Obsessive Love Disorder.

Obsessive Love Disorder.
Heran


__ADS_3

Arif dan ibunya telah sampai di rumah sakit. Ia sudah tak sabar untuk segera cepat sampai ke ruang rawatnya Flo. Ingin berlari cepat. Tapi, adalah daya. Ibunya Arif sudah tua, tak bisa jalan dengan cepat. Jadilah Arif harus sabar, menuntun sang ibu berjalan.


Huuffftt..


Arif menghela napas panjang. Dan membuangnya kasar. Ia dan Ibunya tengah berada di depan sebuah ruang rawat inap. Arif merasa sedih serta ketakutan untuk berjumpa dengan Flo. Ia merasa sangat bersalah gara-gara mengungkap hilangnya Ali. Ia malah mengabaikan istrinya. Ia sudah sangat berdosa sebagai suami karena tidak bertanggung jawab kepada isterinya itu.


"Kenapa nak?" tanya Ibunya Ali dengan bingungnya, melihat sang putra yang nampak bingung.


Arif menatap sang ibu dengan pasrah. "Gak ada bu." Sahut nya tersenyum tipis, mencoba untuk menenangkan hatinya yang bergejolak


Tok


Tok


Tok


"Assalamualaikum...!" Ia akhirnya memberanikan diri. Ngapain seformal itu, masuk aja kan bisa. Tapi, karena Arif merasa bersalah. Ia harus mengetuk pintu terlebih dahulu. Takut nya main nyelenong malah diusir.


" Waalaikumsalam..." terdengar suara sahutan dari dalam.


Dan pintu pun dibuka seseorang.


"Pak Arif...!" yang membuka pintu adalah asistennya Flo. Pria yang berprilaku seperti wanita itu pun membuka pintu dengan lebar.


Terlihat Arif tersenyum lebar. Ia celingak celinguk di ambang pintu, guna melihat sang istri. Bagaimana ekspresi wajah istrinya itu saat ini. Kalau riang gembira, ia akan masuk dengan cepat. Tapi, kalau cemberut dia takut untuk masuk, kalau tidak dipersilahkan.


"Pak, ayo masuk...!" Ujar pria yang bernama Angel, asisten nya Flo.


Arif melirik sang ibu. Ibunya itu memberi kode dengan kedipan mata. Agar mereka masuk ke dalam.


Dengan perasaan yang campur aduk itu. Arif pun menyeret kakinya menghampiri sang istri yang kini masih terbaring lemah di atas bed.


Arif dibuat semakin merasa bersalah, disaat wajah cantiknya Flo telah dibanjiri air mata. Arif langsung memeluk sang istri.


"Maafkan Hubby ya?'


Ujar nya dengan sedih. Apalagi saat ini Flo semakin terisak.


" Hu...huk... huk.. Aku pikir Hubby gak akan pulang lagi." Ujarnya dengan terisak dalam dekapan Arif.


"Maaf... " Arif tak mau membuat penjelasan atau membela diri. Karena tak ada lagi gunanya.


Sebenarnya dalam masalah ini, semuanya bukanlah kesalahan Arif. Flo juga salah, ia main kabur saja dari rumah.


"Aku pikir, Hubby marah, karena aku pergi begitu saja. Aku mau sembuh By. Tak mungkin aku di kampung berlama lama."


"Iya.. Kamu gak salah sayang." Arif mengurai


pelukannya, menatap sendu wajah pusat nya Flo. Tangannya menjulur mengusap air mata membasahi pipi wanita yang sedang lemah itu.


Flo menoleh ke arah ibunya Arif yang kini juga sedang berdiri di sisi bed. "Maafkan Flo ya Bu." Ujar wanita itu lemah, tapi ia berusaha tersenyum tipis.

__ADS_1


" Iya nak. kamu nggak salah kok." Sahut Ibunya Arif membelai kepalanya Flo dengan penuh kasih sayang.


Flo malah semakin terisak. Hal itu membuat Arif jadi semakin bersalah.


"Jangan menangis lagi sayang, kalau kamu menangis seperti ini Hubby merasa jadi suami paling jahat di dunia ini." Ujar Arif, jemarinya kembali terjulur mengusap air matanya sang istri.


"Iya by. Jangan pernah tinggalkan aku ya?" Ujar Flo dengan memelas.


Arif mengangguk lemah. "Mana mungkin Hubby meninggalkanmu sayang."


"Iya, aku takut juga Hubby tinggal kan. Apalagi Hubby deket dengan Alana."


"Alana?" tanya ibunya Arif dengan penasaran nya.


Huuffftt..


"Sudah Ya, hal kecil gak usah diperbesar. Adek jangan terlalu posesif gitu." Sahut Arif dengan malas. Kenapa pula Flo bahas Alana. Mana


Mungkin dia suka pada Alana. Arifkan sudah punya istri istrinya itu berarti belum mengenal karakternya Arif.


"Nak... Putra ibu ini sangat setia. Jangan ragukan, kemarin dia sedang syok karena kehilangan sahabatnya." Jelas Ibunya Arif.


"Iya bu, ia lebih takut kehilangan sahabat nya, daripada aku." Jawab Flo cepat, merajuk dan membuang muka


"Eemm.. Emmmuuaacchh.. Jangan ragukan cintaku padamu Honey." Ujar Arif dengan muka memerah. Ia yang gemes dengan tingkah nya Flo, tanpa pikir panjang lagi menghadiahi kecupan mesra di kening sang istri.


Flo yang tak menyangka, Arif akan melakukan hal romantis itu di hadapan Ibunya. Akhirnya hanya bisa menahan senyuman. Rasa kesalnya seketika terobati dengan perlakuan romantisnya Arif.


Sore harinya, Arif meminta keluar pada Flo, setelah dokter datang visit ke ruangan nya Flo. Arif mengatakan mau membeli makanan. Flo mengizinkan suaminya itu keluar dari ruang rawat itu.


"Dokter... Dokter..!" Arif mengejar sang dokter yang kini hampir saja naik lift.


Sang dokter menoleh kebelakang. Ia menunggu Arif menyusulnya.


"Dok, bolehkan aku minta waktunya sedikit saja. Aku mau tanya tentang keadaan istri saya." Ujar Arif tegas kepada dokter berjenis kelamin pria itu.


"Emmmm... Sebentar..!" Dokter menjulurkan tangannya pada Arif. Kemudian menoleh ke arah suster. "Sus, apa jadwal visit sudah selesai?"


"Iya Dok, sudah." Sahut suster sopan pada dokter.


Setelah mendapat jawaban dari suster dokter pun menoleh ke arah Arif. "Baik Pak saya punya waktu. Ayo kita ke ruangan saya." Ujar Dokter pada Arif.


Dokter Suster beserta Arif masuk ke dalam lift di dalam lift tak ada pembicaraan antara mereka bertiga. Dan saat keluar daripada lift. Arif mengikuti langkah dokter menuju ruang kerja nya. Setelah sampai di ruang kerja yang terbilang sangat nyaman itu. Arif dipersilakan duduk di kursi yang dibatasi oleh meja di hadapan sang dokter.


"Ya pak, apa yang bisa saya bantu?" tanya dokter itu ramah pada Arif.


Arif tersenyum tipis, ia terlihat tak percaya diri untuk menanyakan hal yang mengganjal di hatinya.


"Eemm... Aku hanya ingin mengetahui kondisi istri saya pak." Ujar Arif so pan.


"Istri bapak, eemmm..." Dokter terlihat berfikir. Ia banyak pasien, jadi ia tak ingat semua pasien nya kalau gak disebut kan namanya.

__ADS_1


"Istri saya namanya Aliya Flo Yoshi. Menderita penyakit kista dan sedang dirawat di tangan dokter." Ujar Arif.


"Oouuww... Ibu Flo." Sahut Dokter dengan sedikit tercengang.


"Iya Dok. Oh ya Dok, apa keadaan istri saya baik baik saja setelah di operasi?" Tanya Arif sangat hati hati.


"Eemmm.. Aku pikir ibu Flo belum menikah. Karena sudah tiga hari dia di rawat. Batang hidungnya bapak tidak nampak." Ujar Dokter dengan tegas. Arif terlihat malu dan enggan pada dokter. Jelas sudah dokter ini pasti punya penilaian buruk akan dirinya yang seperti tidak peduli pada isterinya. Istrinya melakukan operasi besar dia tidak ada di sisi istrinya itu.


"Eemm kami baru menikah pak, dan kebetulan seminggu ini aku ada urusan penting di kampung." Sahut Arif sopan.


"Oouuww... Jadi bapak tahu nya istri bapak itu menderita kista?"


Ucapan dokter membuat Arif sedikit bingung kenapa pula bertanya seperti itu?


"Ia pak." Jawab Arif tersenyum tipis.


" Apa tujuan Bapak menikahi ibu Flo. Apa hanya ingin menikah atau sangat ingin punya keturunan? tentu saja pertanyaan dokter membuat Arif bingung. Jelas dia mau menikah karena Ingin punya anak.


"Pada umumnya semua orang yang ingin menikah pasti ingin memiliki keturunan Pak." Jawab Arif tersenyum kecut, pertanyaan Bodoh apa itu?


"Oouuww... Bener sekali. Eemmm... Soal kondisi ibu Flo sendiri. Untuk lebih jelasnya bapak Tanya kan langsung pada Ibu Flo ya."


"Koq gitu Dok?" Tanya Arif bingung.


"Menururku, kalau bapak punya tujuan menikah untuk memiliki keturunan, sebaliknya bapak ceraikan saja istri bapak. Cari wanita normal, jangan wanita yang gak normal."


"Dok.. Kenapa dokter bisa bicara seperti itu?" Arif semakin dibuat bingung dengan pernyataan dokter ini.


"Eemm.. Tak ada yang bisa ku Jelas kan tentang istri bapak. Dia datang berobat ke sini, ya kami obati. Dan asal bapak tahu, bau busuk yang keluar dari kema luannya, tak akan pernah bisa sembuh, walau sudah diobati." Jelas Dokter serius


"Oouuww.. Iya Dok." Jawab Arif nanar. Kepalanya langsung pusing mendengar ucapan sang dokter. Memang sih, Flo mengatakan kalau setelah mereka berhubungan maka bagian intinya akan mengeluarkan bau tak sedap.


"Saranku ya pak, secepatnya tinggalkan istri anda." Jelas dokter lagi.


Arif tersenyum sinis menanggapi ucapan dokter. Baru kali ini dia bertemu dengan dokter saat konsultasi memberikan usul agar bercerai. Di tanya Apa, di jawab Apa. Gak nyambung bener bicara dengan dokter ini.


"Oouuww iya pak. Tapi, saran bapak tak akan saya indah kan." Sahut Arif tegas, enak saja saranin orang cerai. "Emangnya pernikahan itu buat main main.


" Oouuww... Itu terserah pada bapak. Saya hanya kasih usul. Karena ku lihat bapak pria baik baik. Sayang saja rasanya waktunya habis dengan menikahi wanita yang tak bisa memberikan bapak keturunan." Jelas dokter lagi dengan serius.


" Tolak ukur kebahagiaan dalam berumah tangga tak hanya harus memiliki anak dok. Bnyak orang yang memiliki anak justru tidak bahagia. Bahkan anaknya jadi benalu buat mereka. Apa dokter Tidak Baca berita akhir akhir ini bahwa ada anak yang membunuh orang tua nya." Ujar Arif dengan nada kesal dia merasa tak suka dengan dokter ini.


Huuffttt..


"Iya pak, yang anda katakan sangat benar. Kan saya hanya mengatakan, kalau anda tujuan menikahnya untuk memiliki anak. Ya sebaiknya Anda dan istri anda bercerai saja. Tapi, kalau memang tujuan dalam pernikahan anda bukan untuk memiliki anak. Ya silakan! kalau tidak ada lagi yang mau ditanyakan, bapak boleh keluar


Saya masih ada urusan ini." Ujar Dokter ramah.


Arif bangkit dari duduknya. "Baik pak, terima kasih atas waktu dan nasehatnya." Ujar Arif tegas, menyeret kakinya dengan cepat dari ruangan itu.


"Dasar... dokter aneh yang ditanya apa jawabnya apa." Ujar Arif kesal, bicara sendiri dalam lorong rumah sakit itu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2