Obsessive Love Disorder.

Obsessive Love Disorder.
Jenazah


__ADS_3

pagi bukan hanya sebuah kata. Itu adalah tindakan dan keyakinan untuk menjalani hari dengan baik. Pagi adalah waktu ketika kamu mengatur suasana untuk sisa hari itu. Setel dengan benar. Semoga harimu menyenangkan.


Hari ini Arif dengan tim gabungan kepolisian kembali melakukan penyelidikan, atas hilangnya Ali. Dan betapa terkejutnya Arif mendapati sebuah mobil yang mengalami kecelakaan dan dalam keadaan terbakar dalam pencariannya.


Dengan gerak langkah yang cepat dan jantung yang berpacu sangat kencang, Arif berlari menuju mobil yang mereka dapati dalam keadaan terbakar itu. Dari desas-desus info yang mereka dengar bahwa mayat yang ada dalam mobil yang terbakar itu adalah mayatnya Ali. Tentu saja Arif dibuat terkejut dan tercengang melihatnya mayat di dalam mobil itu.


Dadanya berdebar kuat dan terasa sesak. Sulit rasanya bernapas, melihat mayat yang terbakar dan hampir membusuk itu. Arif yang syok itu dengan cepat menutup mulutnya yang menganga, dengan mata melotot memperhatikan mayat itu yang kini terduduk di Jok. Kalau benar ini adalah mayatnya Ali. Kejadian ini adalah kejadian yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Sahabatnya meninggal dalam keadaan tragis.


"Cepat kita periksa mayat ini, aku tak yakin ini adalah mayatnya Ali." Ujar Arif tegas pada temannya seprofesi.


"Aku yakin sekali ini mayatnya Pak Ali. Flat mobilnya kan sama dengan flat mobilnya Pak Ali." Sahut inpekstur kepolisian.


Lemas rasanya Arif mendengar penuturan polisi itu. Hatinya tak bisa menerima kenyataan kalau Ali lah yang terbakar dalam mobil yang mengalami kecelakaan itu. Apa yang terjadi? kenapa Ali/mengalami kecelakaan? Kenapa Mobilnya sampai masuk ke dalam hutan ini? Dari mana dia sebelum nya?


Begitu banyak pemikiran negatif berseliweran di kepalanya Arif, yang membuat kepalanya mau pecah memikirkan itu. Saat ini sungguh ia tidak tenang, akan kejadian ini. Dadanya semakin terasa sesak dan ngilu. Bagaimana ia akan mengatakan pada ibunya Ali.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit. Arif menghubungi Hana, mengatakan mobilnya Ali telah ditemukan, dan di dalam mobil itu ditemukan mayat, yang di duga adalah mayat si Ali.


Kini Arif mondar-mandir hilir-mudik menunggu hasil pemeriksaan mayat yang ditemukan dalam mobil yang mengalami kecelakaan dan terbakar itu. Dan Hana yang juga berada di ruang tunggu itu, nampak khawatir dan penasarannya. Banyak sekali pertanyaannya pada Arif. Mengenai ditemukannya mobil nya Ali. Arif yang tak Mood, mendiamkan Hana. Akhirnya Hana diam sendiri.


Saat dokter forensik keluar dari ruangan, Arif yang tak sabaran bergegas menghampiri dokter itu. Begitu juga dengan Hana.


"Ba, bagaimana Pak hasilnya?" Arif tergagap, ia sungguh tak siap mendengar hasil pemeriksa Dokter. Raut wajahnya menunjukkan kesedihan dan kekhawatiran mendalam.


"Dari hasil pemeriksaan benar mayat itu adalah Pak Ali."

__ADS_1


Seer...


Rasanya darahnya Arif tumpah ruah dari jantungnya saat mendengar pernyataan Dokter itu. Tulangnya seketika terasa layu, tak sanggup lagi menahan bobot tubuhnya. Dia pun akhirnya menyeret kakinya yang lemas dan duduk kembali di kursi. Ekspresi wajahnya masih menunjukkan ketidak percayaan atas hasil forensik itu.


Kini Arif yang bersedih, hanya sanggup mendengarkan dokter dan Hana yang bicara dari tempat duduknya.


"Terjadi pendarahan hebat di otaknya, disebabkan terbentur ke setir, hal itu membuatnya kehabisan darah dan menyebabkan kematian." Jelas Dokter tegas.


Ingin rasanya Arif berteriak dan menangis di rumah sakit itu. Tapi, tak mungkin Ia melakukan itu. Ia seorang pria dan polisi. Tapi, kehilangan sahabat yang sudah seperti saudara sendiri, dalam keadaan mengenaskan seperti itu, sangatlah menyedihkan.


Kalau Arif terlihat begitu sedih, terdiam mematung dengan tatapan hampa dan putus asanya. Beda lagi dengan Hana yang terlihat biasa saja, menanggapi berita kematian Ali. Dengan sikap tenang, Hana membaca hasil autopsi atas mayat Ali. Sedikitpun tak terlihat kegundahan hati yang mendalam pada wanita itu atas kehilangan suaminya.


"Kabari ibu, untuk datang ke pemakaman jenazah Ali. Mayatnya tak perlu lagi kita semayamkan di rumah." Ujar Arif pada Hana. Arif yang curiga pada Hana, tak mau menatap ke arah wanita itu.


"Pak Arif, ibu ingin jenazah Abang Ali dibawa dulu ke rumah." Ujar Hana pelan.


Arif mengerti maksud dari ucapannya Hana. Sudah adat di kampung mereka. Jenazah sebelum di kuburkan terlebih dahulu mayat dibawa ke depan rumah lurus dengan pintu rumah. Hal ini bertujuan untuk memamitkan mayat kepada keluarganya karena hari itu adalah hari terakhir mayat tersebut melihat keluarganya dan tetangganya.


Dan saat itu posisi mayat dihadapkan ke rumahnya karena pada saat itu adalah hari terakhir mayat tersebut melihat rumahnya yang selama masa hidupnya dia tempati. Dan juga dari pihak keluarga ada yang mengambil genting rumahnya dan dijatuhkan yang itu menandakan patahnya hati karena ditinggal oleh orang yang selama hidupnya tinggal satu rumah bersama orang yang meninggal tersebut. Dan setelah itu barulah mayat di antarkan ketempat peristirahatan terakhirnya (kuburan).


"Baiklah akan ku persiapkan semuanya. kamu pulanglah terlebih dahulu. Berarti mayatnya Ali dibawa ke rumah Ibukan. Bukan ke rumah kalian yang di kota." Tanya Arif datar kepada Hana yang juga kini terlihat sedih.


"Iya Pak Arif." Jawab Hana, dengan mata yang berkaca kaca. Baru ini Arif melihat kesedihan di wajah wanita itu.


"Arif pun pergi dari tempat itu dengan wajahnya yang mendung. Mata nya yang berkabut kini sudah dipenuhi air mata. Ia menangis dalam diam, saat melangkah menuju parkiran. Biasanya tubuhnya tegap dan tegak saat berjalan, tapi tidak kali ini.

__ADS_1


Kali ini langkah kakinya lemas dan tak bertenaga. Pria itu merayakan beban yang berat di pundaknya. Seperti ditimpa batu besar. Begitu juga dengan Hatinya yang terasa sakit, sakit sekali. Luka tapi tak berdarah. Tak hanya Hatinya yang terasa sakit. Kepalanya Arif juga rasanya mau pecah, seperti dipukul dengan palu bogem. Sungguh kejadian ini membuatnya sangat terpukul.


Ia sangat sedih, sedih sekali. Hidupnya terasa hancur atas kehilangan sahabat yang sangat ia sayangi. Sejak kecil ia bersama Ali. Suka dan duka mereka lalui bersama. Tak pernah mereka bertengkar sekali pun. Tak pernah mereka rasakan sakit hati selama persahabatan mereka.


Jenazahnya Ali telah sampai ke rumah duka. Arif kini terlhat memeluk erat peti jenazahnya Ali. Bibirnya yang pucat komat komit, mengucapkan kata-kata perpisahan terakhir kalinya pada sahabatnya itu. Dia sangat emosional, tak bisa membendung air matanya lagi. Ini pertama kalinya dia menangis seumur hidupnya. kehilangan ali rasanya seperti kehilangan separuh nyawanya.


" Semoga kamu Khusnul khotimah Ya Ali. hYa Allah... ampunilah dosa sahabatku ini. Ya Allah... Terimalah dia di sisimu. Ya Allah Lapangkanlah nanti dia dalam kuburnya Ya Allah. ya Allah... Bebaskan dia dari siksa kubur Ya Allah.." Arif yang mendoakan membuat para pelayat terenyuh dan terhanyut. Isak tangis histeris semakin memenuhi rumah duka. Terutama ibunya Ali, yang terlihat menangis dengan tersedu sedu.


Sebelum jenazah dibawa. Terlebih dahulu diadakan pengajian di rumah duka. Dimana pengajian itu dipandu oleh Arif.


Mayat dalam peti jenazah itu pun dibawa ke pemakaman. Sebenarnya dalam ajaran agamanya Ali, mayat tak boleh dipetikan. Tapi, karena jasadnya Ali sudah hancur. Terpaksa dipetikan. Dan Arif ikut memikul peti jenazah sang sahabat ke pemakaman. Ia dengan sedih nya mengantarkan Sahabatnya ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Hingga acara pemakaman selesai dan keluarga serta warga sudah pergi dari tempat pemakaman itu, tapi Arif masih tetap bersemayam di hadapan kuburan temannya itu. Ia terus membacakan Surah Yasin dan memanjatkan doa pada Ali.


Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk Ali saat ini. Ia merasa menyesal karena setelah Ali menikah hubungan mereka sedikit renggang saat itu juga Arif pun mengingat di saat pertemuan mereka terakhir kali di saat Ali menikah, terlihat Ali tidak bahagia dan Ali mengatakan mencintai orang lain. Saat itu Arif ingin membantu untuk menyatukan dirinya dengan wanita yang ia dicintai Ali. Tapi, dengan kesalnya Ali mengatakan bahwa Arif tak akan bisa membantunya.


Saat meratapi kesedihan atas kematian sahabatnya Arif pun merogoh ponsel dari saku celananya. Ia akan menghubungi istrinya yang sedang berobat di negeri dan ia akan putuskan berangkat esok pagi menyusul Flo sang istri keluar negeri. Karena Tugasnya di sini telah selesai. Hilangnya Ali telah terungkap, ternyata sahabatnya itu meninggal dalam kecelakaan mobil tunggal.


Beruang kali Arif menghubungi Flo, sang istri. Tapi, tak diangkat. Ia pun akhirnya mengirim pesan.


Besok pagi, aku akan menyusulmu Honey. I miss you 😘


Pesan pun terkirim, tapi belum dibaca.


TBC

__ADS_1


__ADS_2