Obsessive Love Disorder.

Obsessive Love Disorder.
Misteri


__ADS_3

"Aaawwwwuu... Tidak... Hentikan.... Aku akan ceritakan Semuanya. Aku akan buka mulut." Teriak pria yang bernama Herman. Herman inilah pria yang berpura pura cacat, dan baru saja melalukan pembunuhan.


"Aku dendam pada Ali. Aku memang ingin membunuh nya." Ujar nya dengan meringis kesakitan. "Hana dan aku adalah teman kuliah. Aku dan Hana sangat dekat. Tapi, dia menolak cintaku, karena kehadiran Ali dalam pertemanan kami. Setelah itu, kami pun lulus kuliah. Aku tak pernah lagi bertemu dengan Hana atau pun Ali. Tapi, beberapa tahun kemudian. Aku melihat Hana dan Ali di kampung. Aku pun akhirnya tahu, kalau merdeka telah menikah. Saati itu darahku mendidih melihatnya bahagia. Jadi, timbullah niat untuk memiliki Hana, dengan membunuh Ali."


Arif mencerna dengan baik, kata kata yang keluar dari mulutnya Herman. Berarti semasa kuliah Hana adalah sang promadona. Terbukti wanita itu sangat banyak yang memujanya, termasuk Herman.


Pengakuan Hana pada Arif kemaemrin, ia punya kekasih namanya Romi bukan Herman ini.


"Berarti, kamu sudah membunuh dua orang. Rosa dan Ali?" tanya Arif dengan serius menjulurkan tongkatnya mengenai dagu nya Herman. Herman si pria yang pura-pura pincang terlihat ke takutan, sempat tongkat itu melayang mengenai pop inya, serta dahinya, rahangnya biasa hancur.


"Aku hanya membunuh Rosario, dia mengkhianatiku. Semua orang menghianatiku, tidak ada orang yang mencintai ku." Teriak Herman, sepertinya pria ini psikopat, masak gara-gara cinta dia tidak pikir panjang membunuh orang. Apa segampang itu menghilangkan nyawa manusia?


"Aku hanya ingin membunuhnya. Aku belum membunuhnya. Apa dia sudah mati? hahahahaha.... Bagus... Baguslah.... Aku tak perlu mengotori tangan ini. Hana bisa ku miliki." ujar pria yang bernama Herman itu dengan tertawa semua rakyatnya.


Puukkkk..


Satu tinju mendarar di pipinya.


"Berani sekali kau tertawa di sini. kalau kamu tidak mau bicara dengan jujur, kamu tak akan pernah keluar dari penjara sini." Ancam Arif dengan penuh emosi. "Sidin jarimu ada di mobil Ali. Jadi jelas, kamu membunuh Ali."


"Aku tak membunuh Ali. Aku hanya ada niat membunuhnya."


"Ingin membunuhnya berarti bukan kamu yang membunuh Ali?" tanya Arif dengan bingungnya dia semakin pusing dengan masalah ini.


"Tadinya aku ingin membunuhnya. Tapi, saat aku mendatangi rumahnya Hana dan Ali. Aku tak bertemu dengan Ali di rumah itu. Aku yang sudah memata-matai mereka, memutuskan akan membunuh Ali, disaat rumah itu sepi. Dan kebetulan sekali, saat itu aku dapat kabar bahwa Hana ke luar kota. Kesempatan itu, tak ku sia siakan. Aku pun menyelinap masuk ke rumah


gedong itu dengan penuh kewaspadaan. Aku berhasil masuk ke kamar tidur mereka. Golok sudah ada di tangan bersiap untuk membacok si Ali yang menurutku sedang tidur dibalik selimut. Tapi, saat golok sudah menghantam tubuh yang ku kira Ali, ternyata itu bantal."

__ADS_1


Herman menjeda ucapannya. Ia terlihat ketakutan.


"Dan aku pun merasakan kepalaku sakit dan mau pecah. Ternyata kepalaku di pukul seorang wanita dari belakang. Aku gak tahu persis dia memukulku menggunakan apa. Di saat wanita itu kembali menyerangku, pukulan untuk kedua kalinya aku pun bisa menangkisnya. Di tempat itu terjadi perkelahian, bahkan wanita itu berhasil meraih golok yang ada di tanganku. Aku terpental ke mobil yang ada di rumah itu."


"Wanita? Hana maksudmu?" tanya Arif dengan bingungnya.


Herman menggelengkan kepalanya kuat ia sangat kenal dengan Hana, bahkan tanpa penerbangan sekali pun dia bisa mengenal wanita itu.


"Tidak, yang ada di kamar Itu bukan Hana dia orang lain." Sahut Herman dengan muka tegangnya. Wajahnya yang tampan kini babak belur susah.


"Mungkin wanita itu kekasih Ali. Kan Hana sedang keluar kota, bisa saja dia bawa wanita ke rumah itu." Ujar Herman.


Arif sedikit percaya dengan ucapan Herman karena saat Ali menikah dengan Hana. Ia sempat mengatakan mencintai wanita lain. Karena memang ia dan Hana dijodohkan.


"Kamu masih ingat wajahnya?" tanya Arif lagi. Arif sangat penasaran dengan wajah wanita yang diceritakan Herman.


"Oke! kamu harus menceritakan ciri ciri wanita itu." Titah Arif pada Herman.


"Panggilkan ahli sketsa, malam ini juga kita harus tahu pembunuh Surya sebesar jua." Titah Arif.


satu jam kemudian, kini Herman yang diawasi oleh Arif dan polisi lainnya, mendengar kan ciri ciri wanita yang Herman temui di rumahnya Hana.


"Rambut panjang dengan wajah berbentuk london. Hidungnya mancung, mata hulat berwarna coklat kehijauan, bibir yang tipis. Wajahnya sangat cantik seperti baru selesai dioperasi. Sangat sempurna untuk kalangan seorang wanita. Tapi, aku sangat heran, kalau dia wanita, Kenapa tenaganya seperti pria? Aku saja bisa dikalahkannya. Apa kah selingkuhan Ali itu seorang atlet pencak silat?"


"Gak usah banyak nanya. Semuanya akan terjawab, jika wanita itu bisa kita tangkap." Jawab Arif kesal.


Arif heran kok ada ya pria seperti Heran. Garang ada, cinta dan rasa cemburu dia ingin membunuh orang. Astaga....

__ADS_1


Setelah sketsa wajah wanita itu selesai digambarkan. Kini Arif Yang penasaran langsung menghubungi menghubungi Hana, dia ingin kembali menanyakan apakah Ali punya kekasih atau punya simpanan karena dari pengakuan Hana saat mereka baru pertama kali menikah. Hubungan mereka tidaklah baik, bahkan setelah tiga bulan pernikahan komunikasi diantara mereka terjalin.


Setelah sambungan telepon terhubung ke Hana


"Ya Pak Arif. Ada apa Pak Arif?" tanya Hana dengan intonasi suara tak tenang.


" Bu Hana ada sedikit perkembangan mengenai kasus meninggalnya Ali. Di sini aku ingin menanyakan, apakah Ali punya kekasih atau wanita lain?" tanya Arif penuh kehati-hatian.


"Wanita lain? maksud Pak Arif apa Ya?" terdengar suara Hana semakin bingung. Begitu juga dengan Arif juga bingung gimana cara menjelaskan pada Hana bahwa sebenarnya Ali mencintai orang lain.


" Begini Bu, apa Ibu pernah mencurigai Ali punya kekasih, punya simpanan saat kalian berumah tangga?"


"Tidak, aku tak pernah mencurigai suamiku Ali, kalau dia punya wanita lain. Memang kami dijodohkan, tapi aku kenal sebelumnya pada Ali, memang Ali bersikap dingin padaku tapi lama-kelamaan komunikasi kami sudah membaik dia tidak pernah selingkuh." Jawab Hana dengan tegas.


"Okke, baiklah kalau begitu Bu Hana, jikalau aku nelpon lagi, mohon kerjasamanya."


" Oke Baik pak, terima kasih."


Arif memutuskan panggilan.


Shiiittt..


Jadi siapa sebenarnya pembunuh Ali. Ya Allah... beri secepatnya petunjukmu. Aku ingin pulang ke kota. Ya Allah aku sudah sangat merindukan istriku, sangat mengkhawatirkan keadaan istriku Flo. Sampai saat ini dia tidak bisa dihubungi. Ponselnya gak aktif tuhan.


Arif menggerutu dalam hati, kenapa masalah ini sangat sulit untuk diungkap. Tadinya Arif sudah merasa sedikit legah, tertangkapnya Herman. Karena Herman lah, si tertuduh pembunuhan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2