
Arif masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang campur aduk. Antara takut, sedih dan kesal bercokol di dadanya. Hal itu terjadi Karena istrinya itu tak bisa dihubungi dalam lima hari ini. Memutus komunikasi secara sepihak.
"Flo.... Honey... Kamu di mana?" Ujar Arif tersenyum bahagia akhirnya ia bisa pulang juga ke rumah.
Rumah adalah tempat terindah dan ternyaman karena adanya orang-orang tercinta yang menunggu kedatangan kita. Membuat rumah makin menenteramkan. Mungkin rumah bukan bangunan yang megah, tetapi di dalamnya tersimpan banyak kisah yang tak ternilai.
Yang dipanggil-panggil tak juga menampakkan batang hidungnya. Arif dibuat jadi bingung dia punya hanya bisa nyengir kuda pada ibu serta Alana yang terlihat canggung berdiri di ruang tamu itu, namanya juga kedua wanita beda garansi itu baru pertama kali menapakkan kakinya di rumahnya Ali yang tergolong cukup megah itu.
"Ke mana istri ku ya?"
Ibunya Arif dan Flo tersenyum tipis menanggapi ucapannya Arif. Mana mereka tahu di mana wanita itu.
"Tuan... Anda sudah pulang?" Arif menoleh cepat ke arah Bin Sakinah yang muncul dari arah dapur.
"Du mana istri ku bi?" tanya Arif serius.
__ADS_1
Biasanya Flo sudah olah raga di taman setelah sholat sbubuh. Hingga pukul 6 pagi, ini batang hidungnya gak nampak di taman.
Bin Sakinah terlihat sedih. "I, itu, nyonya sudah tiga hari di rumah sakit Tuan."
"Apa...? Astagfirullah.. Ya Allah.... Ampuni dosa hamba, yang telah menelantarkan istri hamba ya Allah." Arif merutuki dirinya, Yang bandel karena tak mau mendengarkan ucapan istrinya itu sejak awal. Ya, Flo sudah mengatakan pada Arif. Agar tidak usah menyelidiki kasus hilangnya Ali. Tapi Arif tak mendengarkan ucapan istrinya itu.
Ia lebih peduli pada Ali. Padahal istrinya itu sedang sakit. Arif merasa sangat menyesal. Karena terobsesi dengan kasus Ali, malah mengabaikan sang istri.
Tangan ibunya Arif menjulur meraih tubuh gemetarnya Ali, karena menahan isak tangis. "Ayo kita jenguk istrimu sekarang." Ujar sang ibu lembut.
"Iya bu." Ali, ibunya dan Hana kini kembali naik ke mobil. Mobil yang dikenderai supir itupun melaju menuju ke rumah sakit. 10 menit di perjalanan. Alana minta diturunkan. Ia akan naik taxi saja menuju rumahnya.
"Pulang ke rumah bu " Sahut Hana sopan.
"Bukan nya rumah kalian di Tebing?" Ibunya Arif kembali bertanya.
__ADS_1
"Gak bu, kami sudah pindah setahun yang lalu. Pak, aku turun di sini." Ujar Alana dengan cepat. Ia tak mau ikut ke rumah sakit karena, apabila dia ikut ke rumah sakit, maka akan terjadi lagi salah paham dan pertengkaran antara Arif dan istrinya Flo nanti nya.
Mobil menepi, Alana turun dari mobil nya Arif. "Terima kasih bu, Abang Arif telah selamatkan aku." Ujar Alana sopan. Ia bahkan membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.
"Iya Nak, kamu hati hati ya?" Ujar ibunya Arif.
"Iya bu." Sahut Alana ramah.
Arif yang sedang ke pikiran keadaan istrinya Flo. Tak menggubris perkataan Alana. Ia sudah sangat cemas, jadi tak tertarik membahas hal lain.
"Makasih ya bang." Alana mendekati pintu mobil tempat Arif berada. Ia bahkan mengetuk
kaca Jendela pintu mobil itu agar Arif membukanya. Saat Arif membuka kaca jendela mobil itu nampaklah wajah cantiknya Alana yang senyum tipis penuh ketulusan dilemparkan oleh Alana pada Arif
"Makasih ya Bang "
__ADS_1
"Oohh.. Iya dek" Sahut Arif, akhirnya pria itu membalas senyum nya Alana.
TBC