Obsessive Love Disorder.

Obsessive Love Disorder.
Dalang


__ADS_3

Shiiittt..


Jadi siapa sebenarnya pembunuh Ali. Ya Allah... beri secepatnya petunjukmu. Aku ingin pulang ke kota. Ya Allah aku sudah sangat merindukan istriku, sangat mengkhawatirkan keadaan istriku Flo. Sampai saat ini dia tidak bisa dihubungi. Ponselnya gak aktif tuhan.


Arif menggerutu dalam hati, kenapa masalah ini sangat sulit untuk diungkap. Tadinya Arif sudah merasa sedikit legah, tertangkapnya Herman. Karena Herman lah, si tertuduh pembunuhan


Arif yang merasa ada keanehan dan kejanggalan atas kematian Ali. Ia pun mengambil tindakan dengan menemui dokter lain secara diam-diam. Pada Dokter itu, ia meminta agar jasad Ali diperiksa lagi, apakah Ali meninggal karena kepala nya pacah karena terbentuk ke kemudian, seperti hasil autofsi, atau tidak. Untuk mengetahuinya kuburan Ali kembali digali, tanpa diketahui pihak kepolisian. Dan hasilnya, akan diketahui esok pagi.


Semalaman suntuk Arif memikirkan tentang kasus kematian Api. Banyak hal yang sangat aneh dan sangat sulit untuk diungkap. Karena memikirkan itu semua, dia tidak bisa tertidur. Apalagi sekarang bayang-bayang kehidupan mereka saat kecil bersama Ali terus saja berputar-putar di pikiran Arif saat ini. Ia tidak akan bisa tentang, kalau tidak menuntaskan kasus sahabatnya itu. Arif bahkan rela ditinggalkan oleh sang isteri Flo.


Karena tidur di dini hari, Arif pun terbangun kesiangan. Ia terburu-buru menjumpai dokter yang ia minta bantuannya semalaman, Karena kata dokter itu pukul 08.00 pagi Arif sudah bisa mengetahui hasilnya dan Sekarang sudah pukul 09.00 pagi, ia baru saja sampai di rumah sakit.


Arif bergegas menuju ruangan dokter, di mana sebelumnya ia sudah menghubungi dokter itu.


" Ayo silakan duduk dulu pak Arif." Ujar Pak Dokter ramah. Arif terlihat sudah tak sabar, untuk mengetahui hasilnya.


"Iya pak, terima kasih. Aku sudah tidak sabar Pak untuk mengetahui, hasil autofsinya. Karena sebenarnya Pak, aku sangat curiga dengan hasil autopsi yang pertama itu." Ujar Arif dengan tegang.


"Iya pak, saya mengerti." sahut Dokter ramah.


Dokter itu pun menyalakan layar monitornya diri hadapan Arif. Di layar nampak tengkorak kepala Surya. "Perhatikan ya Pak, dari hasil pemeriksaan saya bahwa mayat yang saya periksa itu meninggal bukan karena benturan kepala ke stir kemudi, melainkan kepalanya itu sengaja dipukul oleh benda keras ."


"Ap,apa..?.." Arif sangat terkejut mendengar penjelasan Dokter, wajahnya menegang sudah saat ini. Dadanya pun berdebar debar, sepertinya ia spot jantung. Ia yang syok mendengar penjelasan dokter, tanpa sadar bangkit dari duduk nya.


"Iya pak Arif, dan asal bapak tahu, bahwa mayat itu bukanlah mayat atas nama Ali."


"Apa...?"


Pandangan langsung menggelap. Arif sungguh terkejut mendengar penjelasan dokter. Tubuhnya lepas sudah, kakinya layu. Sepertinya aliran darah berhenti mengalir di tubuhnya.


Brruuggkkk..

__ADS_1


Arifpun ambruk kembali di tempat duduk nya, dengan dada yang berdebar kuat porak-poranda mendengar penjelasan dokter. Pantas selama ini banyak sekali kejanggalan dalam mengusut tuntas kasus kematian, ternyata mayat yang dikatakan Ali, bukanlah Ali.


"Bapak baik-baik saja?" tanya dokter dengan penuh kekhawatiran, karena saat ini keadaan Arif terlihat tidaklah baik-baik saja. Ekspresi wajah pria itu menunjukkan kekecewaan serta kebingungan yang amat. Wajah tampannya juga kini terlihat pucat seperti tak dialiri oleh darah.


Arif mengepakkan tangannya, menghalau Dokter yang hendak menjamah tangannya. "Aku baik-baik saja Dok." Sahutnya dengan nanar. Saat ini Ali hanya butuh hasil pemeriksaan ini." Arif menunjuk berkas yang ada di tangan dokter.


"Baik pak, boleh." Sahut Dokter ramah.


Setelah hasil pemeriksaan didapatkan oleh Arif. Ia bergegas menjumpai dokter yang membuat laporan palsu itu. Mereka melakukan pertemuan disebuah cafe. Arif tak mau membuang waktu, ia langsung bertanya pada dokter. Kenapa dokter itu membuat laporan palsu. Dokter itu pun mengakui, bahwa ia disuruh membuat laporan palsu.


"Siapa yang meminta Anda membuat laporan palsu?" tanya Arif dengan tatapan nanar nanar.


Semua orang yang ada di cafe itu kini matanya tertuju ke arah Arif dan sang dokter. Hal itu membuat sang dokter terlihat malu karena dibentak oleh Arif di tempat ramai. Dengan menahan rasa malu, kedua matanya terlihat celingak celinguk, memperhatikan sekitar. Arif sungguh kesal sangat kesal. Habis sudah kesabarannya saat ini, terlalu banyak lika-liku dalam kasus hilangnya Ali. Ia dibuat pusing akan hal itu.


"Pelankan suara Anda. Kalau anda ingin tahu dari siapa perintah itu." Ujar dokter dengan tatapan tajam kepada Arif dia juga bisa bersikap tegas.


Huufffttt..


"Pak Kapolres yang meminta aku melakukan diagnosa palsu."


"Apa..?"


Prakkk..


Arif yang terkejut tanpa sengaja tangannya menyenggol gelas yang berisi air putih. Gelas itu pun jatuh ke lantai dan pecah berhamburan di lantai. Arif yang bingung, bangkit dari duduk nya, tanpa memperdulikan gelas yang ia pecahkan.


Dengan pikiran yang kacau. Arif meninggalkan cafe itu. Dia harus ke kantor polisi.


Sepanjang perjalanan menuju kantor polisi Arif melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Ia sudah tidak sabar lagi, ingin segera sampai ke kantor polisi. Ia ingin menanyakan kepada Pak Kepala Kepolisian. Apa maksud bapak itu bersekongkol dengan dokter, menyembunyikan kematian Ali.


Yaa Arif baru ingat tak ada yang mau mengusut hilangnya Ali. Bahkan kepolisian tak mau mengusut kasus hilangnya. Kasus hilangnya Ali diusut olehnya sendiri, karena dirinyalah yang memaksa sehingga kepolisian itu mau bekerja sama dengannya. Walau Arif tidak tugas di satuan kerja itu.

__ADS_1


Sesampainya di kantor polisi.


Brruuggkkk..


Arif membuka pintu ruangan Pak Kapolres dengan kasar sehingga pintu itu terhempas membentur ke dinding ruangan itu. Arif menghampiri Pak Kapolres yang tengah duduk di kursi kerjanya.


Saat itu juga Pak Kepala Kepolisian bangkit dari duduknya dengan ekspresi wajah terkejut. wajahnya menegang melihat Arif yang seperti kesetanan itu. Saat ini penampilan Arif sangat berbeda dari biasanya.Wajahnya sangat merah bak tomat matang, sorot matanya tajam seperti singa kelaparan dengan rahangnya yang rapat dan mengeras itu seperti siap menerkam.


"Aku tak butuh jawaban banyak Pak. Siapa dalang dibalik semua ini? Kenapa Anda beserta dokter membuat laporan palsu tentang kematian Ali. Aku sudah tahu semuanya Pak, bahwa mayat yang kita temukan di dalam mobilnya Ali bukanlah Ali tapi pria lain."


Pak kepala kepolisian sangat terkejut mendengar penjelasan Arif. Kenapa Arif bisa tahu?


"Aku bukan polisi bodoh. Dan aku bukan orang bodoh yang bisa kalian bodoh-bodohi. Dari awal, aku sudah curiga pada kepolisian ini dan sekarang terbukti, kalian tidak amanah. Sekarang saya tanya serius pada bapak, dan bapak harus menjawab jujur, kalau bapak tidak menjawab dengan Jujur. Maka, aku akan bawa kasus ini ke Kapolri."


Dadanya Arif terlihat naik turun saat memberi ultimatum pada Pak Kapolres. Sungguh kejiwaan Arif saat ini sangat terguncang, gara-gara menyelidiki kasus hilangnya Ali. Sang istri menjauhinya, bahkan sudah dua hari istrinya itu tidak bisa dihubungi. Yang lebih sialnya kasus hilangnya Ali begitu banyak menyimpan misteri.


Arif yang pintar melakukan penyelidikan saja terkecoh. Jelas terkecoh, karena ada campur tangan kepolisian dalam kasus ini.


Puukkk..


Arif menggebrak meja dengan kasar. Ia tak tahu lagi harus menyalurkan kesedihan serta kemarahannya yang membuncah dengan cara apa.


"Aaww.... Awww... Pak Polisi terkejut dengan sikap kasar nya Arif.


" Jangan bertele tele pak. Jawab jujur, siapa orangnya yang meminta Bapak membuat laporan palsu itu? aku sudah dapat hasilnya. Ini ada di tanganku."


Pak kepala Polisi pun angkat suara


"HANA...!" wanita itulah yang menyuruh kami melakukan sandiwara ini.


"Aarrrgggkk... Siall!" teriak Arif dengan penuh keputusasaan. Ternyata dalang dibalik semua ini adalah Hana, istrinya Ali

__ADS_1


TBC


__ADS_2