
Hana tak jadi ditahan, tetapi Arif memberikan ultimatum pada Hana. Jika ia tidak bisa menghadirkan Ali, yang katanya masih hidup di hadapan Arif, maka Hana akan dilaporkan Arif atas tuduhan pembuatan laporan palsu.
Sesampainya di kantor polisi, Arif menjumpai Herman yang masih ada di sel tahanan. Arif pun menunjukkan video yang diambilnya dari handphone Hana yaitu video Ali bersama kekasihnya.
"Apa ini wanita, yang kamu lihat di rumahnya Hana waktu itu?" tanya Arif dengan tegas menatap Herman yang nampak bingung menonton video itu.
"Ti, "Tidak. Bukan ini wanita yang ku jumpai di rumahnya Hana waktu itu." Jawab Herman dengan sedikit bingungnya. Herman kenal pria yang di video itu itu adalah "Ali dan wanita yang di sebelah Ali tak ia kenal.
"Jadi siapa wanita yang kau temui di rumahnya Hana waktu itu?" tanya Arif dengan kesal. Saking kesalnya, ia sampai merapatkan giginya.
"Aku, aku nggak tahu Mana ku tahu siapa wanita itu. Bukannya sudah aku jelaskan seketsanya. Kenapa kalian tidak mencarinya?"" Jawab Herman ngegas. Arif pun dibuat kesal, akan semuanya. Dia menendang jeruji besi sehingga menimbulkan suaranya berisik.
"Sial....!" umpat Arif, meninggalkan sel tahanan dengan penuh amarah.
Arif sudah mulai merasa muak dengan permainan ini. Tapi, ia merasa tertantang untuk mengungkap kasus ini, sepertinya Hana harus lebih diultimatum, agar mendesak Ali muncul di hadapannya. kalau Ali belum muncul di hadapan Arif, dia tidak akan tenang.
Ki i Arif melajukan mobilnya dengan sangat kencang menuju rumahnya Hana. Ia akan memaksa Hana menghubungi Ali saat itu juga. sepanjang perjalanan menuju rumahnya Hana Arif sangat Dilema kenapa kasusnya Ali kini begitu rumit.
Sesampainya di rumah Hana. Kebetulan sekali wanita itu masih di rumah. Di saat Hana membuka pintu dan mempersilahkan Arif masuk ke dalam rumah. Arif menolak tawaran wanita itu. Dua lebih memilih berada di teras rumah. karena menurutnya sangat tidak baik masuk ke dalam rumah. Sementara di rumah itu hanya ada Hana dan dirinya.
Hana pun akhirnya memilih duduk di kursi sebelah Arif yang dibatasi oleh meja. Arif memutar lehernya ke arah Hana, menatap tajam pada wanita itu, saat ini rasa respect Arif kepada Hana telah hilang. Karena menurutnya wanita ini banyak bualnya.
"Cpat hubungi Ali sekarang!" Titah Arif dengan tegas kepada Hana, ekspresi wajahnya Ali, menunjukkan tidak ada penolakan.
Hana nampak bingung menatap Arif yang terkesan memaksa
"Ba, bagaimana menghubunginya Aku nggak tahu nomornya dia sudah ganti nomor."
"Bohong.... " Benntak Arif.
__ADS_1
Hana terkejut mendengar suara kerasnya Arif. Ia sampai memegangi dadanya yang berdebar-debar. Mengusap usap dada itu, agar bisa tenang.
"Aku tak bohong! aku memang tidak tahu nomor hapenya Ali dan keberadaannya. Dia hanya berpesan dia sudah bahagia dan dia sudah punya identitas baru. Aku tak boleh menghubunginya
Dia yang akan menghubungiku." Jawab Hana wanita yang terkejut itu.
"Kapan dia akan menghubungi mu?" tanya Arif lagi.
" Mana kutahu kapan dia akan menghubungiku." kini Hana menjawab dengan ngotot.
Tak ingin berdebat, Arif pun memilih pergi dari tempat i tu.
***
Malam harinya
Kejelasan kasusnya Ali tak kunjung ada titik terangnya. Arif pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke kota. Dia sudah sangat mengkhawatirkan istrinya Flo yang tak bisa dihubungi hingga saat ini. Hingga menunggu berangkat esok pagi pun ia tak sabar.
Ibunya Arif yang sedang membantu Arif mempacking pakaiannya hanya tersenyum tipis menatap sang putra.
"Nanti saja Ibu ikut tinggal dengan kalian kalau kalian sudah punya anak."
Ucapan ibunya Arif membuat Arif sedih. Dia teringat dengan Flo yang menderita kista.
"Kenapa mesti menunggu ada cucu baru Ibu mau tinggal bersama kami. Arif mendudukkan bokongnya di tepi ranjang. Meraih tangan sang Ibu dan menggenggamnya erat. Ia merasa sedih meninggalkan ibunya sendirian tinggal di rumah.. Dulu sih waktu dia lajang dia sibuk kerja kalau dia ajak ibunya tinggal di kota bersamanya. tetap saja ibunya itu tidak ada kawan di rumah itu dan sekarang kan dia sudah menikah, ada istrinya Flo di rumah itu. Apalagi sekarang Flo gak mau ambil kerjaan karena ia sedang sakit.
" Emmm.. Flo sepertinya tak suka dengan ibu nak. Lihatlah, ia di sini sering menghindar."
"Ibu, Flo bukan menghindar. Dia hanya malu saja." Jelas Arif tersenyum tipis pada sang ibu. "Ibu ikut ke kota ya? Flo sedang sakit bu, biar ia ada teman nya di rumah."
__ADS_1
ibunya Ari menggelangkan kepalanya lemah tangannya menjulur mengelus pipi sang anak yang sudah mulai ditumbuhi oleh jambang itu.
"Baiklah ibu akan ikut denganmu."
"Yes....!" Arif dengan cepat merangkul sang ibu. Dia bahagia sekali, akhirnya ibunya itu mau ikut ke kota dan tinggal bersamanya.
Pukul 9 malam, Arif dan sang ibu bertolak ke kota. Kali ini, Arif menyewa orang untuk menyupir. Ia mau istirahat dalam perjalanan yang akan memakan waktu 7-9 jam perjalanan.
Benar saja, baru juga mobil melaju 1 jam, Arif sudah tertidur. Padahal mereka sedang berbicara serius, kasusnya Ali. Melihat sang putra sudah tertidur, wanita tua itu pun menyelimuti putra semata wayang nya. Walau Arif sudah memakai jaket, hawa di tempat yang mereka lalui saat ini sangat lah dingin. Apalagi saat ini sedang musim hujan.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, karena suasana di jalan raya terbilang ramai. Mungkin disebabkan oleh arus mudik libur akhir tahun.
Setelah mobil melaju selama 3 jam lebih, kini sampailah mereka di rest area.Pak sopir yang sudah ingin ke kamar mandi untuk membuang hadas kecil yang sedari tadi ia tahan, turun dari mobil dengan tergesa gesa. Sekalian dia ingin makan dan minum agar lebih fresh di saat mengemudi di malam hari, setidaknya minum kopi dan makan mie rebus panas.
Arif pun terbangun. Dia menyalakan lampu mobil.
Arif sudah tahu kalau mereka saat ini sudah sampai di rest area. Sudah saatnya para penumpang meluruskan pinggang dan meregangkan otot-otot yang terasa pegal, karena kelamaan duduk saat di per jalanan.
Arif menoleh ke arah sang ibu. Tangannya menjulur mengelus lembut lengan sang ibu. "Bu, bangun, kita sudah sampai di tempat istirahat." Ujar Arif, masih mengusap lembut lengan sang ibu.
Ibunya Arif menggeliat dan membuka kedua matanya. Wanita tua itu terlihat menyoroti sekitar.
"Kita di mana ini nak?" tanya sang Ibu.
"Sudah di Tarutung bu " Sahut Arif lembut, tersenyum tipis pada sang ibu.
"Oouuww... Sudah di tarutung toh." Sang ibu pun membenarkan posisi duduk nya. Bersiap siap turun dari mobil, tentu saja Arif menuntun sang ibu. Mereka pun berjalan menuju warung makan. Tapi, terlebih dahulu mereka ke toilet.
***
__ADS_1
Bersambung