
Setelah sarapan yang menyenangkan kini mereka pergi ke kantor kecuali Aira yang hanya tinggal di rumah dan duduk manis saja. Namun, hari ini Aira berencana untuk pergi ke rumah ibunya karena sudah lama ia tidak bertemu dan Ia pun sangat merindukannya.
Setelah mengantarkan Aira ke rumah mertuanya Abi pun pergi ke kantor untuk bekerja. Begitu pun dengan Angga yang baru saja berangkat bekerja dengan Tasya.
Di kantor
Tasya merasa kepalanya sangat pusing dan juga sangat kedinginan, ia ingin mematikan AC yang ada disana tapi itu tidak mungkin ia lakukan karena di ruangan itu bukan hanya ada dirinya saja yang bekerja, tetapi juga karyawan lainnya.
Tasya ingin sekali kembali pulang ke tempat rumah dan tidur saja, ia benar-benar merasa sangat tidak nyaman. Namun, itu tidak ia lakukan karena ia baru saja sampai ke kantor mana mungkin ia harus pulang lagi pikirnya lagi. Jadi ia mencoba untuk menahannya saja, dan mungkin nanti jam istirahat ia akan meminta ijin untuk pulang.
Setelah berkutat selama dua jam, rasa pusingnya tidak juga hilang. Saat melihat berkas yang ada ditangannya ia kembali merasa pusing, tapi ia harus ke ruangan Abi untuk meminta tanda tangannya. Agar semua pekerjaannya bisa beres.
Dengan perlahan Tasya pun pergi ke ruangan Abi, setelah mengetuk pintu. Abi pun mempersilahkan Tasya masuk, akan tetapi saat melihat wajah Tasya Abi merasa ada yang tidak beres. Jadi Abi pun memutuskan untuk bertanya.
"Kakak ipar, kenapa wajahmu sangat pucat? Apa kau sakit?" tanya Abi.
"Aku tidak tahu, tapi kepalaku pusing sekali," jawab Tasya.
"Ya sudah, duduk saja disana dulu. Aku akan menelepon Angga sebentar," Tasya pun menurut dan duduk di sofa yang ada di ruangan Abi. Abi , kemudian mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Angga untuk menemuinya di ruangannya.
__ADS_1
"Cepat ke ruangan ku sekarang, Kakak ipar," setelah itu Abi langsung memutus panggilannya begitu saja tanpa mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh Angga.
Setelah mendapat panggilan dari Abi, Angga pun langsung masuk ke ruangan Abi.
"Ada apa, aku sedang sibuk kenapa meneleponku?" tanya Angga pada Abi.
"Itu lihatlah Istrimu sedang sakit, kau harus menjadi suami yang bertanggung jawab, bukan cuma mau enaknya saja," jawab Abi.
"Aku ini suami yang bertanggung jawab, jika nanti Tasya hamil maka aku dengan senang hati akan bertanggung jawab!" jawab Angga tidak mau kalah
"Woooww, kau sangat keren!" Abi sampai geleng-geleng kepala dibuatnya. Namun, kemudian ia melanjutkan lagi ucapannya yang belum selesai itu.
"Diam kau!"
"Tasya, apa kau sakit? Padahal tadi pagi aku hanya minum susu saja tapi kenapa kau sangat lemas?" tanya Angga, untung saja Abi tidak mendengarnya karena Angga hanya berbisik di telinga Tasya. Ia tidak mau ketahuan oleh adik ipar durjananya kalau ia sangat suka minum susu setiap hari pagi siang dan malam, eh tidak ... jika siang Angga tidak bisa melakukannya karena ia harus bekerja, kecuali hari libur. Maka Angga akan selalu meminta jatah mantap-mantapnya siang hari juga. Sudah seperti minum obat saja tiga kali sehari.
"Mas, antarkan aku pulang ya," ajak Tasya, Angga pun mengangguk dan langsung menggendong Tasya untuk membawanya pulang.
"Hei Kakak ipar, bawa istrimu berobat dulu jangan dulu kau bawa masuk ke kamar!" ucap Abi.
__ADS_1
"Cerewet! Apa kau ingin aku pecat sebagai adik ipar?"
"Kalau aku dipecat kasihan adik dan keponakanmu, dasar kejam!" gerutu Abi. Setelah itu ia melanjutkan lagi pekerjaannya.
Angga pun memutuskan untuk pulang saja ke rumah karena Tasya bersikukuh untuk tidak mau pergi ke dokter dan ingin langsung ke rumah untuk beristirahat. Kepalanya sudah terasa sangat pusing sejak tadi katanya. aku tidak tega dan menuruti keinginan Tasya untuk pulang.
Sesampainya di rumah Aira dan Andini melihat Angga menggendong Tasya ke kamarnya, mereka pun penasaran dan langsung mengikuti Angga.
"Angga, kau apakan menantuku?" tanya Andini.
"Apa kakak ipar sakit?" tanya Aira.
"Iya, dia sakit kepalanya pusing dan tubuhnya lemas. Jadi aku mengantarnya untuk pulang." jawab Angga sambil menyelimuti Tasya yang sedari tadi memejamkan matanya.
"Semua ini pasti gara-gara kamu, dasar anak nakal!" ketus Andini.
"Apa! Kenapa Ibu menyalahkan aku?" tunjuk Angga dirinya sendiri. Andini marah berjejak sebal melihat wajah putranya itu.
" Memangnya mau menyalahkan siapa, kau yang setiap hari mengajaknya bercocok tanam! Dasar gagang sapumu itu memang gatal!"
__ADS_1
"Astaga ... !"