NIKAH DADAKAN (Aira & Abian )

NIKAH DADAKAN (Aira & Abian )
Bab 67


__ADS_3

Waktu terus berlalu, satu jam dua jam dan bahkan sampai tiga jam, Aira masih belum melahirkan juga. Wajahnya semakin memucat dan tubuhnya terlihat semakin lemas membuat Abi semakin khawatir saat melihat istrinya.


"Dokter kenapa anakku masih belum lahir juga, apa dia baik-baik saja?" tanya Abi khawatir, ingin sekali ia marah dan berteriak. Namun, ia tidak mungkin melakukannya. Ia tidak mau dokter menjadi takut dan tidak benar memeriksa Aira. Jadi sebisa mungkin Abi mengontrol emosinya.


"Pembukaannya belum lengkap, Tuan. Jadi Nona Aira masih belum bisa melahirkan," jawab dokter itu.


"Ya Tuhan, tolong anak dan istriku," ucap Abi.


"Kak Abi," panggil Aira dengan lemah. Abi pun menghampiri Aira dan menggenggam tangannya.


"Ada apa sayang, apa ada yang sakit?" tanya Abi.


"Ini sakit sekali, hiks ... " Aira menangis membuat Abi semakin tidak tega melihatnya.


"Aaaaarkhhhh .... " teriak Aira. Dokter pun dengan segera memeriksa airnya kembali. setelah berkutat beberapa saat ia pun melihat ke arah Aira. " Nona tolong lakukan instruksi apa yang saya berikan," ucap dokter. Dokter pun memberi aba-aba dan pengarahan pada Aira. Aira pun mengikuti apa yang dokter arahkan padanya.


"Tarik napas perlahan ... " ucap dokter itu.


"Kak Abi sakiiiitttt ... "


"Sayang bersabarlah ... " Abi membelai rambut Aira yang kini sudah basah karena keringat. Ia menahan rasa sakit yang amat sangat.


"Sedikit lagi, Nona." ucap dokter itu.

__ADS_1


"Aira pun kembali mengejan hingga beberapa kal,dan tak lama setelah itu. Terdengarlah suara tangisan bayi menggema disana. Suara tangisan itu terdengar sangat kencang.


Semua orang bersyukur, bayi itu lahir dengan selamat tanpa kurang sesuatu apapun. " Selamat Tuan, bayi anda lahir dengan selamat. Dan juga bayi anda sangat tampan," ucap dokter dengan tersenyum.


Betapa leganya hati Abi melihat anak dan istrinya selamat, beribu syukur ia panjatkan kepada Yang Maha Kuasa. Karena semuanya berjalan dengan lancar. Meskipun Aira harus berjuang dulu, perjuangan yang sangat luar biasa.


Abi juga mengucapkan terima kasih yang sangat banyak kepada Aira, karena ia telah berjuang untuk melahirkan anaknya. Tak ada kebahagiaan yang lainnya selain melihat anak dan istrinya sehat dan juga selamat.


Aira pun kini sedang diurus begitu pun juga dengan bayinya oleh dokter, untuk sesaat Abi bisa beristirahat dengan tenang. Ia merasa sangat lelah setelah seharian ini bekerja pergi ke pesta dan sekarang ia baru selesai menemani istrinya yang baru saja selesai melahirkan.


*


*


*


"Terimakasih, sayang." Abi kembali membelai rambut Aira. Dokter dengan sengaja memisahkan dulu ibu dan bayi ya. Agar Aira bisa beristirahat dan memulihkan tenaganya. Abi pun tidak merasa keberatan, karena setelah Aira tertidur Abi pergi menemui bayinya yang tampan.


Abi melihat anaknya dari balik dinding kaca, ada rasa haru yang menyeruak dalam hatinya. Ia tidak menyangka jika sekarang ia sudah menjadi seorang ayah.


"Aku benar-benar terharu melihat anakku, ternyata selain bahagia saat membuatnya. Bahkan saat kau lahir pun, aku merasakan sangat bahagia," ucap Abi tersenyum kearah bayinya.


Astaga ia hampir lupa tidak memberi tahu keluarga Aira, karena tadi juga Aira sempat berpesan jika orangtuanya jangan diberi tahu dulu. Aira tidak mau keluarganya khawatir, maka dari itu hanya Abi saja yang menemaninya itu sudah sangat cukup untuk Aira. Tapi mungkin nanti pagi-pagi saja Abi memberitahunya, karena pasti saat ini mereka sedang tidur. Sedangkan jam menunjukkan masih pukul empat pagi. Jadi Abi mengurungkan niatnya untuk memberitahu keluarga Aira. Biar nanti saja ia memberitahukannya kepada mereka.

__ADS_1


*


*


*


Pagi ini seperti biasanya, Andini sibuk menyiapkan sarapan. Tasya ingin sekali membantunya. Namun, dilarang oleh Andini. Ia tidak mau menantunya yang sedang hamil besar itu kelelahan.


"Kalau mau bergerak pagi-pagi, jalan-jalan saja di halaman. Tidak usah ikut masak, ibu ngilu liatnya" ucap Andini, hingga Tasya pun tertawa. Sungguh Tasya merasa bahagia mempunyai mertua seperti Andini yang sangat menyayangi dan juga perhatian padanya.


"Baiklah, Bu" jawab Tasya yang kemudian ia pun pergi.


Baru saja, Andini hendak memulai kegiatannya. Angga berlari dari kamarnya dengan keadaan masih berantakan dan berlari menemui Andini.


"Bu ... Ibu !!!" teriak Angga pagi itu.


"Ada apa?" tanya Angga, kemudian Angga pun berdecak sebal saat melihat ibunya.


"Ternyata ibu ada disini, pantas saja tidak memegang ponsel,"


"Pagi-pagi itu ibu sibuk, mana mungkin ibu memegang ponsel. Ibu bukan pemalas sepertimu."


"Bukan begitu tadi Abi menelepon, Bu. Ia mengabarkan jika Aira sudah melahirkan semalam!" ucap Angga.

__ADS_1


"Apa ....!!!"



__ADS_2