Obsessive Love Disorder.

Obsessive Love Disorder.
Kembali


__ADS_3

"Tapi, mobil yang terbakar itu belum kita periksa pak. Benarkah mobil itu terbakar karena kecelakaan, atau dibakar dengan sengaja." Jelas Arif dengan tegas.


"Eemmm... Baiklah, kita akan turun ke lapangan lagi sekarang." Ujar Pak Kapolres, bangkit dari duduknya, dan bersiap siap kembali ke TKP, di mana mobilnya Ali terbakar.


"Ini bukan murni kecelakaan tunggal, ini kasus pembunuhan. Kasus ini dikamuflase sekolah terjadi kecelakaan. Kalau benar Ali mengalami kecelakaan harusnya kecepatan mobilnya saat itu lebih dari 60km/jam. Tapi, mobil yang dikenderai Ali Hanya 40km/jam."


Ujar Arif tegas, wajahnya terlihat serius dalam menyimpulkan penyelidikannya pada mobil Ali yang terbakar.


"Eemmm... Benar juga analisa Pak Arif." Sahut Pak Indera, Pak Kapolres.


Arif kembali memperhatikan mobil yang terbakar itu.


"Dan, hairbag mobil harus mengembang. Tapi, ini tidak pak. Dan yang lebih janggal lagi pak. Posisi gigi mobil harusnya di gigi 3 atau 4. Ini posisi gigi mobilnya Ali dalam keadaan netral."


Arif melipat kedua tangannya saat ini. Ia tak habis pikir. Ada musuhnya Ali. Hingga Ali harus dibunuh dengan cara keji.


"Dan anehnya lagi pak, ternyata plat motor yang sering lewat di rumah Ali adalah plat palsu. Jadi ini jelas semua adalah rekayasa seseorang. Kiita harus mengusut tuntas kasus ini. Hari ini juga semuanya harus jelas."


Arif semakin yakin dengan analisanya. Pak kapolres juga terlihat yakn dengan penuturan Arif.


"Dan pelayan serta satpam di rumahnya Ali tidak bekerja lagi. Apakah Hana dibalik semua ini?" ujar Arif penuh dengan penasarannya menatap ke arah Pak Kapolres.


"Eemm... Bisa jadi Pak." Sahut Pak Kapolres.


"Ini sungguh penuh dengan kejanggalan. Sebelum kita interogasi Hana. Kita perlu meminta tim forensik untuk menganalisis secara keseluruhan mobil Ali yang kecelakaan ini pak." Pinta Arif pada Pak Kapolres.


"Baik pak Arif, kita lakukan sekarang juga."


Arif dan pak Kapolres meninggalkan tempat kejadian perkara.


Sembari menunggu hasil esok hari. Arif kembali pulang ke rumah. Rasanya tubuhnya lelah sekali, otot ototnya terasa pegal dan panas. Begitu juga dengan hatinya. Dalam keadaan terpuruk seperti ini, istrinya flo bukannya mendukungnya, malah membuatnya dilema dengan dua pilihan, dipaksa menyusul ke luar negeri atau menyelidiki kasus sahabatnya.


Arif sudah terlanjur melakukan penyelidikan. Tak mungkin ia tinggalkan ini begitu saja. Jadi, a putuskan tetap lanjut mengusut tuntas kematian Ali. Dan dia pun harus memendam rasa rindu, pada sang istri. Arif tidak akan menghubungi Flo, sebelum Ia tentang dan masalahnya Ali ada titik terang nya. Karena jika dia menelepon wanita itu, pasti akan terjadi pertengkaran dan pertengkaran lagi, yang akan membuat suasana hatinya semakin memburuk.


Kini Arif sedang duduk merenung, bersandar di headboard tempat tidurnya. Pikirannya menerawang jauh, teringat kisah masa lalunya bersama Alm Ali. Saat itu Arif sedang ulang tahun. Ali datang ke rumah merdeka, memberikan hadiah berupa senapang yang dibuat Ali sendiri dari bahan kayu. Ali tahu, Arif bercita cita jadi Posisi sejak kecil.

__ADS_1


Huufftt...


Arif menarik napas berat, dan membuangnya kasar. Mata bergerak ke arah jam dinding yang bertengger di dinding kamar di hadapannya. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 02 dini hari.


Ia pun turun dari ranjang, Ia akan buang hadast kecilnya ke kamar mandi dan bersiap siap untuk tidur.


Saat Ia berada di dalam kamar mandi. Ia bisa mendengarkan suara pintu kamarnya sedang dibuka seseorang.


"Apa itu ibu?" teriaknya dari dalam kamar mandi. Ia sedang mencuci muka.


Tak ada sahutan. Arif pun melanjutkan acara gosok giginya.


Setelah Ia bersih bersih, Ia dikejutkan dengan kemunculan Flo di dalam kamarnya. Tentu saja kedatangan sang istri yang mendadak membuatnya senang sekali. Wajahnya yang kusut kini bersinar bak bulan purnama. Ia tak menyangka wanita yang Ia rindukan ada di hadapannya saat ini.


"Honey....!" ujar nya dengan mata yang berbinar.


Flo berlari ke arah Arif yang masih mematung di depan pintu kamar mandi. Arif merentangkan kedua tangannya, menyambut pelukan sang istri.


Graapp..


"Oowww... Oouuww.. Pelan pelan sayang, Hubby bisa kehilangan keseimbangan. Lagi pulang kamu masih sakit, gak boleh banyak gerak." Ujar Arif dalam pelukan eratnya Flo.


"Hiks... Hiks... Hikss... Jahat, Hubbi Jahat. kenapa Hubhy nggak menghubungiku kembali, saat aku matikan teleponnya. Hubby ggak cinta sama aku, tahu nggak By, aku itu sayang sekali samamu. Sehari saja tak jumpa, rasanya setahun Aku gak mau pergi berobat ke luar negeri lagi."


ujar flO terisak di dada bidangnya Arif, sesekali wanita itu, memukul manja dada bidang sang suami. Sungguh Flo terlihat begitu kesal, benci Rindu, dan rasa sayang bergabung bercampur aduk menjadi satu, yang membuat Flo jadi uring uringan.


"Eemmm.. Sudah, jangan menangis lagi ya? maaf sudah membuatmu sedih dan kecewa. Tapi, sungguh saat ini Hubby itu sedang dilema, mengusut tuntas kematian Ali ini sangat menyita energi dan perhatian Hubby. Sehingga kamu terabaikan."


Ujar Arif lembut mengusap air mata yang membasahi pipi pucatnya flo. Ya Flo terlihat sangat kelelahan dari wajahnya yang sedikit kusam dan pucat. Arif jadi kasihan dengan istrinya itu. Arif akhirnya menghadiahi kecupan lembut dan berdurasi lama di keningnya Flo. Kemudian menyudahi kecupan itu sambil menatap dalam matanya Flo yang kini terlihat berkabut. Flo yang tak tahan membalas tatapan mata syahdunya Arif, akhirnya memasrahkan kepalanya kembali tenggelam di dada bidangnya sang suami. Ari pun tak henti hentinya membelai puncak kepala sang istri. Menuntun istrinya itu untuk naik ke atas ranjang dan berbaring.


Setelah pasangan suami istri itu berbaring saling hadap-hadapan tangan Arif menjulur membelai pipinya Flo.


"Hubby melihat ada kebohongan di matamu sayang. Jujur, kamu nggak jadi kan pergi ke luar negeri?" tanya Arif lembut, sambil mengulum senyum Arif juga tak bisa dibodoh-bodohi. Mana mungkin dari luar negeri tadi siang bisa nyampe ke kampung. Kalau nyampenya di kota Medan masih mungkin.


Flo terlihat tegang. "Iii, itu, a, aku memang ke luar negeri." Sahut nya tergagap. Tak berani menatap mata sang suami.

__ADS_1


Arif masih membelai pipi sang istri dengan mengulum senyum."Sudah, jujur... Tadinya Hubby, akan percaya kamu pergi ke luar negeri. Tapi di saat kamu sudah nongol di sini. Hubby tidak percaya lagi, kalau kamu pergi ke luar negeri." Desak Arif dengan tegas. " Abi harap kejujuranmu Honey..!"


Hua


Hua


Hua


Flo malah menangis histeris, menjauhkan tangan Arif dari pipinya. kemudian membelakangi Arif. Tangisannya terdengar begitu memilukan."kita baru menikah dan gara-gara sahabatmu itu, Hubby melupakanku. Aku memberi ancaman padamu by, akan keluar negeri. Tapi, ternyata Hubby gak peduli padaku ,gak takut dengan ancamanku. Malah Hubby betah di kampung ini. Hubby ngerti gak sih. Kita itu baru nikah. Aku masih ingin selalu bersama Hubby. Ngapain aku berobat, Kalau tak ditamani suamiku sendiri."


Arif menjulurkan tangannya meraih tubuhnya Flo, yang bergetar karena menangis sesenggukan itu. Flo menggerakkan bahunya, tak sudi direngkuh oleh Arif. Ia masih kesal pada suaminya itu.


"Sayang, setelah kasus ini terungkap. Kita secepatnya pulang, dan Hubby akan menemanimu berobat. Ohh ya, gimana keadaanmu sayang? Penyakitmu gak serius kan?"


Tanya Arif, kini menenggelamkan wajahnya di perpotongan lehernya sang istri.


Flo akhirnya mengubah Posisi, auto Arif mengangkat kepala dari bahunya Flo.


"Hanya Kita koq By. Bukan tumor ganas." Sahut Flo dengan sedih. Matanya kembali berlinang air mata.


Arif dibuat sedih. "Apa sekarang masih sakit?" tanya Arif dengan seriusnya, sangat prihatin atas penyakit yang diderita sang istri.


"Sekarang gak sakit, Akan sakit Kalau kita berhubungan badan." Jawab Flo dengan muka murungnya.


Huufftt


Arif menghela napas dalam. "Kirain kita bisa kuda kudaan malam ini." Ujar Arif dengan frustasinya.


Flo pun menggeleng lemah.


Huufftt..


Arif kembali manarik napas dalam dan panjang. Seperti nya, Hanya itu yang bisa Ia lakukan, untuk menenangkan dirinya yang kini sangat berhasrat.


Flo tertawa kecil. Tangan nakalnya yang lembut mulai meraba ular kobranya Arif yang siap mematuk.

__ADS_1


TBC


__ADS_2