
"Jangan bicara sembarangan! Banyak gadis yang ingin menjadi kekasihku, tapi aku adalah pria yang sangat pemilih. Hatiku tidak mudah tergoda oleh wanita," jawab Sultan tidak terima disebut pria tidak laku oleh Abi.
"Kau pikir aku percaya, sama sekali tidak! Berhentilah berbohong aku tahu jika pria sepertimu itu tidak punya banyak penggemar." Ucap Abi sambil membereskan barang-barangnya Aira dan memasukannya ke dalam tas. Serta memapah perlahan.
"Terserah kalau kau tidak percaya," ucap Sultan.
"Aku tidak percaya dan aku tidak perduli, jangan memaksa orang untuk percaya padamu kalau banyak gadis yang memujamu, jika pada kenyataannya kau masih saja sendiri dan tetap menjadi seorang jomblo abadi." ujarnya tanpa mempedulikan wajah Sultan yang kian mematang dan berwarna merah karena merasa kesal
Melihat istrinya yang lemas, Abi pun menggendong Aira dan menjinjing tas nya. "Dasar jomblo," ejek Abi sambil pergi melewati Sultan, yang terlihat sangat kesal.
"Astaga, dia pria tapi mulutnya sangat menyebalkan," ucap Sultan.
****
Abi dengan segera membawa Aira ke rumah sakit, ia takut terjadi sesuatu sesuatu pada istrinya. Kenapa istrinya tiba-tiba lemas seperti ini, padahal semalam ia tidak menggunakan tenaga luar biasa hanya menggunakan separuh tenaganya saja saat bertempur.
Sesampainya di rumah sakit, Aira langsung dibawa untuk diperiksa. Dokter juga menanyakan apa saja keluhan-keluhan Aira, dan apa yang Aira rasakan selama ini.
"Jadi bagaimana dokter, istriku tidak kenapa-kenapa, kan?" tanya Abian khawatir. Karena bahkan sekarang Aira masih terkulai lemas. Dokter tersenyum ke arah Abi.
"Anda tidak perlu khawatir Tuan, Nona Aira tidak mengalami sakit apapun. Namun, Nona Aira kini tengah hamil. Dan usia kandungannya masih sekitar enam minggu. Dan gejala yang Nona Aira alami. Itu adalah gejala normal yang dirasakan oleh semua ibu di awal-awal kehamilan," jawab dokter.
"Oh jadi istriku tidak sakit ya, dan dia hanya hamil saja." ucap Abi, sepertinya otak Abian saat ini belum konek. Namun, beberapa detik kemudian ia melihat dokter itu dengan terkejut.
"Eh tunggu dulu, dokter kau bilang istriku hamil? Berarti dia sedang mengandung anakku? Abi bertanya dengan sangat antusias.
__ADS_1
"Iya Tuan, istri anda sedang hamil dan sedang mengandung anak anda," jawab dokter itu sangat ramah.
"Oh ya ampun aku akan jadi ayah, astaga ternyata aku sangat hebat. Tidak sia-sia usahaku setiap malam dan anakku, anakku pasti akan bangga padaku. Karena ia mempunyai Papa yang tampan sepertiku,", ucap Abian antusias, melihat reaksi Abi dokter hanya tersenyum saja karena baru kali ini ia melihat seorang calon ayah yang agak aneh menurutnya.
*
*
*
Karena Aira sedang hamil Abi langsung membawanya ke rumah utama, agar banyak orang yang membantunya nanti jika ia sedang bekerja. Dan kali ini tidak ada tawar-menawar lagi, keputusan Abi sudah mutlak ia ingin menjaga anak dan istrinya dengan sangat baik.
Awalnya Aira menolak. Namun, demi kenyamanan dirinya dan juga calon anaknya akhirnya Aira pun menurut untuk tinggal di rumah utama milik Abi. Dimana rumah itu sangat besar dan juga penuh dengan pelayanan yang akan melayaninya nanti.
"Dan sekarang istirahatlah sayangku, aku tidak ingin kau kelelahan," ucap Abi sambil menidurkan Aira di ranjang kini size miliknya yang sudah lama tidak ia tempati.
"Iya, terima kasih Kak,"
"Sama-sama sayang," Abi pun mengecup kening Aira.
Demi apapun Abi sangat bahagia karena akhirnya istrinya hamil, ia sudah membayangkan jika ia akan menggendong bayinya nanti. Dan ia sudah tidak sabar untuk itu. Begitu pun dengan Aira, ia juga merasa bahagia bisa mengandung anak dari pria yang sangat ia cintai. Ia akan menuruti semua ucapan Abi demi anak yang ada di dalam kandungannya.
Abi menepuk-nepuk punggung Aira perlahan dan berharap istrinya itu tertidur dam beristirahat. Tanpa memperdulikan pekerjaannya yang menumpuk, yang terpenting baginya adalah istrinya nyaman dalam pelukannya.
Setelah beberapa saat terdiam, ia baru teringat sesuatu dan kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
__ADS_1
*
*
*
Karena kelelahan setelah bertempur dua ronde bersama dengan Angga, tubuh Tasya kini terasa sangat kelelahan. Seluruh tubuhnya terasa remuk, bahkan untuk berjalan pun ia masih merasakan perih di bagian intinya. Akibat perbuatan suaminya yang ketagihan mantap-mantap, kini bahkan ia sarapan sekaligus makan siang di kamarnya. Ya, karena Angga tidak melepaskannya ia bahkan tidak sempat sarapan.
Hingga Angga tadi mendapatkan ceramah panjang kali lebar dari Andini, karena tidak membiarkan istrinya sarapan karena terus mengajaknya bertempur.
"Ini makanlah," Angga memberikan makanan yang sudah ia siapkan. Ia tidak tega melihat Tasya yang kelelahan dan kesakitan akibat serangan gagang sapunya.
"Terima kasih," jawab Tasya, ia pun langsung memakan makanannya dengan sangat lahap.
Baru saja hendak duduk, ia melihat ponselnya berbunyi dan Angga pun langsung menggeser icon berwarna hijau di ponselnya itu.
"Hallo Abi, ada apa?" tanya Angga.
[Hallo Angga, aku hanya ingin mengabarkan padamu kalau Aira kini sedang hamil]
"Apa? Wahhh selamat ya," ucap Angga ia juga merasa bahagia karena mendengar adiknya hamil itu artinya ia akan mempunyai keponakan dari adiknya itu.
[Terima kasih, Angga aku sungguh hebat kan. Aku tidak menyangka jika Aira akan hamil secepat ini. Tembakan ku berarti sangat hebat kan. Sangat tepat sasaran, ternyata aku sangat keren] ucap Abi sangat antusias, kenapa sahabatnya ini sangat menyebalkan saat memberikan kabar bahagia ini pikir Angga.
"Menggelikan," jawab Angga.
__ADS_1