Obsessive Love Disorder.

Obsessive Love Disorder.
Ketahuan


__ADS_3

"Transgender .....Woi.. Dia transgender..!" teriak seseorang dari kerumunan. Seketika, Flo pun pingsan di tempat, karena mendengar kan teriakan dari orang yang tidak di kenal itu.


"Honey.... Kamu kenapa?" Arif merengkuh tubuh sang istri dengan penuh kekhawatiran.


"Pak Arif, nona Flo kita bawa ke mobil." Ujar Mimi peri tak kalah paniknya.


"Transgender dia itu!' lagi lagi suara


sumbang itu membuat Mimi peri ketakutan. Dia mendesak Arif, agar cepat membawa Flo ke dalam mobil


Arif menggendong tubuh lemas sang istri. Ia Melangkah dengan cepat menuju mobil. Dan saat itu juga para wartawan mengkerumuni mereka.


" Apakah Nona Flo seorang transgender? Arif yang panik dengan keadaan Flo tak terlalu mengambil hati pertanyaan para wartawan.


" Minggir kalian.... Keamanan singkirkan wartawan ini, kami gak bisa lewat.!" teriak Mimi peri dengan kesal. Pihak keamanan pun menghalau para wartawan. Sesampainya di parkiran. Arif mendudukkan sang istri di jok belakang sopir dia pun ikut masuk dan mobil.


"Cepat pak ke rumah sakit!" Teriak Arif pada sang supir. Arif sangat mengkhawatirkan istrinya itu, dia beranggapan bahwa Flo pingsan karena kelelahan, karena istrinya itu baru operasi kista. Mobi melaju kencang meninggalkan tempat kejadian, menuju rumah sakit. Arif terus saja memanggil manggil nama sang istri, serta mengusap lembut pipinya agar istrinya itu sadarkan diri. Tentu saja, Arif merasa sangat sedih. Istrinya belum pulih total, sudah kerja. Ini semua karena MiMi peri. Dia memaksa Arif jadi lawan akting nya Flo di produk hand body itu.


Di persimpangan Flo pun tersadar dia nampak terlihat tertekan, matanya yang indah kini berkaca-kaca menatap sang suami. "Hubby jangan tinggalkan aku. Apapun yang terjadi, please... jangan pernah tinggalkan aku." Ujar Flo dengan sesenggukan dalam dekapan sang suami.


"Iya mana mungkin aku meninggalkanmu. Ini saja aku sudah sangat panik, kamu belum sembuh total tapi sudah mau kerja." Ujar Arif dengan kesal. Ia sangat mengkhawatirkan Flo.


"Non, kamu baik baik saja?" Mimi peri


yang duduk di kursi sebelah sopir menoleh ke belakang guna memastikan keadaan Flo, Apakah dalam keadaan baik-baik saja atau tidak. Flo mengurai dekapannya dari Arif dia pun kini menoleh ke arah Mimi pery dengan mata yang penuh maksud, yaitu dua kedipan dengan durasi cepat. Arif melihat interaksi antara istri dan asistennya itu sedikit membingungkan sih tapi dia tidak terlalu ambil hati.


"Aku baik-baik saja peri, kita pulang ke rumah sekarang, aku mau istirahat di rumah." Ujar Flo dengan lemah, menatap sendu Mimi peri dan Arif.


"Kita harus ke rumah sakit." Arif masih sangat mengkhawatirkan istrinya itu dia memaksa Flo untuk diperiksa ke rumah sakit saja.


Flo menggeleng kuat. "Enggak, aku mau di rumah saja. Aku mau istirahat." Tolak Flo dengan manjanya.

__ADS_1


Arif pun terdiam, tak mau lagi memaksa kehendak kepada flo dan kini mobil pun berbelok ke arah rumah mereka.


Sesampainya di rumah ibunya Arif menyambut kedatangan mereka dengan bingungnya, apalagi dilihatnya Flo dalam keadaan lemah.


"Kenapa dengan menantu ibu nak?" Tanya ibunya Arif kepada Arif yang kini tengah menggendong flo menuju ke kamarnya.


"Drop Bu, kelelahan. Flo belum sembuh, dianya maksa mau kerja. Ya jadinya gini." Sahut Arif, kakinya melangkah cepat menuju kamar yang diikuti oleh ibu nya.


Flo dibaringkan Arif dengan penuh kehati-hatian di atas ranjang. Sedangkan Mimi peri terlihat sibuk mengambilkan air minum dan obat untuk flo.


"Nona Sayang minum obat dulu biar kamu nggak lemas." Mimi peri menyodorkan obat yang ada tangannya kepada Flo.


kemudian wanita itu mengubah posisinya dari terbaring menjadi terduduk tentu saja dibantu oleh Arif. Tangannya menjulur meraih obat yang disodorkan Mimi peri. Ia pun memasukkan tiga jenis obat itu ke mulutnya. Dan Arif mendekatkan gelas berisi air minum ke mulutnya Flo. Membantu sang istri minum obat.


Melihat Flo sudah baikan ibunya Arif meninggalkan kamar pasangan suami istri itu, yang diikuti oleh Mimi peri. Ibunya Arif masuk menuju ruang dapur, Sedangkan Mimi peri terlihat sibuk berhape dan menuju teras rumah.


"Apa...? cepat kita stop pemberitaan itu!" Ujar Mimi peri dengan panik nya. Ia pun mematikan ponsel nya dengan tidak tenangnya.


"Haus... Haus..!" Ujar nya sendiri dengan hebohnya. Memegangi kerongkongannya yang terasa kering dan panas. Ia menyeret kakinya menuju ruang makan. Saat ia menuangkan air minum dari teko ke gelasnya, ia samar-samar mendengar suara dari televisi yang tengah membicarakan tentang kehidupan Flo.


Tidak disangka model yang lagi naik daun ini adalah seorang transgender. Aliya Flo Yoshi, dulu nya adalah..


Mimi peri bar lari dari tempat itu. Dia pun membalikkan sekring listrik. Dan padamlah listrik di rumah itu. Ia pun bergegas berlari ke kamarnya Flo dengan keringat dingin mengucur deras, di tambah dadanya yang tak berhenti berdebar debar.


Ceklek


Saat masuk ke kamar. Ia hanya mendapati Flo di atas ranjang. Mimi peri berlari dengan tidak tenangnya ke arah Flo. Flo sudah bisa menebak kepanikan Mimi peri.


"Non, berita tentangmu sedang tranding di berita infotaiment." Ujar Mimi peri berbisik kepada Flo.


Huuffftt..

__ADS_1


Flo terlihat insecure. Mimi peri menggoyang tubuh lemas nya Flo, guna menyadarkan wanita itu dari syok nya.


"Apa yang harus kita lakukan bos?" tanya Mimi peri dengan paniknya.


Tatapan matanya Flo kini terlihat menerawang."Gak ada lagi yang bisa kita lakukan Mimi, kita End sekarang." Sahut Flo dengan linangan air mata.


"Ya, gak bisa gitu Non. Semuanya akan hancur!" Ujar Mimi peri dengan paniknya.


"Semua yang ada di dunia ini, ada waktunya Mimi." Sahut Flo dengan lemah, air mata terus saja mengucur deras membasahi pipinya, tanpa terdengar suara isak tangis.


"Mana pak Arif?" Mimi peri masih terlihat panik.


"Suamiku sedang mandi." Sahut Flo lemah.


"Sekarang, sekarang saatnya kamu pergi dari rumah ini. Ayoo...." Mimi peri menarik tangannya Flo dengan kuat, berharap wanita itu turun dan pergi dari rumah.


"Gak... Gak Mi. Aku akan hadapi semuanya." Sahut Flo dengan tatapan kosong.


"Kamu gak akan kuat mendengar kenyataannya. Saatnya kita pergi sekarang..!" Mimi peri mengambil tasnya Flo. Ia kembali menghampiri Flo yang masih insecure itu.


"Ayokk.... Kamu gak akan kuat mental mendengar ucapan orang orang yang ada di sini nanti." Mimi peri masih dengan paniknya, menarik tangan Flo agar keluar dari rumah itu.


Ceklek...


Flo dan Mimi peri sama-sama menoleh ke arah pintu kamar mandi. Di sana tengah berdiri sang suami, dengan handuk putih, melilit di pinggang, serta tangan kanan sibuk mengeringkan rambutnya. Tatapan pria itu kini menghuhus tajam ke arah Flo dan Mimi peri.


Arif berjalan ke arah lemari. Dia mengambil pakaiannya dan memakai pakaiannya di harapan sang istri dan Mimi peri. Tapi, kini Flo tak berani menatap ke arah Arif.


Setelah Arif selesai berpakaian. Ia menyeret kakinya menghampiri Flo yang terduduk di atas ranjang. Pria itu berdiri di hadapan sang istri dengan ekspresi dingin nya.


"Bagus... Kamu ada juga di kamar ini?" Arif menunjuk Mimi peri yang terlihat tegang itu. Mimi peri melirik Flo yang menunduk dengan linangan air mata.

__ADS_1


"Aku sudah lapor ke pihak berwajib. Kalian harus mempertanggung jawabkan semuanya...!" Teriak Arif dengan suara yang sangat kencang. Saking kencang nya Suaranya yang menggema itu membuat barang barang di tempat itu ikut bergetar


TBC


__ADS_2