NIKAH DADAKAN (Aira & Abian )

NIKAH DADAKAN (Aira & Abian )
Bab 62


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian perut Aira sudah mulai membesar. Semakin bahagia saja Abi melihatnya, apalagi Aira terlihat semakin cantik dan menggemaskan. Menurutnya Aira terlihat sangat lucu saat sedang hamil, membuat Abi selalu ingin menjenguk anaknya.


Namun, karena kehamilan yang sudah besar dokter melarangnya untuk jangan terlalu sering melakukan hubungan ehem-ehem. Dan tentu saja itu membuat Abian kecewa. Tapi meskipun begitu setidaknya jatah minum susunya aman, jadi ia masih bisa bernapas lega. Jika tidak, sudah dapat dipastikan jika Abi akan kehabisan tenaga karena tidak bisa mendapatkan asupan gizi.


"Aira sayang, minumlah susu ini. Agar kau dan bayi kita menjadi sehat." ucap Abi, seperti biasa jika malam sebelum tidur maka Abi akan membuatkan susu untuk Aira. Aira pun langsung mengambilnya dan segera meminumnya.


"Terima kasih, Kak."


"Minumlah, setelah kau dan bayi kita maka setelah ini giliran ku yang minum susu, ya." Abi tersenyum penuh arti pada istrinya yang sangat cantik ini. Dan tentu saja Aira pun mengerti dengan apa yang di maksud oleh Abi. Apa lagi kala bukan minum susu murni langsung dari pabriknya.


"Dasar bayi besar, selalu saja tidak pernah lupa acara minum susunya," ucap Aira.


"Aku adalah orang yang sangat mementingkan kesehatan, sayang. Kesehatan adalah yang utama bagiku, bukankah begitu Junior" ucap Abi sambil mengusap perut Aira dan juga menciumnya. Aira hanya mencebikkan bibirnya saja menanggapi ucapan suaminya.


"Kak Abi, bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Aira, sambil mengelus rambut Abi yang masih betah memeluk perutnya dan terus mengusap sambil menciuminya.


"Tentu saja sayang, apapun untukmu. Apalagi kau ini sangat jarang mengidam, kau membuatku merasa menjadi suami yang tidak berguna." Abi mengangkat kepalanya dan mengecup bibir Aira sekilas.

__ADS_1


"Aku ingin sekali makan cilok granat, pasti rasanya sangat enak," ucap Aira sambil menahan air liurnya yang hampir menetes karena membayangkan makanan berkuah pedas dengan banyak tetelan di dalamnya.


Namun, respon Abi sangat di luar dugaan. Karena ia sangat terkejut mendengar nama makanan yang baru saja ia dengar itu.


"Apa! kau ingin makan granat? Sayang, aku tahu kau sedang hamil dan mengidam. Tapi mengidamlah makanan yang normal, kenapa kau ingin makan granat. Kenapa tidak minta baso anak yatim saja, itu lebih masuk akal daripada kau meminta untuk memakan granat. Aku bahkan jadi takut jika kau nanti akan mengidam meriam juga, bagaimana cara memasaknya?" cerocos Abi, ia menggelengkan kepalanya merasa heran, kenapa permintaan istrinya ini sangatlah aneh.


Sedangkan Aira, ia sudah gemas sendiri mendengar ucapan suaminya yang selalu tidak masuk akal itu, kenapa Abi sampai berpikiran jika ia ingin memakan granat. Aira masih normal, mana mungkin bahan peledak ia makan.


"Kak Abi!" Sentak Aira sambil menatap tajam suaminya. Abi yang dipandang pun merasakan firasat buruk jika malam ini ia tidak akan mendapatkan jatah minum susunya, karena ia sedang melihat Aira sedang dalam mode kesal luar biasa.


"Kenapa sayang, jangan berteriak. Kasihan anak kita, nanti ia terkejut mendengar kau berteriak." Abi sampai memegang perut Aira dengan kedua tangannya, seperti orang yang sedang menutup telinga.


"Sayangku, tahan. Tahan emosimu, jangan marah-marah, kasihanilah anak dan suamimu ini, ya. Maafkan aku, aku tidak mengerti. Jadi ... kau mau makan apa tadi?" tanya Abi dengan lembut.


"Cilok Granat," ketus Aira. Abi menganggukan kepalanya.


"Oh ya, kalau boleh tahu makanan apa itu? Aku baru saja mendengar nama makanan yang aneh ini." tutur Abi.

__ADS_1


"Cilok iti masih saudara dengan baso, dia sama-sama bulat. Tapi cilok itu lebih licin bentuknya," jelas Aira yang sudah mulai normal bicaranya.


"Astaga, jadi makanan itu masih saudara dengan baso?" tanya Abi tidak percaya, tapi Aira menganggukan kepalanya.


"Baso itu makanan yang sangat aneh ya, dia punya anak tapi tapi tak punya ayah. Dan sekarang malah punya saudara yang bernama cilok. Lalu apa mereka juga punya tetangga?" gumam Abi merasa bingung dengan silsilah makanan berbentuk bulat itu.


"Kak Abi ... " rengek Aira.


"Iya sayang," jawab Abi.


"Kau mau membelikannya, kan?"


"Tentu saja, akan aku beli semua keluarga makanan bulat itu. Agar kau merasa senang dan anak kita juga bahagia," ucap Abi.


"Terima kasih," Aira pun langsung memeluk Abi. Namun Abi masih bingung dengan makanan yang Aira minta ini.


'Dimana aku menemukan seluruh keluarga dan tetangga makhluk bulat itu?' gumamnya dalam hati.

__ADS_1


***


Jangan diambil hati ya, ini cuma cerita ringan aja 😌. Besok hari senin jangan lupa vote ya 🤗


__ADS_2