Obsessive Love Disorder.

Obsessive Love Disorder.
Adegan romantis


__ADS_3

Huufftt..


Arif kembali manarik napas dalam dan panjang. Seperti nya, Hanya itu yang bisa Ia lakukan, untuk menenangkan dirinya yang kini sangat berhasrat.


Flo tertawa kecil. Tangan nakalnya yang lembut mulai meraba ular kobranya Arif yang siap mematuk.


Dengan keberadaan Flo di sisi Arif hari ini. Ia merasa sangat bersemangat di pagi ini. Arif


yang duduk di tepi ranjang tak bosan-bosannya melihat ke arah sang istri yang kini sedang berhias di depan cermin. Istrinya itu memang sangat cantik. Memandang wajahnya yang lembut dan Teduh membuat hati senang dan damai. Makanya Arif langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada sang istri. Apalagi sikap dan gaya bahasanya Flo yang sangat baik dan lembut itu.


Sangat jarang sih seorang model atau aktris yang punya kepribadian baik seperti flo. Biasanya pada sombong. Bermula dari pertemuan mereka di acara sebuah fashion show, di mana saat itu Arif bertugas menjaga keamanan di tempat itu.


Pertemuan itu pun berlanjut, di saat Flo yang pertama kali meminta kontak Arif. Dengan, meminta bantuan menyelidiki apartemennya yang dirampok.


Arif yang sedang senyum-senyum kini bangkit dari duduknya. Dia pun mendekati Flo yang tengah duduk di kursi meja rias. Pria itu mendaratkan wajahnya di bahu sang istri, menempelkan pipinya ke pipi lembutnya Flo.


"kalau diingat-ingat, pertemuan kita pertama kali dulu, aku tak menyangka kita berjodoh sayang." Ujar Flo tersenyum tipis menatap syahdu tampilan bayangan Arif di cermin.


"Iya ya? bermula saat kita bertabrakan di lorong mau ke toilet. Kamu nya keluar dari toilet wanita, Hubby mau masuk ke area toilet pria." Sahut Arif tersenyum tipis.


"Iya, tapi aku yang apes. Bahunya Hubby menyenggol dadaku keras sekali. Sakit tahu, syukur ini dada asli. Jadi gak pecah. Coba implan, pasti hancur lebur." Ujar Flo merengut melirik Arif yang kini menjauhkan wajahnya dari bahu sang istri.


"Hehhehe.. Coba Hubby lihat.."


Tangan Arif dengan cepat merangkum gundukan kembarnya Flo, dan langsung mer emas emas nya.


"Iiihh.. Sebel..!" Flo mengibaskan kuat tangan nakalnya Arif. "Hubby.. Jangan gitu dong. Aku merasa itu pelecehan. Kalau mau kayak gitu, ada alurnya dong, waktunya juga harus tepat. Gak enak tahu." Ujar Flo merengut, tapi wajahnya terlihat menahan senyum.


"Beneran nggak mau? Gak enak ya? ya sudah kalau nggak mau. Cepetan berhiasnya, Hubby tunggu di meja makan saja." Arif menyeret kakinya cepat dari tempat itu.


Dia bersikap seperti itu, guna membatasi dirinya yang sudah bergairah ke pada Flo. Diia tidak sanggup untuk menyentuh istrinya saat ini karena Flo sedang sakit.


Ceklek.


Mendengar suara pintu kembali dibuka, Flo menoleh ke arah pintu. Ternyata suaminya yang membuka pintu. "Jangan lupa bawa obatnya kemeja makan. Nanti kamu lupa lagi minum obat." ujar Arif lembut, dengan tatapan mata penuh perhatian.


Flo tersenyum lebar. Ia sangat senang dengan perhatian suaminya itu. "Oke.. oke Hubby sayang..!" Ujar nya dengan ceriahnya.


Arif meninggalkan tempat itu, tanpa menutup pintu kamar. Arif tahu kalau Flo, sudah selesai berhias. Daan tak berapa lama Flo berlari kecil menyusul sang suami ke luar. Di saat dia berhasil mensejajar langkahnya dengan Arif. Dengan centilnya tangannya yang gemulai itu langsung menggandeng Arif. Sang ibu yang menunggu Arif dan Flo di meja makan. Hanya senyam senyum melihat kemesraan yang ditunjukkan anak dan menantunya. Ibunya Arif ikut bahagia melihat anaknya juga bahagia.


Arif mempersiahkan sang istri duduk di kursi. Dan Ia pun duduk di kursi sebelah Flo. Di atas meja berbentuk petak itu, telah terhidang makanan sederhana khas orang kampung.


Di pagi hari ibunya Arif sudah terbiasa makan, makanan berat dengan Nasi, sayur dan sambelnya. Tidak ada acara sarapan- sarapan. Seperti sabu (sarapan bubur), makan roti atau pun makan sarapan lontong dan mie.


"Ya Allah Bu, ini enak banget aku sangat merindukan makanan ini." kedua matanya Flo terlihat berbinar-binar, di saat melihat gulai khas daerahnya Arif. Ada sayur daun ubi tumbuk yang di gulai yang dicampur ikan air tawar yabg diasap, atau disale. Serta ada sambal tuk tuk dan sambal ikan asinnya.


Arif hanya tersenyum kecil melihat tingkah polosnya Flo. Arif tak heran dengan sikap sang istri yang heboh dengan makanan di hadapan nya. Arif juga tahu bahwa sayur itu kesukaan Flo. karena sebenarnya Flo sudah cerita. Flo juga berasal dari kabupaten yang sama dengan Arif, tapi beda kecamatan.


Semua identitas Flo, Arif ketahui. Saat mereka ingin menikah waktu itu, saudaranya Flo juga hadir dalam pernikahan mereka yaitu paman dan bibinya Flo. Sedangkan orang tuanya Flo dari penjelasan Flo sudah meninggal.

__ADS_1


"Ya Sudah ayo disantap sayang." Ujar ibunya Arif lembut.


" Iya Bu, Pasti bu. Semuanya akan kusantap Dan nanti sore aku yang harus memasak, makan malam kita. Ibu harus mencicipi masakanku." Dengan semangatnya Flo mengoceh, sambil menatap sang suami dan ibu mertua dengan bahagianya. Flo merasa hidupnya sangat sempurna hari ini. Walau ia sedang menderita penyakit. Dia harus tetap semangat, memberikan yang terbaik untuk sang suami.


***


Setelah selesai makan pagi. Kini Flo dan Arif tengah di perjalanan menuju rumah orang tuanya Ali. Arif mengajak Flo untuk berkunjung ke rumah duka sahabatnya. Setelah itu, Arif akan ke kantor Posisi lagi. Karena tadi, Ia sudah di telepon pihak kepolisian, atas hasil forensik mobilnya Ali yang terbakar.


Saat sampai Di pelataran rumah orang tuanya Ali. Arif dan Flo dibuat sedikit terkejut melihat banyaknya kendaraan yang terparkir di halaman rumah mewah itu. Flo dengan bingungnya menoleh ke arah Arif yang kini menatap serius ke rumahnya Ali.


" kok banyak orang ya By? apa ini rumah sahabatmu itu? apa ada acara di rumah itu?" tanya Flo menatap lekat Arif.


"Iya, bisa saja ada acara. Mungkin keluarga jauhnya Ali, ada yang datang." Sahut Arif, ia terlihat bersiap siap untuk turun. Tapi, Flo terlihat mematung di jok mobil.


"Ayo turun Honey, kita kan mau mengucapkan rasa belasungkawa pada ibunya Ali. Kamu kan belum bertemu dengan ibunya Ali." Arif kini berdiri di sisi pintu mobil sebelah Flo.


"Aku malu By. Aku nggak kenal dengan orang-orang di sana. Aku nunggu di sini saja deh nggak usah masuk ke sana." Ujar nya dengan memelas. Keningnya terlihat mengkerut.


" Iya nggak boleh gitu dong Sayang. kamu seorang model, artis lagi, sudah banyak iklannya. Masak malu jumpa dengan orang." Arif mulai merasa tingkah nya Ali aneh.


"Ya karena itu By, nanti ada orang yang kenal aku di sana. Ada yang minta foto tanda tangan kan ribet."


"Kalau di kampung ini, ku pastikan nggak ada yang mengenalmu. Orang kamu hanya model iklan obat serangga, obat nyamuk baygon."


"Iihh.. Hubby, karena aku model obat nyamuk. Makanya orang kampung pada kenal. Kan di kampung yang banyak nyamuk. Aku gak mau kesana. Nanti orang orang pada lihatin aku. Males...!" Flo tetep kekeuh tak mau turun.


Arif hanya bisa menggeleng dengan bingungnya. Ia pun akhirnya tak mau memaksa Flo ikut masuk ke rumah duka itu. Ia menyeret kakinya dengan sangat hati hati menapaki jalan becek, yang tidak diaspal sempurna. Tengah malam, hingga shubuh. Hujan deras di kampung mereka. Jadilah jalanan yang tak beraspal sempurna itu, becek.


Arif berlari guna menolong seorang wanita yang terjatuh karena terpleset. Saat wanita itu hendak masuk ke dalam mobil yang terparkir di halaman rumah orang tuanya Ali.


Tapi, gerak Arif kalah cepat. Pantat wanita itu, sudah terlebih dahulu mencium tanah liat yang licin itu, dan tangannya terasa sangat sakit, dibagian siku. Karena Di saat ia hendak terjatuh. Tangannya refleks menahan bobot tubuhnya.


"Oouuwww... Sakit...!" Keluhnya dengan berlinang air mata.


Arif kini sudah berada di hadapan wanita itu. Tapi, wanita itu tak menyadari ke beradaan Arif di hadapannya. Karena wanita yang terjatuh itu, menangis dengan menutup kedua matanya.


"Ana,.. Alana... Kamu kenapa?!" tanya Arif dengan paniknya, dia berjongkok guna mensejajarkan tubuhnya dengan Ana.


Seketika wanita yang menangis itu membuka kedua matanya yang berair. Dia terkejut mendengar suara itu. Tubuhnya sedikit mencondong ke belakang, saking terkejutnya melihat Arif di hadapannya. "Arif, Abang Arif. kamu di sini?" tanyanya dengan ekspresi wajah meringis kesakitan. Tangan kanannya terasa sangat sakit. Sepertinya terkilir di bagian sik.


Hana berusaha untuk bangkit dengan menopangkan tangan kirinya yang tidak sakit ke pahanya, sedangkan tangannya yang terkilir, ua biarkan menggantung di udara.


Arif yang tak tega melihatnya langsung membantu Ana untuk bangkit. Tapi, sial di saat dia mencoba membantu Ana untuk bangkit. Ana terlihat canggung. Dengan gerakan refleks ia mengibaskan tangan Arif dengan tangan kirinya. Tentu Arif tak mau tinggal diam. Ia tetap memaksa membantu Ana untuk bangkit.


"Aaaww... lagi-lagi Ana terpeleset, memang tanah yang mereka pijak saat ini, sangat licin. Arif berusaha menahan tubuh Ana, dengan memeluk pingganganya erat. Akhirnya terjadilah adegan romantis di depan rumahnya Ali. Bahkan tak di sengaja. Bibirnya Ali menempel di bibirnya Ana.


Hhuuuuh....


Waaahhh...

__ADS_1


Suara ribut dari orang-orang di sekitar, akhirnya menyadarkan Arif dan Hana. Arif yang terkejut, karena Sudah jadi tontonan orang orang. Tanpa sadar melepas belitan tangannya di pinggang Ana. Hal itu menyebabkan Ana, kembali terjatuh ke tanah. Dan untuk kedua kalinya, bokong Ana, bertumbukan dengan tanah.


Arif dibuat panik. Ia yang merasa kejadian ini tidaklah benar. Menoleh ke arah mobilnya yang terparkir. Dan di sana. Mata indahnya Flo, terlihat. Berkabut menatap nya dari kaca jendela mobil. Dan seketika, Flo kembali menutup pintu kaca mobil itu dengan cepat.


" Ana... Kamu tidak apa-apa?" Kini seorang pria yang bersama Ana sewaktu di hotel, menolong Ana untuk bangkit. Dia menahan tubuhnya Ana, tidak terjatuh lagi.


"Sakit...!" Keluh Ana, Arif hanya memperhatikan interaksi pasangan sejoli itu. Kemudian menyeret kakinya untuk masuk ke rumah orang tuanya Ali. Dan saat ini, banyak teman sekolah nya dulu, sedang berada dua beranda rumah orang tuanya Ali. Ternyata Alumni SMA mereka sedang melakukan kunjungan sosial ke rumah duka.


"Waaahhh... Pak Polisi akhirnya muncul juga." Ujar seorang pria, merentangkan tangannya menyambut Arif, yang terlihat kikuk. Karena malu, dengan insiden, yang ia alami dan Ana.


Bahkan dalam keadaan genting bibir mereka malah bersentuhan hal itu sungguh menjadi pikiran buat Ali tentu saja akan terjadi lagi pertengkaran di rumah dengan Flo. Sudah jelas seratus persen, Flo akan marah. Kembali kesalah paham akan terjadi.


Flo sudah cemburu pada Ana, saat mereka jumpa di hotel kemarin. Dan tadi, malah adegan menenangkan dan mendebarkan. Koq bisa Biasanya ku peluk ana tadi.


Hadeuhh..


Arif membatin. Ia tak terlalu serius lagi menyambut teman teman satu sekolah nya. Ia sudah sangat malu.


Walau begitu, ia tetap nimbrung dengan teman teman lainnya.


"Hei Pak polisi, aku tak yakin dengan kematian sahabat kita ini. Kau selidikilah sahabatmu itu " Ujjar si Bonar dengan muka sedihnya menatap ke arah orang tuanya Ali.


Kini mereka telah duduk berbentuk Bundar di ruang tamunya Ali, beralaskan tikar.


"Ia, aku juga mikirnya demikian. Dari semalam, aku sudah kembali melakukan penyelidikan, dan hari ini pasti akan kudapatkan hasilnya." Ujar Arif dengan penuh keyakinan.


"Iya Bro, kamu dukung itu. Kami siap membantu jika diperlukan."


"Oouuww..... Ana yang sedang diurut oleh teman pria nya, meringis kesakitan. Tentu saja teriakannya itu, menyita perhatian orang-orang di tempat itu. Saat ini Ana dan kekasihnya agak berada sedikit jauh dari mereka yang berkumpul. Ana dan kekasihnya, berada di teras rumah.


" kamu sih bandel/ Sudah kubilang tadi aku saja yang mengambil tas, kamunya bandel. Lihatlah tanganmu jadi terkilir kan?" Dengan jelas terdengar pembicaraan dari teras rumah ke dalam.


Ibunya Ali pun bangkit dari duduknya, ia menyeret kakinya ke arah teras rumah, menghampiri Ana dan kekasihnya yang duduk di kursi bambu panjang. Kekasihnya Ana, itu terlihat masih mengurut tangan Ana yang terkilir.


"Ya sudah Ibu aja yang pijat, ibu bisa kok memijat." Ujar Ibu nya Ali ramah.


kekasihnya Ana bangkit dari tempat duduknya, dia berdiri di sebelah Ana, sedangkan ibunya Ali mulai memijat tangannya Ana yang terkilir. Dan kembali ringisan menahan kesakitan Ana keluarkan dari mulut mungilnya. Dan semua teman-temannya yang ada di tempat itu kembali berkerumun menyaksikan Ana yang dipijat oleh ibunya Ali.


Tak lama mereka menonton Ana yang dipijat. Sebelum mereka kembali, membentuk kelompok, untuk bercerita banyak hal. Mulai dari kasus kematian Ali. Hingga kehidupan mereka masing masing.


Dan Ternyata, kebanyakan temannya Arif telah menikah. Dan saat itu pula, Arif mengaku telah menikah. Sadar dengan pengakuannya. Ia pun akhirnya menoleh ke arah mobilnya tadi parkir. Ternyata Mobilnya sudah tak berada di tempat itu. Itu artinya, Flo telah pergi.


Huufftt..


Arif menarik napas panjang. Masalah besar kini ada di hadapan mata.


Ia pun tak tertarik lagi berbicara dengan teman teman nya. Ia menghubungi pak Kapolres. Agar menjemputnya ke rumah Ali. Dan penyelidikannya atas kematian Ali, akan kembali diselidiki.


TBC

__ADS_1


Hai Rider Sayang tinggalkan like komentar positifnya 🙂🙏😏


__ADS_2