*
Pagi pertama Tasya di rumah Angga, ia dengan cepat bangun untuk membantu ibu mertuanya menyiapkan sarapan, ia tidak boleh menjadi menantu yang pemalas. Meskipun matanya masih sangat mengantuk, begitu pun pelukan Angga yang sangat membuatnya semakin malas untuk bangun. Tetapi, ia harus tetap terbangun. Walaupun sebenarnya Andini tidak mempermasalahkannya, ia buka tipe mertua cerewet. Tapi ia adalah mertua yang sangat menyayangi menantunya seperti anak sendiri.
"Pagi, Bu," sapa Tasya, ia baru saja selesai mandi. Rambutnya juga terlihat basah, Angga pasti sudah ehem-ehem semalam dengannya, pikir Andini.
"Pagi, kenapa sudah bangun?" tanya Andini.
"Oh ya ampun, kau memang menantu teladan. Tapi ibu sama sekali tidak masalah Tasya, apalagi semalam kau pasti kelelahan," jawab Andini. Tasya merasa malu, karena dianggap sudah aye-aye dengan anaknya. Namun, yang sebenarnya adalah mereka berdua tertidur sambil berpelukan. Dan mengingat hal itu Tasya menjadi malu, karena sudah sangat nyenyak di pelukan suaminya..
.
"Tidak apa-apa, Bu," jawab Tasya tersenyum, tidak mungkin ia mengatakan kepada mertuanya jika mereka gagal unboxing karena Angga lupa menutup pintu.
Setelah berkutat di dapur selama kurang lebih 30 menit Tasya pun kembali ke kamarnya untuk membangunkan Angga. Namun, saat sampai di kamar ternyata Angga sudah tidak berada di tempat tidurnya mungkin ia sedang berada di kamar mandi pikir Tasya.
__ADS_1
Tasya pun kemudian duduk sejenak di atas kasur dan mengambil ponselnya serta melihat beberapa pesan yang masuk di sana, dan ternyata hanya ada pesan grup saja yang ramah selebihnya tidak ada pesan yang masuk di ponselnya.
Baru saja Tasya akan menyimpan ponselnya, tiba-tiba Angga memeluknya dari belakang. Wangi aroma sabun begitu menguar di indra penciumannya.
"A-Angga,"
"Kenapa kau kabur, aku bahkan belum sempat menyentuhmu dan kau sudah pergi begitu saja," ucap Angga.
"Aku membantu Ibumu memasak, memangnya kenapa?"
"Kau bertanya kenapa? Hei Shincan, kau sekarang itu istriku. Aku juga mau mantap-mantap denganmu. Dan kau malah kabur begitu saja," ucap Angga masih dengan posisi memeluk Tasya.
"Ishhh kau ini, apa kau tidak bisa bicara dengan nada yang lebih enak didengar," ketus Tasya.
"Tidak bisa!" jawab Angga.
"Kau memang suami yang sangat menyebalkan dan tidak romantis, kau..... emmmmppttt," Angga membungkam bibir Tasya dengan bibirnya. Hingga Tasya terbelalak dengan sikap Angga yang tiba-tiba menciumnya.
'Ternyata bibir cerewet ini rasanya sangat manis,' batin Angga.
'Astaga jantungku,' batin Tasya
__ADS_1
****
Dukungannya mana nihhh 💃💃💃💃