
"Bu, sarapanku dibawa saja ke kantor. Hari ini pekerjaanku banyak sekali" ucap Angga pagi itu.
"Ya sudah, tunggu," jawab Andini, wanita yang masih terlihat sangat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi. Andini pun dengan cepat menyiapkan makanan yang akan dibawa oleh Angga. Setelah semuanya siap, Andini pun memberikannya kepada Angga.
"Nih, makanannya," ucap Andini sambil menaruh kotak makanannya di meja.
"Kenapa ada dua Bu, ?" tanya Angga yang mengernyit heran karena ibunya memberikan dua kotak makanan padanya.
"Berikan saja untuk calon menantu ibu, mungkin dia belum sarapan," jawab Andini, Angga pun mengambil dua kotak makanan itu. Biar saja nanti ia akan memberikannya pada Abi. Memangnya calon menantu dari mana. Pacar saja Angga tidak punya pikirnya, ibunya ini memang aneh.
"Aku tidak punya pacar Bu, pacar darimana? Ya sudah makanan ini untuk Abian saja. Menantu Ibu satu-satunya," jawab Angga.
"Sampai kapan pun, kamu itu tidak akan punya pacar kalau kamu tidak mencarinya. Cepat cari pacar sana, eh salah maksudnya calon istri. Memangnya kamu mau menjadi perjaka tua?" pertanyaan yang sangat menusuk hati, Angga masih muda dan juga sangat tampan. Kenapa ibunya malah menakutinya menjadi perjaka tua.
"Enak saja, aku ini masih muda, gagah dan juga tampan masih jauh menjadi perjaka tua," bantah Angga.
"Makanya jangan didekati," balas ibunya tidak mau kalah, sudahlah berdebat masalah tentang kekasih dengan ibunya tidak akan menemukan titik. Lebih baik sudahi saja, pikir Angga.
"Ya sudah, kalau begitu Angga pamit dulu, Bu," pamitnya.
"Iya hati-hati, jangan lupa itu makanannya berikan pada calon menantu ibu," ucapnya lagi.
"Astaga, ibuku mulai berhalusinasi," gumam Angga perlahan. Dia segera pergi meninggalkan ibunya, takut jika pembahasannya semakin melebar. Angga takut setelah ibunya memintanya untuk mencari calon menantu. Permintaannya akan melebar, menjadi mencari calon mertua. Astaga, kepala Angga bisa sakit dibuatnya, bagaimana ia bisa mencari calon mertua jika calon istrinya saja ia belum punya.
__ADS_1
*
*
*
Pagi ini kantor terlihat sudah banyak orang, mereka pasti sama seperti Angga yang mempunyai banyak pekerjaan yang harus segera ia selesaikan. Para pedagang yang tak jauh dari kawasan kantor pun terlihat ramai, banyak orang yang membeli makanan untuk sarapan. Melihat hal itu Angga hanya tersenyum saja, karena sarapannya pagi ini sudah aman. Ia membawa bekal dari sang ibu tercinta.
Dengan cepat Angga pun melangkahkan kakinya karena ingin segera masuk ke dalam kantor untuk segera sarapan, eh tidak maksudnya sarapan sambil bekerja. Namun, karena tidak hati-hati. Angga menabrak seseorang hingga makanan yang orang itu bawa jatuh berantakan. Dan yang lebih mirisnya lagi, telurnya menggelinding jatuh dan terinjak oleh sepatu Angga.
"Aaarrrgghhhh, ya ampun sarapan aku," ucapnya dengan sedih. Angga pun sama terkejut, apalagi saat melihat sepatunya yang baru ia beli seminggu yang lalu harus terkena injakan telur balado yang bulat sempurna.
"Astaga sepatuku!" Angga terkejut, karena melihat sepatunya yang tadinya mengkilap menjadi sangat kotor dan fiuuhhh. Sangat tidak enak dipandang.
"Kalau berjalan itu pakai mata! lihatlah sarapanku hancur semua. Sia-sia sudah dari tadi aku mengantri. Karena sarapanku menjadi milik sepatumu!" kesal Tasya.
"Sudah salah malah memarahi orang!" Tasya kesal dan pergi sambil menghentakkan kakinya.
"Nasib sepatuku lebih tragis dibandingkan dengan sarapan mu!" teriak Angga. Angga pun berdecak sebal di saat sedang terburu-buru, ia malah mendapatkan masalah. Karena tidak mau ambil pusing di awal harinya ini. Angga pun meminta cleaning servis untuk membantu membersihkan makanan yang berserakan. Serta meminta cleaning servis itu untuk membantunya membersikan sepatunya yang kotor. Dengan imbalan seimbang tentunya.
Setelah itu ia masuk ke dalam kantor tanpa menggunakan sepatu dan hanya menggunakan kaos kaki saja. Dengan percaya dirinya pria tampan itu masuk ke dalam kantor hanya dengan menggunakan kaos kaki saja tanpa sepatu.
"Gara-gara gadis itu, ketampananku jadi berkurang. Ah dasar memang sial," gumamnya.
__ADS_1
Saat sedang berjalan menuju meja kerjanya, Angga melewati meja kerja Tasya. Gadis itu terlihat sedang menggerutu kesal karena sarapannya hancur berantakan. Padahal kini perutnya sedang sangat lapar, karena semalam ia melewatkan makan malamnya. Ingin membeli lagi ia malas mengantri, para OB juga sedang sibuk dengan pekerjaannya. Tasya menjadi sungkan untuk meminta tolong pada mereka.
Tasya terkejut saat ada seseorang yang menyimpan kotak makanan dihadapannya. Sebuah kotak makanan kesayangannya para ibu rumah tangga. Tasya pun melihat ke arah orang yang memberikan kotak makan itu, dan ternyata orang itu adalah Angga. Sangat lucu sekali, seorang pria gagah membawa dua kotak makanan berwarna pink. Ingin tertawa tapi ia lebih heran. Kenapa Angga memberikan kotak itu padanya.
"Apa ini?" tanya Tasya.
"Apa kau buta, itu kotak makanan bukan kotak Pandora,"
"Aku tahu, tapi ini untuk apa dan untuk siapa?" Angga malah berdecak kesal mendengar pertanyaan bodoh Tasya.
"Itu sarapan untukmu," jelas Angga.
"Untukku? Dari siapa?" tanya Tasya.
"Dari calon Mamah mertua," jawab Angga sambil terbahak mengingat ucapan ibunya yang mengatakan jika makanan itu untuk calon menantunya.
"Apa?" Namun, Angga tidak memperdulikan pertanyaan Tasya, ia malah pergi meninggalkan Tasya dengan berbagai pertanyaan dibenaknya. Tapi sejenak ia berhenti melangkahkan kakinya, dan kembali ke meja kerjanya Tasya.
Pria tanpa sepatu itu menghampirinya lagi," Ada apa?" tanya Tasya. Ia bahkan lupa untuk mengucapkan terimakasih pada Angga karena sudah memberikannya sarapan. Ia masih belum bisa mencerna ucapan Angga.
"Jika sudah habis, kembalikan kotak makan itu padaku. Karena Mamah mertua akan marah jika kotak makan kesayangannya hilang," ucap Angga, kemudian ia pun pergi lagi meninggalkan Tasya dengan keheranannya.
"Apa! Astaga, dia itu kenapa. Siapa mamah mertua?" gumam Tasya
__ADS_1
***
Mamah mertua itu Ibunya Angga Neng Shincan 😌🤧, udahlah likenya Mimin tunggu 💃💃💃