
Keesokan harinya.
Arif menghubungi Hana, Ia ingin bertemu dengan wanita itu. Banyak hal yang ingin Ia bicarakan pada wanita itu. Tapi, ternyata Hana sedang diperjalanan ke luar kota.
Arif yang menaruh kecurigaan pada Hana, akhirnya mengambil kesempatan ini untuk masuk ke rumahnya Hana. Para Polisi bergerak cepat menuju rumahnya Hana.
Ia dan tim kepolisian berhasil masuk ke rumahnya Hana. Menggeledah semua sudut rumah itu, termasuk ke kamarnya Hana dan Ali. Dalam pencarian itu, tak ada sesuatu pun benda mencurigakan yang mereka dapatkan
Dan saat itu juga, terdengar suara ponsel dari langit langit kamar.
"Bunyi apa itu ya pak? aku seperti mendengar suara benda yang bergetar, seperti getaran ponsel." Arif samar-samar mendengar suara getaran ponsel.
"Bunyi ponsel? aku tak mendengarkan apapun di tempat ini,." Sahut pak Kapolres dengan bingung nya.
Arif pun terdiam, kedua matanya menatap liar ke langit langit kamarnya Hana. Ia merasa ada yang janggal di rumah ini.
"Gimana Pak Arif, ada bapak temukan hal yang mencurigakan?" tanya Pak Kapolres serius.
Arif menggeleng lemah, salah satu tangannya berkacak pinggang. Sepertinya Ia sedang berhalusinasi, Karena tempat mendengar suara getaran ponsel.
"Gak ada pak." Sahut nya nanar. Mukanya kusut sudah, sudah lima hari dia mengusut Kasus kematian Ali, Tapi gak ada titik terangnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, kita pulang saja pak Arif. Kita cari pria pincang itu ke tempat lain."
"Iya pak, orang bapak pergi terlebih dahulu. Silahkan bawa mobilku. Aku masih mau di sini, memantau tempat ini." Ujar Arif dengan nanar. Rasanya kepalanya pening sekali mengusut masalah ini.
Gerombolan polisi meninggalkan
rumahnya Hana,, sedangkan Arif memilih berpatroli di pelataran rumah itu, hingga malam menjelang.
berjam-jam di tempat itu, Arif tetap tak menemukan satu petunjuk apapun. Bahkan Hana benar-benar tak pulang ke rumah. Itu artinya Hana, memang betul pergi keluar kota. Pukul 10.00 malam, Arif pun memutuskan meninggalkan rumah Itu.
Karena pagar terkunci. Ia memanjat pagar rumahnya, agar bisa keluar dari rumah itu. Dan saat mendarat dengan sempurna di tanah. Ia pun dikejutkan dengan penampakan sosok pria berhelm, berpakaian serba hitam. Penampilannya sangat mirip dengan penjahat yang mereka incar. Pria cacat yang membunuh tadi malam.
Arif dibuat penasaran dan sangat yakin itu adalah pria yang mereka hari
"Tungggu.. tunggu... Berhenti..!" teriak Arif sekuat tenaga. Ia sangat terkejut melihat pria yang ia sangka pincang, kini berlari cepat menuju motor yang terparkir tak jauh dari rumahnya Hana.
"Berhenti..." Arif yang tak mau kehilangan jejak pria itu, menelpon polisi. Meminta bantuan, agar si penjahat itu tidak lolos.
"Aahh... Sial.."
Umpat Arif dengan kesalnya, pria itu sudah berhasil menaiki motornya dan melajukan motornya itu dengan kencang. Arif tak tinggal diam. Ia pun akhirnya melepaskan satu tembakan ke arah penjahat itu, ia menembak roda sepeda motor itu. Akibat tembakannya, motor itu kehilangan keseimbangan dan kendali pria itu pun terjatuh di aspal. Dengan gesitnya pria itu bangkit, berlari cepat.
__ADS_1
Arif mengejar pria itu. "Berhenti.....!"
Tiba-tiba saja ada mobil yang melintas, diperempatan. Dengan gerakan cepat pria itu meloncat melampaui mobil itu, dan Arif pun kembali kehilangan jejak pria yang pura-pura pincang itu.
Dengan kekesalan yang teramat, Arif berlari kesana kemari mencari keberadaan pria itu. Tapi, ia tak menemukannya.
"Shiiittt.... Sial...!"
Teriak Arif kesal. Tangan yang ia kepal, kini menumbuk telapak tangannya sendiri.
Tak berapa lama gerombolan polisi pun datang.
"Sudah di mana penjahatnya Pa" tanya Pak kepala polisian dengan penasarannya.
Huufffttt
Arif menarik nafas dalam serta panjang. Ia memegangi perutnya yang terasa sesak, karena berlari mengejar pria itu. Arif menghembuskan napasnya.
"Dia berhasil lolos Pak." Ujar Arif lemas. tangannya langsung memijat-mijat keningnya yang terasa sakit. Begitu juga dengan kepala nya. Arit terlihat sangat frustasi saat ini. Ini kesempatan untuk kesekian kalinya. TapTapi, ia malah kehilangan jejak pria yang mereka cari
Tbc
__ADS_1