
Awalnya aku merasa bahagia saat hubunganku berakhir dengan Aira. Namun lambat laun semuanya berubah, semuanya berawal saat aku pulang mengantarkan Melisa pulang ke rumahnya. Saat itu turun hujan, dan saat sampai di rumahnya aku tidak langsung pulang untuk singgah dulu sambil minum kopi panas, hitung-hitung aku menghangatkan tubuhku yang kedinginan. Dan berharap mendapatkan bonus pelukan hehe ... Memangnya siapa yang tidak mau dipeluk oleh pacar yang semlohay dan juga cantik.
Bayangan yang tidak-tidak pun kemudian muncul dalam benakku. Astaga otakku mendadak kotor saat itu, adegan peluk-pelukan sambil patuk-patukan pun singgah di otakku yang pintar ini.
Saat sedang mengkhayal yang bukan-bukan aku dikagetkan oleh suara Melisa yang baru selesai dari kamar mandi. Yang katanya tadi ia mau membersihkan diri.
Namun, alangkah terkejutnya aku saat melihat wajah Melisa yang tanpa make up itu. Wajahnya sangat berbeda jauh seratus delapan puluh derajat dari yang biasa aku lihat.
Wajahnya jauh dari kata cantik, kulit wajahnya yang penuh dengan noda warna-warni dan juga banyak rintangan yang terlihat membuat bayangan dan khayalanku dengannya tadi sirna begitu saja.
"Astaga, bagaimana bisa aku jatuh cinta pada wanita seperti itu. Sangat berbeda jauh dengan Aira, yang wajahnya sangat cantik meskipun tanpa make up.
__ADS_1
Ahh... Aira, aku jadi ingat pada mantan kekasihku yang cantik itu. Eh tidak - tidak aku tidak boleh mengingatnya. Karena sebentar lagi dia akan menikah dengan sahabat kakaknya yang biasa-biasa itu.
"Maaf ya Mas, menunggu lama," ucapnya sambil tersenyum kepadaku. Astaga mendadak melihat senyumnya aku jadi merinding. Aku jadi takut didekati oleh Melisa, jadi aku memutuskan untuk pulang saja dan sebelum pulang aku habiskan dulu kopi yang masih hangat itu. Sayang sekali jika tidak dihabiskan, karena stok kopi milikku di kost-kostan mulai sedikit lagi.
"Loh Mas, kok buru-buru sihh?" tanya Melisa, terlihat dari wajahnya Jika ia kecewa melihat kau pulang begitu saja. Mungkin awalnya Ia juga mengharapkan adegan yang tidak - tidak bersamaku seperti yang aku bayangkan tadi. Namun, sayangnya aku sudah tidak mau membayangkan apalagi melakukannya. Oh tidak ... aku tidak mau menciumnya, lebih baik aku pergi dan menyelamatkan diri dari cengkraman Melisa.
Sejak saat itu aku mulai menghindari Melisa, rasa cintaku padanya menghilang begitu saja. Awalnya rasa yang ada di hati ini sangat menggebu-gebu. Tapi kini rasa itu tidak ada bagai hilang diterpa sapu.
*
*
__ADS_1
*
Waktu terus berlalu dan hari pun terus berganti, semakin hari aku semakin merasa kesepian dan rasa terhadap mantan kekasihku pun mendadak menjadi kembali lagi. Apalagi melihat Aira yang terlihat sangat cantik, rasa cintaku kembali tumbuh padanya bahkan berlipat-lipat.
Aku sangat berharap jika Aira bercerai dari suaminya Abian yang hanya karyawan biasa itu. Bahkan ia sepertinya dia tidak pandai menabung sepertiku, maka dengan sangat yakin aku pasti akan bisa merebut Aira dari tangannya. Memangnya laki-laki seperti itu bisa apa hidupnya saja terlihat biasa-biasa saja tidak ada yang istimewa.
Aira kau harus menjadi milikku lagi...
***
Mampir di karya temen aku yukk 🤗
__ADS_1