
pukul 03.00 sore Kami akhirnya sampai di rumah orang tua saya yang di kampung. Kedatangan kami hanya disambut keluarga kecil saja ada ibu dan keluarga paman yang tetanggaan dengan ibu. Tadi pagi aku sudah mengabari ibu, kalau acara syukuran nya ditunda dulu. Ibu sedikit kecewa dengan ucapanku. Karena ia memang sangat bahagia, karena aku akhirnya mau menikah.
Selama ini aku fokus bekerja mengejar karir dalam Kepolisian, target ku menikah adalah di umur 30 tahun, sedangkan ibu inginnya aku nikah secepatnya. Ternyata keinginan ibu terwujud tidak disangka di umur yang ke-27 tahun aku malah menikah dengan Flo. Dengan perkenalan kami yang tak sengaja saat ia sedang fashion show di sebuah hotel bintang lima di kota Medan.
"Arif....Anakku...!" Ibu berlari dari teras rumah menghampiriku yang baru saja turun dari mobil. Kurentangkan tangan dengan senyum lebar menyambut ibu yang kini berhambur ke pukanku.
Sudah hampir 1 tahun aku tidak pulang disebabkan oleh tugas yang sangat padat, dan d aku menikah pun tidak ku kabari pada ibu karena aku takut Ibu marah padaku disebabkan aku dan Flo menikah dengan mendadak dan tak terduga.
Ibu mencium pipi kiri kananku, serta mengecup keningku. Ibu sering melakukan itu, bahkan jikalau aku pulang kampung dan saat akan kembali bertugas ke kota atau ditempatkan ke tempat lainnya, Ibu sering menitipkan ludahnya di puncak kepalaku tepatnya di ubun-ubunku. Kata ibu, ua melakukan itu,agar aku tidak pernah melupakannya di perantauan. Mana mungkin kulupakan wanita yang telah melahirkanku ke dunia in,i karena beliau dengan kasih sayangnya yang berlimpah, aku bisa melihat betapa indahnya dunia ini, serta dapat istri yang cantik dan baik.
"Flo, kemarilah..!"
Flo terlihat enggan menghampiri kami, ia masih berada di sisi kanan mobil, berdiri mematung dengan menunduk. Aku dibuat heran dengan sifatnya itu. Kenapa ia terlihat ketakutan sekarang. Apa ia benar benar tak percaya diri, seperti yang dikatakannya sebelum nya.
Setelah aku .elambaikan tangan, dia pun pun menyeret kakinya dengan tidak percaya dirinya. Padahal dia wanita yang penuh dengan kepercayaan diri, apalagi di saat dia melenggang di catwalk.
Mata Ibu tak pernah berkedip melihat ke arah Flo, yang kini menghampiri kami. Ibu terlihat sangat terkejut melihat Flo. Apa karena Flo yang sangat cantik hari ini, sehingga ibu terlihat terkesima melihat istriku itu.
Flo dengan senyum mengembangnya kini, meraih tangan ibu yang masih bingung. Disaat Flo menarik tangan ibu, dan menempelkannya di keningnya. Ibu Pun tersadar, apalagi Flo sudah memeluk ibu dengan erat.
"A, apa apa kabar Bu? ma, maaf kami baru bisa datang sekarang." Ujar Flo dengan lembut dan sedikit terbata-bata.
Ibu mengurai dekapan Flo. Kemudian memegang kedua lengan Flo dengan menatapku lekat Flo yang masih menunduk.
"Ba, baik.. Ayo, ayo kita masuk sayang..!' Ujar Ibu dengan dengan ekspresi wajah tercengangnya. Kemudian ibu merangkul Flo, menuntunnya masuk ke dalam rumah. Ekspresi wajah ibu masih terkejut. Mungkin Ibu tak menyangka aku akan mendapatkan istri yang sangat cantik dan modis. Walau Flo adalah seorang model kelas atas. Ia termasuk wanita yang pandai memilih outfid.
Penampilannya kali ini sangatlah sopan, siapapun yang melihatnya akan terkesima dan tak akan pernah berpaling untuk menatapnya terus. Termasuk diriku yang susah berpaling, disaat menatap wajah cantiknya.
"Iya bu, terima kasih."
sahut flo dengan pelan terlihat ia masih belum bisa bersikap dengan tenang saat ini. Sangat wajar ia seperti itu. Namanya juga ia sedang berkumpul dengan orang baru.
__ADS_1
Saat ini Aku dan Flo telah duduk bersanding di ruang tamu. Di hadapan kami telah terhidang makanan. Satu piring nasi, yang di atasnya ada daging ayam digulai, serta garam di atas hati ayam.
Ibu akan mengupa-upah kami. Dalam tradisi suku kami, ada ritual mangupah-upah. Arti dari Mangupa Upah adalah sebagai ungkapan doa atau rasa syukur yang disertai dengan petuah dari orang tua atau sesepuh.
"Ayo Sayang makan garam serta Hati ayamnya." Ujar ibu dengan memberikan kode tangannya ke arah daging ayam yang ada di hadapan kami. Ibu saat ini terlihat sedih. Kedua mata rabunnya yang memakai kaca mata itu terlihat berembun, bu menangis.
"I, iya." Sahut Flo terbata bata. Ia masih terlihat gugup. Padahal yang memperhatikan kami saat ini, hanyalah ibu, paman dan bibi serta anak nya dua orang dan tiga orang tokoh agama fan adat.
Ternyata Ibu tetap mengundang alim ulama. Beserta orang yang dituakan di kampung ini, dalam acara menyambut kedatanganku beserta Flo. Memang Ibu ini adalah tipe wanita yang sangat menjunjung tinggi tradisi serta adat istiadat di kampung. Di tempat kami rasa persaudaraan dan kekeluargaan itu masih sangat erat sistem tolong-menolong antar warga masih terlaksana dengan baik.
"Anakku tersayang selama menempuh hidup berkeluarga. Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melalui jalan bertabur bunga, tapi juga semak belukar yang penuh onak dan duri. Ibu harap, kalian bisa melewati dengan sabar kelak, masalah yang timbul dalam pernikahan kalian."
Ujar ibu dengan terisak, ibu menundukkan kepalanya, kemudian melepas Kacamatanya yang sudah berkabut. Tangan keriputnya meraih ujung selendangnya dan menghapus air mata yang membasahi pipi keriputnya. Aku jadi sangat sedih melihat Ibu seperti itu, ternyata pernikahanku ini belum membuatnya bahagia. Itu terlihat jelas dari ekspresi wajahnya yang kurang puas. Aku tak tahu apa hal yang mengganjal di hati ibu. Tapi, aku yakin Ibu tidak bahagia dengan pernikahanku ini.
***
Setelah selesai acara penyambutanku dan flo. kini aku dan Flo bersiap-siap ingin keluar. Kami akan ke rumah sahabatku yang bernama Ali. Aku sangat ingin mengetahui kabar Ali. Karena terakhir Kami bertemu adalah satu tahun yang lalu, saat acara pernikahannya.
itu pertemuan kami yang terakhir dan sangat menyedihkan. Saat Aku mengucapkan selamat padanya di hari pernikahannya, baru kali itu kulihat dia menangis saat memelukku. Dia mengatakan, bahwa dirinya akan selalu jadi sahabatku dan aku ini akan selalu ada di hatinya.
Flo terlihat keberatan pergi ke rumahnya Ali. Saat ini aku yakin dia mungkin masih merasa lelah.
"Baiklah kalau kamu nggak mau ikut. Aku pergi dulu ya?" Ujarku lembut, aku bangkit dari atas ranjang yang ku duduki. Flo juga melakukan hal yang sama.
" Iya, aku nggak usah ikut ya sayang. Aku lelah banget. Aku mau tidur." Ujar ya dengan manja, mendaratkan kepalanya di dadaku dan memelukku dengan erat.
" Eeemm... Biaklah, beneran tidur. Jangan Online lagi." Ujar ku lembut, kemudian mengecup keningnya. Ia kini mendongak menatapku dengan senyum mengembang dan mata yang berbinar-binar. Wajahnya polos tanpa make up. Tapi, terlihat sangat cantik sekali.
Sebelum aku keluar dari kamar, kami masih sempatkan berpelukan dan berciuman dengan bergairahnya. Setelah itu aku menyudahinya karena, aku yakin aku takkan bisa menahan diri lagi untuk melakukan yang lebih.
Flo menertawakan diriku yang tak bisa menahan hasrat, dia pun melambaikan tangannya masjh tertawa terbahak bahak, disaat aku memegang handle pintu, hendak keluar dari kamar Itu. Tak mau terpancing dengan sikap manjanya, dengan cepat ku tutup pintu kamar itu.
__ADS_1
Aku pun pamit pada ibu dan menitipkan flo pada ibu. Aku mengatakan pada ibu akan pergi ke rumahnya Ali, di saat itu Ibu terlihat terkejut mendengar ucapanku. Tapi Ibu tidak mengatakan apa-apa dia hanya mengatakan hati-hati di jalan. mungkin karena aku tergesa-gesa sehingga Ibu tidak sempat bicara denganku.
Diibutuhkan waktu 10 menit untuk sampai ke rumahnya Ali dengan mengendarai sepeda motor. Dulu Ali adalah tetanggaku, tetapi sejak kami tamat SMA. Mereka sekeluarga pindah rumah. karena orang tuanya membangun rumah di atas tanah peninggalan warisan ayahnya. Dari sejak kami tamat SMA, kami sudah jarang bertemu. Ali melanjutkan kuliahnya sedangkan aku masuk tes Kepolisian.
Sesampainya di rumahnya Ali. Aku dikejutkan dengan penampakan sebuah mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya yang kini sudah direnovasi. Sekarang rumah orang tua nya Ali sudah mewah.
Apa Ali ada di dalam? atau saat ini keluarganya Ali sedang kedatangan tamu? Sejak Ali menikah dengan wanita kaya yang ia kenal saat kuliah. kehidupannya sertanya, banyak berubah yang kudengar Ali sudah jadi orang kaya karena dia menikahi wanita yang kaya wanita itu dia kenal saat di perguruan tinggi dari kabar, yang ku dengar. Istrinya Ali adalah seorang dokter kecantikan dan sudah jelas, keluarga Dokter tentulah kaya kaya.
" Assalamualaikum ....!" ujarku dengan sopan pintu rumah mewah itu sedang terbuka, jadi aku tak perlu mengetuknya. Apalagi saat itu aku melihat ibunya Ali serta seorang wanita sedang bicara serius di ruang tamu.
Wanita yang bersama ibunya Ali sedang membelakangiku, makanya aku tidak tahu siapa wanita itu. Tapi, di saat mereka mengucapkan salam dan wanita itu menoleh ke arahku aku pun bisa mengenal wanita itu. Wanita cantik berhijab yang kini sedang bicara dengan ibunya Ali adalah istrinya Ali, Hana Alfathunnisa.
"Arif....!"
wanita tua itu bangkit dari duduknya dengan ekspresi wajah terkejutnya. Begitu juga dengan Han. Aku menghampiri mereka dengan tersenyum tipis. Saat ini aku sedikit heran karena tak mendapati Ali bersama mereka.
Ku julurkan tangan untuk berjabat tangan dengan kedua wanita beda generasi ini. Dengan muka murungnya ibunya Ali menyambut tanganku dan menarikku dalam dekapan nya.
Hua..
Hua..
Hua..
Ibunya Ali menangis histeris, dalam dekapanku. Aku dibuat heran dengannya. Apakah ini tangis Kerinduan. kalau tangis Kerinduan. Kenapa terdengar sangat menyayat hati? Apalagi terlihat ibunya Ali sangat sedih dan seperti kehilangan sesuatu hal yang berharga dalam hidupnya.
"Arif.... Syukurlah, kamu datang nak. Nak Ariff... Tolong ibumu ini Nak. Sahabatmu Ali, sudah seminggu tak ada kabarnya nak. Tolong bantu ibu mencarinya Nak?"
Suara tangis ibunya Ali terdengar sangat menyedihkan. Aku yang dibuat terkejut dengan ucapannya, hanya bisa terdiam sambil mencerna kata-kata yang keluar dari mulut wanita tua ini. Tubuhnya masih bergetar hebat, menangis tersedu-sedu sambil memelukku dan memasrahkan kepalanya di dadaku. Kurasakan cairan sudah menembus bajuku dan membasahi dadaku.
Setelah mengeluarkan semua unek-unek kesedihannya sambil menangis terisak-isak padaku.Kini ibunya Ali pun mengurai pelukannya dariku. Aku yang terkejut dengan kabar yang kudapat hari ini hanya bisa terdiam, menatap secara bergantian ibunya Ali serta Istrinya Ali.
__ADS_1
" Iya Bu. Iya.... Ibu tenang dulu ya, kita akan cari Ali bersama-sama." ujarku lembut penuh pengertian turut merasakan kesedihan atas apa yang menimpa keluarga ini. Tak hanya Ibu serta istrinya Ali yang sedih aku juga sangat sedih mendapati kenyataan ini, hilang seminggu. ke mana dia? Apakah dia dibunuh orang? memikirkan hal itu semua membuat aku jadi sedih dan panik. Aku belum siap kehilangan Ali dia sosok sahabat yang sangat baik buatku.
TBC