
Bruuuggkk
Kembali Tubuhnya Hana terhuyung ke depan, disebabkan Arif merem mendadak. Karena ada lubang besar di hadapannya.
"Iiih.. Dari tadi abang gini mulu. Bisa modar ini milikku." Ujar Alana tanpa sadar. Memang ia tak sempat menahan tubuhnya saat Arif merem medndadak, sehingga dadanya kembali membentur punggung kerasnya Arif. "Sengaja ya?" protes Alana dengan muka masam, melirik Arif yang menatapnya dari spion. Sepertinya Alana mau halangan, karena buah dadanya terasa sedikit nyeri. Sering wanita itu merasakan sakit di buah dadanya disaat mau datang bulan.
Arif menepikan motornya dan mematikan mesin motor itu." Abang nggak sengaja dek. Emang tadi ada lubang besar di depan kita. Kalau abang nggak ngerem, kita bisa terjatuh kamu itu berat loh."
"Iihhh...Tadi katanya aku ringan sekarang katanya aku berat.." Ujar Alana kesal, kembali memukul kuat punggungnya Arif.
"Aduuhh.. kamu tadi mengeluh dadanya mau pecahkan?" Arif melirik Alana dari spion. Dan sekarang aku yang mengeluh. Karena dari tadi, kamu asyik memukul punggungku." Protes Arif.
"Koq ngomongnya gitu, gak sopan." Ujar Alana, ia kesal dengan ucapan Arif yang membahas buah dadanya. Sepertinya wanita itu lupa bahwa ialah yang memulai pembicaraan mengenai buah dadanya tadi, saat ia protes karena buah dadanya yang montok itu terbentur ke punggungnya Arif padahal Arif tidak sengaja melakukannya.
"Iya, maaf... !" sahut Arif dengan malasnya. Ya memang kedua orang ini sejak dari kecil selalu bertekak kalau bertemu.
Alana terdiam tapi matanya selalu mengawasi Arif dari spion.
"Beneran kamu gak mau pulang? itu langit sudah gelap sekali, hujan mau turun ini." Ujar Arif.
"Ya, aku nggak mau pulang aku mau ke tempat pijat dulu. Sudah sembuh baru pulang." Ujar Alanaa
"Kaki terkilir bisa sembuh setelah seminggu atau dua minggu, nggak bisa sembuh setelah habis di kusuk. Jadi, beneran kamu nggak mau pulang?"
__ADS_1
"Gak...!"Jawab Alana cepat, ia bahkan menggelengkan kepalanya
" Kalau nggak sembuh selama seminggu ini, kamu gak mau pulang. Begitu?" tanya Arif.
Alana terdiam tapi matanya tetap menatap tajam Arif dari spion.
"Kamu mau diantar ke mana? biar ku anterin!'
Alana masih diam membisu dengan bibir yang ia
monyong kan ke arah Arif.
"Kamu mau diantar ke rumah pacarmu yang kemarin itu ?"
Puukk
Hua...
Hua...
Hua..
"Jangan bahas itu lagi." Ujar Alana dengan menangis tersedu sedu.
__ADS_1
Duar...
Duar..
Kuatnya suara tangisan Alana, sebanding dengan kuatnya suara gemuruh di tempat itu. Ditambah kilatan cahaya petir terlihat begitu mengerikan, membuat suasana di tempat itu semakin mencekam. Ditambah langit sudah sangat mendung saat ini. Kumpulan awan hitam terlihat siap meluruh menurunkan hujan deras, diramaikan oleh suara petir dan dengan kilatannya yang siap menyambar.
Syurr..
Hujan turun seperti air yang disiramkan di tubuh mereka hanya sebentar saja mereka sudah terlihat basah.
Arif dibuat panik. Ia celigak celinguk memperhatikan sekitar. Adakah Pondok yang bisa mereka tempati untuk berteduh. Ternyata Arif melihat sebuah pondok yang berjarak sekitar 20 meter dari tempat mereka sekarang.
"Kita berteduh di sana." ujar Arif menunjuk Pondok yang ada di Hadapan mereka.
Alana menganggukkan kepalanya cepat. Ia sudah terlihat panik, apalagi bajunya sudah mulai basah dia ingin berlari tapi kakinya sakit. Akhirnya ia pasrah saja digendong oleh Arif. Saat Alana naik ke punggung kekar pria itu, masih ada rasa enggan pada Alana. Karena Alana tak terbiasa bersentuhan dengan pria. Apalagi peluk pelukan dan gendong gendongan seperti saat ini.
"Pegang yang kuat, aku mau berlari."
ujar Arif mempercepat langkahnya menuju pondok itu. Tapi sebelum bisa masuk ke area perkebunan yang ada pondok nya itu. Terlebih sahut Arif membuka pintu pagar perkebunan itu. Tentu saja hal itu memakan waktu hingga mereka bertambah basah kuyup.
"Ya Allah... Tolong redakan hujannya. Kami
mau pulang." Ujar Alana menatap ke arah langit yang menurunkan tetesan tetesan air dalam ukuran besar itu.
__ADS_1
Arif menggelengkan kepalanya cepat, ia merasa lucu dengan tingkahnya Alana. "Tadi katanya nggak mau pulang sekarang mau pulang." Ujar Arif tegas ia sudah berhasil membuka pintu pagar perkebunan itu. Berlari cepat ke pondok. Alana membelitkan tangannya dengan kuat dilehernya Arif. Ia sungguh sangat takut terjatuh karena gerakan Arif yang sangat cepat berlari menuju pondok.
tBC