Obsessive Love Disorder.

Obsessive Love Disorder.
Motif


__ADS_3

Kita harus berpencar, saya sangat yakin kalau dia masih ada tempat ini." Ujar Arif pada kawanan Polisi. Dengan cepat mereka pun berpencar menyusuri semua jalan yang ada di perempatan Itu.


Dalam pencarian pria yang berpura pura cacat itu. Mereka menemukan seorang pengemis di jalanan sedang tertidur beralaskan karton.


"Heii..Pak...!" Arif bicara keras, agar pria itu terbangun. Tapi, tak ada hasil pria itu tetap terlihat tidur dengan pulas.


"Pak...!" kini pak kepala kepolisian yang berusaha membangunkan pengemis Itu.


"Apa...apa.. perampok topong...!" pengemis itu terbangun, bangkit Dengan ekspresi terkejut dia pun terduduk dengan muka tegangnya. memperhatikan satu persatu polisi yang ada di hadapannya ia sedikit bingung.


" Sejak kapan Bapak ada di sini ?" Arif langsung bertanya dengan tegasnyane


"Aku, aku, Aku selalu di sini setiap malam." sahut si pengemis berjenis kelamin laki-laki berkulit hitam dengan tergagap.


"Apa ada tadi bapak lihat seorang Pria berlari lewat sini, berbaju hitam memakai helm." Arif kembali bertanya dengan wajah tegasnya. Si pria nampak bingung dan celingak-celinguk menghindari tatapan mata tajamnya Arit.

__ADS_1


"Gak, nggak ada Pak. Aku nggak lihat apa bapa." Sahut si pengemis tergagap.


" Oh begitu, ayo bawa dia ke kantor polisi kita harus intropeksi dia." Titah Arif.


"Jantan, jangan bawa aku kantor polisi, aku tidak salah. Aku nggak tahu apa bapa. kenapa aku dibawa ke kantor polisi."


Para polisi tidak menggubris pemberontakan pria itu, pengemis itu digiring cepat ke mobil patroli.


"Bapak, nggak usah takut kalau gak salah. Semuanya bisa dijelaskan di kantor." Jawab Pak Kapolres.


Ppuukkk..


Arif yang kesal langsung menampar pipi kiri si pria yang menyamar jadi pria cacat dan pengemis Itu. Hasilnya telah didapatkan bahwa pria inilah yang mereka cari selama ini. Sidik jari pria ini sama dengan Sidik jari yang ditemukan di mobilnya Ali, berarti pria inilah salah satu pembunuh dari Ali.


Aaarrrggkk...

__ADS_1


Arif merasakan dadanya berdebar sangat kuat. Darahnya mendidih sampai ke ubun ubun. Ia kesal pada pria di hadapannnya. Kenapa pria ini membunuh sahabatnya.


"Siapa yang memerintahkan kamu membunuh sahabatku Ali?" tanya Arif dengan kebencian yang berkobar kobar. Arif yakin, ada bos si pembunuh ini.


Pak Kapolres melihat emosi Arif tak terkenal dan tak wajar lagi, ini tak bagus untuk penyelidikan. Pak Kapolres pun merangkul Arif membawanya ke ruangannya ia harus bicara pada Arif. Dengan pelan ia dudukkan Arif di kursinya. Sedangkan Pak Kapolres berdiri di hadapannya, bersandar di meja kerjanya, memperhatikan lekat Arif yang Tegang itu.


"Pak kita mulai menyelidiki dia dari kasus pembunuhan wanita kemarin malam. Mencari tahu Apa motifnya dia membunuh wanita tadi malam itu, terus kita lanjut bertanya kenapa dia membunuh sahabatmu Ali."


Ujar Pak kapolres dengan serius. Arif pun nampak berfikir keras, sepertinya yang dikatakan Pak Kapolres sangat benar.


"Sidik jarinya hanya di temukan di mobil, tidak ditemukan di mayatnya Ali." Jelas pak kapolres lagi. Ia ingin Arif bisa tenang menangani kasus ini.


Arif bangkit dari duduknya. "Iya pak, bener sekali analisa bapak." Sahut Arif, ia menyeret kakinya cepat dari ruangan kepala itu. Ia sudah tak sabar, mengungkap motif pembunuhan sahabatnya Ali.


TBC

__ADS_1


__ADS_2