
Pukul 11.00 malam Arif baru tiba di rumah. Badannya terasa sangat lelah. Begitu juga dengan hati serta pikirannya. Hal itu terjadi karena Flo yang tak bisa dihubungi, sejak wanita itu pergi meninggalkannya di rumah Ali. Flo telah salah paham padanya.
"Nak, kamu sudah pulang." Tanya ibunya Arif.
Ternyata wanita tua itu sedang menunggu kepulangan sang putra, ia tengah duduk termenung di sofa ruang tamu.
"Ibu menangis?" tanya Arif sedikit heran dengan raut wajah sang ibu yang sembab. Arif memperhatikan lekat wajah ibunya yang sembab itu. Mendengar pertanyaan sang putra, ibunya Arif terlihat semakin sedih. Kedua mata yang mulai rabun dan berkabut itu, akhirnya mengucurkan air mata dengan deras.
"Istrimu Flo, sudah balik ke kota nak."
"Apa..?" Arif, sangat terkejut mendengar ucapan ibunya itu. kedua matanya yang lelah kini membeliak, hendak keluar dari tempatnya. Jantungnya juga berdebar kuat saking terkejutnya mendengarkan kabar dari ibunya itu.
Kenapa Flo seperti anak-anak? Kenapa dia pergi sebelum kami bertemu?
__ADS_1
"Iya nak." Sahut ibunya Arif lemah.
Arif merangkul ibunya itu dengan penuh kasih sayang. Menuntun ibunya itu kembali duduk di atas sofa Begitu juga dengan Arif ikut duduk siapa yang sama di sebelah ibunya. Dengan mata sendunya, ibunya Arif menoleh ke arah sang putra yang terlihat sedih juga
" Ibu tidak bisa mencegah istrimu untuk tidak pergi. Katanya dia mau berobat. Kemarin itu dia tidak jadi berobat. Ibu sangat sedih nak. ibu baru tahu kalau istrimu menderita penyakit kista di rahimnya." Ujar ibunya Arif dengan terisak.
Arif membalas tatapan sendu ibunya.
"Bu Arif juga baru tahu, tentang penyakit nya Flo, setelah kami menikah, tadinya memang rencananya diawal. Setelah selesai resepsi di kampung. Kami akan sama-sama pergi bulan madu sekaligus berobat ke luar negeri. Tapi dengan adanya kejadian meninggalnya Ali, semua rencana di awal berubah bu. Flo sangat kesal dengan hal itu, dia pun ngotot kemarin untuk pergi berobat sendirian. Katanya mau men tes diriku Bu. Apakah aku akan menyusulnya. Ternyata aku kekeuh di sini. Karena aku ingin menyusut kematian Ali." Sahut Arif pelan pada sang ibu. Ibunya Arif terlihat sangat serius mendengar cerita sang anak.
"Tapi, dari cara Flo, tadi berpamitan pada ibu. Sepertinya dia tidak akan datang lagi ke sini nak."
Sang ibu semakin terlihat sedih. Karena anak dan menantunya sedang perang dingin.
__ADS_1
"Biiarin saja lah Bu, setelah kasus Ali selesai. Aku akan menyusulnya secepatnya ke kota. Besok juga dia sudah bisa ku hubungi, mungkin sekarang suasana hatinya masih buruk.
Ibunya Arif mengangguk lemah.
" Ya sudah, ibu istirahat ya?!" kini Arif menuntun sang ibu untuk masuk ke dalam kamarnya. "Ibu tidur ya? ini sudah larut malam bu." ujarnya lembut setelah menyelimuti sang ibu hingga dada.
"Iya nak." Sahut ibunya lemah.
Kedua sudut bibirnya, tertarik sempurna. Arif merasa senang dan bahagia sekali, ibunya itu nurut padanya, di saat dipaksa tidur.
Arif berbalik badan Ia seret kakinya yang terasa lemah menuju pintu kamar. Baru juga kakinya melangkah tiga langkah ponsel yang ada dalam sakunya bergetar. Dengan penasarannya Ali merogoh saku celananya itu. Seketika ekspresi wajahnya berubah. Ia terkejut melihat Siapa yang meneleponnya malam malam begini. Kare, karena yang menelepon adalah Pak Kapolres.
"Bisa datang ke kantor sekarang pak? Ada kasus pembunuhan di rumah saudara Jingga kepalanya dibacok, kalau bisa bapak cepat kemari Kita langsung cari pembunuhnya.
__ADS_1
Bersambung