Obsessive Love Disorder.

Obsessive Love Disorder.
Bermohon


__ADS_3

Hana semakin terlihat tertekan dan sangat sedih. "Aku ke sini, mau bermohon. Agar laporan kasus Ali bapak cabut." Hana kini bersujud di hadapan Arif. Arif yang terkejut akan sikapnya Hana. Mundur dua langkah. Tak mau ada orang yang bersujud padanya. Karena bagi ARif, kita hanya boleh bersujud pada Sang Pencipta.


"Kalau kamu datang ke sini, hanya untuk bermohon agar laporan penahanan Ali dicabut. Maaf ya bu Hana. Aku tak bisa kabulkan permintaan ibu saat ini." Jawab Arif sopan. "Sebaiknya ibu pulang saja. Aku tak mau lagi mendengar cerita ibu soal Ali."


"Please... Cabut laporannya pak, berikan dia waktu untuk berubah untuk bertobat."


"Gak Bu Hana, bukti kejahatan nya sudah terkumpul." Arif berbicara tegas.


Hana masih bersujud di hadapan Arif. "Kasihan Ali pak Arif. Hidupnya tak pernah bahagia, karena kelainan yang ia miliki." Ujar Hana masih terisak di hadapan Arif.


Arif sangat kesal mendengarkan ucapan Hana. Ia jadi semakin membenci Hana. "Anda sudah ikut menjerumuskan Ali ke dalam kubangan Dosa. kapau anda sudah tahu dia punya kelainan, harusnya anda meluruskannya bukan malah ikut menherumuskannya." Ujar Arif tegas menunjuk Hana yang masih bersimpuh di hadapannya.


"Sebaiknya Anda pergi sebelum aku lapor ke polisi untuk menangkap anda, atas tuduhan membuat laporan palsu kematian seseorang."


Arif bicaranya penuh dengan emosi wajahnya yang putih kini merah sudah bak tomat matang dan dadanya terlihat berdebar debar, karena menahan emosi. Tadinya suasana hati Arif sudah lebih membaik tapi dengan kedatangan Hana siang ini. Suasana hatinya kembali memburuk. Yang Arif kembali teringat atas kebodohan yang dilakukan sahabatnya Ali, yang telah ikut menghancurkan hidupnya.


"Aku sangat mencintainya. Karena terlalu mencintainya, aku akan bahagia jika dia bahagia." Ujar Hana terisak, air mata mengucur deras membasahi pipinya yang putih.


"Tak perlu Anda curhat kepada saya atas perasaan anda kepada si Ali Eh salah si Aliyah aku sudah lupa kalau namanya sekarang sudah berubah, dari Ali Muhammad menjadi Aliya Flo Yoshi. Hahahaha...!" Arif menertawakan diri sendiri, koq bisa dia ditipu si Ali.


"Dan asal kamu tahu Ibu Hana. Aku juga sangat membencimu, aku trauma seumur hidup Atas kejadian ini, rasanya aku takut untuk menyentuh wanita karena kebersamaan dengan Ali terus berputar-putar di pikiran ku. Dan jika teringat Ali, ingin rasanya ku kuliti tubuh ini, karena aku jijik jika mengingat sentuhannya." Arif bicara dengan menahan emosi. Dadanya kembali terasa sesak dan nyeri. Ia pun akhirnya mendudukkan bokongnya di kursi yang sedikit jauh dari keberadaan Hana yang masih terduduk di lantai.


Hana terdiam, ia tak tahu harus berbuat apa lagi, sepertinya Arif tak bisa diajak untuk bicara bahkan dipengaruhi atas lemahnya Ali dengan kelainan yang ia miliki, tak mengubah cara pandang Arif atas masalah ini.


"Ali telah melakukan dosa besar. Merubah jenis kelamin laki-laki menjadi perempuan atau sebaliknya hukumnya HARAM, karena bertentangan dengan al-Qur'an surat an-Nisa' ayat 19 dan bertentangan pula dengan jiwa Syara." Arif bicara dengan tegas.

__ADS_1


Hana hanya tertunduk saat Arif menceramahi nya.


"Kodrat sebagai laki- laki dan perempuan adalah mutlak menurut pandangan Islam. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan agar bisa saling menyempurnakan dan memperoleh keturunan. Trans-gender atau mengubah jenis kelamin hukumnya adalah haram dalam Islam Bu Hana. Saya tekankan lagi Hukumnya HARAM..


" Setahuku mengubah jenis kelamin hanya diperbolehkan (mubah) apabila seseorang tersebut memiliki kelainan medis. Dan Ali tidak memiliki kelainan medis. Miliknya itu, bagian intimnya itu sempurna sebagai laki laki." Jelas Arif lagi, ia teringat masa kecil mereka, dimana bentuk organ vitalnya Ali sempurna.


Hana masih terdiam dengan air mata yang mengucur deras, sepertinya ia sangat merasakan kehilangan Ali.


"Allah menciptakan setiap ciptaannya serba sempurna, tapi ada juga kejadian yang menyebabkan seseorang tidak sempurna, seperti bibir sumbing dan kelamin ganda. Itu boleh dilakukan suatu operasi, dan Ali tidak kelamin ganda. Kelamin nya hanya satu, jenis pisang, jenis terong, jenis ubi kayu.. Hahahaha... Dan bodohnya si Ali, ia ubah ubi kayunya itu jadi Tape... Hahahaha...!" Arif sudah seperti orang gila, bicara sambil tertawa kencang.


Ibunya Arif yang tengah ada di ruang makan merasa terpanggil untuk menghampiri anaknya ke ruang tamu. Karena ia merasa ucapan Arif dan tingkahnya sudah berbeda dan rada aneh, menertawakan diri sendiri saat bicara. Kondisi jiwa anak saat ini serang tidak stabil.


Sesampainya di ruang tamu. Ibunya Arif meminta Hana untuk bangkit dari duduknya, tak perlu ia mengemis untuk kebebasan Ali. Karena Arif tak akan lakukan itu.


"Nak Hana... Sebaiknya kamu pulang. Sampai berkarat pun kamu memohon, Ali tak akan bebas dari jerat hukum. Ia harus diadili atas kejahatan yang ia lakukan. Dengan menipu Arif, atas jenis kelaminnya." Ujar Ibu nya Arif lemah lembut. Ia tak boleh ikutan emosi, karena akan mengganggu kejiwaan Arif.


Arif yang tak mau membahas masalah Ali lagi memilih pergi dari ruangan itu. Dia dia tak mau gila jika terus-terusan membalas pria jadi jadian itu.


" Iya nak Hana, Ibu bisa mengerti akan kondisi Ali. Tapi tak seharusnya Kamu dukung Ali untuk melakukan operasi. Kamu salah sayang, aku tak akan membela kamu ataupun Ali. Kalian memang salah. Dalam ajaran agama kita, mengubah jenis kelamin itu dosa besar, hukumnya haram." Lagi-lagi Hana kena ceramahi.


"Dan gara-gara Kamu mendukung Ali melakukan kemauan gilanya itu untuk melakukan koperasi mengubah jenis kelaminnya. Putraku jadi korban. Arif sangat terpukul atas penipuan yang dilakukan Ali. Dan seharusnya jikalau kamu sayang pada Ali, disaat kamu tahu dia memiliki kelainan, kamu harus dukung dia agar sembuh. Bukannnya mengikuti kemauan gilanya." Jelas Ibunya Arif.


Hana mengurai dekapan lembut wanita tua itu. "Iya bu, tapi kondisi Ali sudah sangat parah saat itu. Ia bahkan sempat melakukan aksi bunuh diri. Karena tak ada yang mendukung keinginannya menemukan jati dirinya. Dari curahan hatinya Ali dia juga mengatakan bahwa dia sangat tersiksa atas dirinya yang terlihat punya kelainan itu." Ujar Hana sedih menatap Ibunya Ali.


"Kita tak boleh membenarkan sesuatu yang salah Nak Hana. Kalau kamu prihatin sama Ali, syang dengan Ali, harusnya kamu bantu dia untuk sembuh. Memberi terapi jiwa padanya, lebih mendekatkan diri kepada Allah, minta petunjuk-NYA. Minta ampunan dari-NYA. Allah takkan mungkin menjerumuskan umatnya. Usaha untuk sembuh tidak kalian lakukan, kamu malah mengikuti keinginan gilanya Ali untuk melakukan operasi. Aku yakin pasti karena dukunganmu saat itulah, Ali mau melakukan operasi. Apalagi kamu seorang dokter kan? jangan-jangan kamu yang merekomendasikan di mana dia melakukan operasi."

__ADS_1


"Tidak... Tidak Bu, aku tak pernah menganjurkannya untuk melakukan hal itu.Dan aku tak menunjukkan di mana ia bisa melakukan operasi. Memang semuanya sudah disiapkan oleh Abang Ali. Aku hanya mempermudah urusan perceraian bu. Karena aku ingin lihat dia bahagia, dengan keinginannya." Ujar Hana terisak.


Huufftt..


Ibunya Arif terlihat menarik nafas dalam dan panjang, kemudian menghembuskan nafas itu dengan berat. "Semua telah terjadi, biarkan Ali menerima konsekuensi dari apa yang ia lakukan. kamu pulang lah, jaga diri, jaga kesehatan kamu. Tak perlu pusing memikirkan manusia seperti Ali. Dia pantas mendapatkan hukuman atas apa yang ia lakukan." Ujar Ibunya Arif lembut. Menunjukkan ekspresi wajah turut prihatin, dan mengerti apa yang dirasakan Hana.


Huuffftt


Hana terlihat menarik nafasnya berulang kali, sehingga dadanya itu terlihat naik turun. Ia seperti ingin menenangkan dirinya. "Iya Bu terima kasih ya Bu. Aku pamit dulu." Ujanya lemah pada ibunya Arif.


ibunya Arif menganggukkan kepala dan tangannya menjulur mengusap lengan atas wanita yang terlihat rapuh itu. "Kamu yang sabar ya! Hati-hati di jalan dan kamu harus jaga ibunya Ali, serta pandai-pandai bicara dengan ibunya Ali. Memberikan pengertian pada wanita itu agar tidak stress memikirkan kondisi anaknya." Usul ibunya Arif.


Hua


Hua


Hua


Hana malah semakin mengencangkan tangisannya di hadapan ibunya Ali. "Iya Bu, satu alasanku datang ke sini karena aku tak tega melihat keadaan ibunya Ali sekarang. Ibunya Ali terlihat sangat depresi Bu." Ujar Hana dengan berlinang air mata.


Ibunya Arif kembali mengusap lembut lengannya Hana. "Sudah...Sudahlah Hana, kamu banyak-banyak berdoa kepada Allah saja dan kalau kamu benar benar sayang dengan keluarga Ali, kamu harus menjaga kesehatan ibunya Ali." Ibunya Arif sebenarnya kasihan pada Hana begitu juga pada Ali. Tapi kan ini semua keinginannya Ali. Segala sesuatu yang menyalahi aturan, pasti kena imbas negatif.


"Iya bu." Hana bangkit dari duduknya.


Jemari lentiknya mengusap air matanya yang menganak sungai di pipinya, kemudian ia memeluk ibunya Arif dengan sedihnya. Dari awal ia sudah tahu, bahwa usahanya untuk membujuk Arif, agar mencabut laporannya pada Ali akan ditolak Arif. Dan ternyata benar sekali. Arif tidak mau mengubah keputusannya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2