Obsessive Love Disorder.

Obsessive Love Disorder.
Masih hidup


__ADS_3

Tin ning


Tin nong


Ting nong


Arif menekan bel dengan tidak sabarannya. Ia sudah sangat ingin memborgol tangannya Hana. Wanita psikopat itu telah menyusun semua rencananya. Arif sangat kesal, ia merasa dibodoh-bodohi wanita itu. Karena pintu tak kunjung di buka, maka Arif menggedor gedor kuat pintu utama itu. Sungguh Arif tak bisa berfikir jernih lagi, berani sekali Hana mengelabuinya.


Kreek...


Gedoran ketiga, pintupun terbuka. Nampaklah Hana dengan éksprési wajah terkejutnya. Wanita itu masih memegang handle pintu.


"A, ada apa ini Arif? apa pembunuhnya suamiku sudah tertangkap?" Arif yang erosi semakin muak melihat Hana di depanya yang pandai sekali berpura pura.


"Iya, iya Bu Hana yang terhormat. Pembunuh suami Anda sudah kami temukan dan pembunuhnya ada dihadapan saya, yaitu anda sendiri." Ujar Arif penuh kebencian, menunjuk nunjuk muka Hana, dengan mata yang melotot. Seperti ingin menelan bulat-bulat Wanita Munafik yang kini terdiri dengan tegangnya di hadapan Arif.


"A, apa maksudmu Pak Arif?" tanya Hana dengan terbata-bata wajahnya nampak panik dan ketakutan dan wajah putih itu seketika memucat.


"Borgol Wanita ini." Titah Arif pada anak buahnya, dan kini Arif membuang muka tak mau menatap Hana yang membela diri, dengan berontak saat ingin di borgol.


"Jangan..... Jangan tangkap aku Pak Arif. Aku tidak bersalah Pak Arif. Pak Arif dengarkan aku. Aku ingin mengatakan sesuatu." Terlihat kedua mata indahnya Hana berkabut. Sungguh wanita itu sangat ketakutan saat ini.


Arif yang kesal pada Hana akhirnya mengangkat wajahnya kembali menatap wanita munafik itu.


" Anda bisa membuat pembelaan di kantor polisi,


dan saya pastikan anda tidak akan bisa membelah diri. Anda akan mendekam dipenjara seumur hidup anda."


Arif bicara dengan mengacungkan tangannya kepada Hana. Memberi peringatan kepada wanita itu. Arif kesal sekali, karena merasa di kerja oleh Hana. Gara gara masalah palsu ini, hubungannya dengan istrinya memburuk bahkan istrinya meninggalkan. Dan ternyata semuanya adalah rekayasa. Semuanya adalah palsu. Ingin rasanya Arif menonjok mulutnya Hana yang di hadapan jua saat ini. Saking merasa kesal pada wanita ini.


"Ali masih hidup!"


Duar....


Duarr...

__ADS_1


Rasanya badai topan, petir menggelegar hebat di kepala Arif saat ini. Ucapan Hana membuat dunia Arif serasa berhenti berputar. Perkataan Hana itu, yang mengatakan Ali masih hidup membuatnya syok.


"APA. .. ALI MASIH HIDUP?" tanya Arif dengan mata melotot dan wajah menegang. Arif sangat terkejut mendengar ucapan Hana.


"Iya." Jawab Hana sendu wanita itu pun menunduk dengan lemas.


"Jangan bergurau bu Hana. Anda bisa saya penjara kan, karena membuat laporan palsu." Ujar Arif tegas. Suasana di tempat itu semakin memanas.


"Ti, Tidak.... Tidak.... Tidak Pak Arif.... A, aku tidak bergurau. Aku, aku mohon dengarkan penjelasanku jangan tangkap aku." Hana ambruk dihadapan Arif. Wanita itu bersimpuh dihadapan Arif Dengan air mata mengucur deras. Wanita itu terlihat sangat ketakutan, bicaranya pun terdengar pilu.


"A..Aku melakukan ini semua karena permintaan Ali.."


"Jangan ngaco kamu bu Hana. Stop sandiwara ini, semua ucapan yang keluar dari mulutmu tidak aku akan aku percaya lagi. Aapa yang keluar dari mulutmu adalah bualan." Ujar Arif tegas. "Apa lagi seret dia masuk ke mobil patroli." Titah Arif pada polisi.


"Tidak,... Pak Arif. Aku berkata jujur. Ali masih hidup. Dia yang ingin aku melakukan ini semua." Ujar Hana dengan berderai air mata. "Dengarkan ceritaku sepuluh menit saja pak Arif."


Hana memohon kepada Arif mengatupkan kedua tangannya yang sudah diborgol air mata mengucur deras membasahi pipinya yang kini pucat karena ketakutan melihat Arif. Pria itu tak bisa diajak bicara lagi, sempat Arif melaporkannya atas laporan palsu maka karirnya bisa hancur. Ia pasti kena hukum di kantor polisi.


"Bawa dia ke mobil, sekarang ...! Arif tak menggubris ucapan Hana, dia tak percaya lagi pada wanita itu.


"Penjelasan Anda bisa di kantor polisi." Ujar arif.


Hana bersimpuh di kakinya Arif. "Aku di sini korban. Aku menikah dengan Ali tapi dia tidak mencintaiku.... Dia mencintai wanita lain dia tidak mencintaiku..!!" Hana menangis histeris di hadapan Arif. Wanita itu masih bersujud di kakinya Arif.


Arif menjauhkan kakinya dari Hana. Dan Hana pum terduduk lemas di teras rumah itu.


"Aku mau menikah dengan Abang Ali karena aku memang menyukainya. Tiga bulan kami menikah tak ada komunikasi antara kami, bahkan kami tidurnya pisah ranjang. Disaat aku mendekatinya dia selalu menjauh. Aku, aku sabarkan keadaan rumah tangga kami yang tidak harmonis itu karena aku sangat mencintainya. Hingga enam bulan berlalu. Hubungan kami tetap berjalan di tempat. Aku yang penasaran, akhirnya dengan diam diam melacak media sosial Abang Ali, dan aku sangat terkejut mendapati kenyataan di chat media sosialnya. Bahwa Abang Ali mencintai wanita lain."


Huaa.. Huua.. ..


Kali ini Hana tak bisa mengontrol dirinya saat menceritakan semua masalah rumah tangganya pada Hana. 8a menangis histeris di hadapan Arif saat dia membuat pengakuan bahwa hubungan rumah tangannya sangatlah menyedihkan.


Tubuh wanita itu bergetar hebat, dengan air mata yang mengucur deras mengalir menganak sungai di pipinya. Hana terlihat sangat terpuruk saat menceritakan kisah rumah tangganya bersama ALI. "Dia mencintai wanita lain. Aku, aku yang sangat mencintainya dan ingin melihatnya bahagia akhirnya menyerah. Aku pun membiarkan dia pergi mencari kebahagiaanya, sekali kejadian itu, kami tidak pernah bertemu lagi." Jelas Hana dengan panjang lebar.


Huffttt..

__ADS_1


Arif pun mendesah penuh keputusasaan. Ia merasa telah bujang bujang waktu, karena sudah mengusut masalah yang tak ada masalahnya.


"Ayo kita pergi." Titah Arif pada anggota kepolisian.


Sudah saatnya ia pulang ke kota, ia sudah sangat merindukan istrinya Flo. Sudah empat hari Flo tidak bisa dihubungi.


"Pak Arif tunggu sebentar. Kalau bapak tidak percaya, aku akan ambilkan ponselku. Abang Ali pernah mengirimkan video padaku, saat ia sudah bersama dengan wanita yang ia cintai itu." Ujar Hana dengan sedih.


Tentu saja Arif sangat ingin melihat video itu dia sangat penasaran Bagaimana keadaan Ali sahabatnya saat ini.


Hana menyodorkan ponselnya kepada Arif. Dengan perasaan yang bergemuruh karena penasarannya terhadap Ali. Ia pun menonton video itu. Di video itu sepasang manusia yang saling mencintai yaitu Ali dan seorang wanita bernama Intan berdiri dengan bergandengan tangan menghadap kamera. Di video itu Ali menceritakan kepada Hana bahwa ia sudah bersatu dengan wanita yang ia cintai daun sangat bahagia. Ali juga tak lupa mengucapkan terima kasih pada Ali. Dia juga berpesan agar dirinya tidak usah dicari lagi dan seumpamanya ada orang lain yang ingin mengetahui dia di mana. Dikatakan saja dia sudah meninggal. Karena saat ini, Ali sudah hidup dengan identitas baru.


Saat menonton video rekaman ALI. Arif pun teringat akan curahan hati Ali, saat menikah dengan Hana. Saat itu Ali mengatakan mencintai wanita lain tapi terpaksa menikah dengan Hana. Disitulah Arif sadar bahwa kegelisahan dan kecemasan temannya saat hari pernikahannya adalah karena ia mencintai wanita lain. Arif pun akhirnya memaklumi semuanya.


"kata Abang Ali, Jika dia tidak menikahiku maka ibunya akan bunuh diri. Hal itulah yang membuat pernikahan kami tidak bahagia. Harusnya kami tidak usah menikah, kalau kejadiannya akhirnya seperti ini. Tapi aku sangat mencintainya. Hik...Hiks... Hiks...!"


Hana terus saja mencurahkan isi hatinya pada Arif dan didepan banyak polisi. Wanita itu sepertinya sudah sangat emosional.


Arif tak tertarik lagi untuk mendengarkan ceritanya Hana, dia sudah tahu inti dari semua masalah ini. Dia pun mengirim video yang ada di handphone Hana ke handphonenya, ia akan menunjukkan video itu kepada Herman, karena Herman lah yang melihat wanita itu saat dia mencoba membunuh Ali di rumahnya waktu itu. Jika benar yang di video ini adalah wanita di dalam kamarnya Ali maka selesailah masalah ini.


"Ini handphonenya bu Hana, keterangan anda untuk selanjutnya masih saya butuhkan. Saya harap anda harus berkata jujur Jika benar Ali tidak meninggal dan dia tidak ditemukan di manapun Anda masih bisa saya laporkan atas laporan palsu." Ujar Arif setelah mengembalikan ponselnya Hana.


"Ta, tapi kan bapak yang menginginkan masalah ini. A, aku memang tidak ingin melaporkannya bapak yang kemarin melaporkannya dan ingin mengusutnya. Aku hanya bilang Ali hilang pada keluarganya. Ini semua gara-gara Bapak, sehingga skenarionya jadi panjang seperti ini, seandainya Bapak tidak ingin mencari Ali ini semua tak akan terjadi."


"Kenapa anda buat skenario kalau memang Ali masih hidup? dan kalau memang ia tak ingin dicari, kenapa tak bilang samaku? Kenapa Anda membuat skenario seolah Ali memang mati. Anda masih perlu saya waspadai Ibu Hana. Masalah ini tidak akan tuntas sebelum aku bertemu dengan Ali dan hubungi Ali secepatnya, katakan pada Dia,


jikalau dia tidak muncul di hadapan saya atas semua kekacauan yang dibuatnya ini. Maka dia akan terus kukejar dia pun akan kujeblos kan ke penjara karena membuat laporan palsu." Ancam Arif pada Hana.


Arif sangat kesal pada Hana ataupun pada Ali. Arif merasa telah dibodoh-bodohi telah dikerjai selama seminggu ini ia tidak bisa tidur, memikirkan sahabatnya Ali yang menghilang dan mati dalam keadaan tragis dan ternyata semuanya adalah kebohongan. Gara-gara masalah ini rumah tangganya jadi bermasalah. Arif tidak akan tenang sebelum ia bisa bertemu dengan Ali


" Aku tidak tahu di mana lagi Ali. Kami sudah lama tidak berkomunikasi. Kenapa Bapak jadi mengancamku?" Ujar Hana tak terima dilibatkan dalam masalah ini.


"A, aku tidak mau tahu kalau Ali tidak muncul di hadapan saya maka dia akan kubuat dalam daftar pencarian orang dan Ibu Hana akan saya laporkan ke polisi atas tuduhan membuat laporan palsu." Ancam Arif pada Hana.


Saat ini Arif hanya ingin melihat sahabatnya Ali. Benarkah sahabatnya itu masih hidup atau tidak. Disaat Arif bertanya pada Hana di mana sahabatnya itu? Hana mengatakan tidak tahu di mana mantan suaminya itu sekarang. Hal ini sungguh tidak masuk akal.

__ADS_1


TBC


__ADS_2