Obsessive Love Disorder.

Obsessive Love Disorder.
Alana


__ADS_3

"Ana.... Ana...!"


Tanpa pikir panjang, aku cemplungkan diriku ke kolam renang itu. Berenang menghampiri Ana yang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri.


Bisa Kulihat Ana tidak bisa berteriak meminta tolong lagi saking paniknya ia, karena nyawanya sedang terancam saat ini.


kurengkuh tubuhnya Ana tak kalah khawatirnya. Aku sangat takut dengan keselamatan Ana. Dia tak bisa berenang. Walau ia besar di pedesaan. Ia sama sekali tak berani belajar berenang. Ia traumah dengan air. Karena sewaktu remajaku, ia hampir hanyut dibawa harus sungai. Saat ia dan kedua orang tuanya pulang dari sawah.


Aku membawa Ana ke tepian, ia tak sadarkan diri lagi. Sepertinya ia banyak menelan air. Disaat aku berhasil menyelamatkan Ana, seketika tempat itu dikerumi orang dan membantuku mengangkat tubuh Ana.


"Honey.... Kamu gak kenapa kenapa kan?" Flo


terlihat sangat mengkhawatirkanku. Ia memelukku erat, kemudian menepuk- nepuk pelan bajuku yang basah. Guna menepis air yang membasahi pakaianku.


"Aku baik-baik saja." Ujarku tersenyum tipis padanya. Kemudian mendekati Ana yang masih terlentang di tepi kolam. Tadinya aku ingin segera membantu Ana, sadar dari pingsannya. Tapi, Flo keburu memelukku. Tak mungkin ku tepis tangannya saat ia terlihat mengkhawatirkanku.


Saat tangan ini menjulur ingin meraih tubuhnya Ana. Seketika tanganku ditepiskan oleh seorang pria yang tak ku kenal.


"Ana... Ana...!" Pria itu menepuk nepuk pelan pipinya Ana dengan penuh hawatirannya. Ia juga menekan dada serta perutnya Ana berusaha mengeluarkan air yang terperangkap dalam tubuhnya Ana.


Aku hanya memperhatikan apa yang dilakukan pria itu kepada Ana. Dalam hatiku berkata, Apakah pria ini kekasihnya Ana atau suaminya? sejak tamat SMA, aku tak pernah lagi bertemu dan berkomunikasi dengan Ana. Karena mereka pindah ke kampung ayahnya di Tebing Tinggi


Uhuk....


Uhuk....


Saat pria itu hendak memberikan nafas buatan kepada Ana. Ia pun tersadar dan terbatuk-batuk. Entah kenapa aku merasa sedikit lega dan senang, karena pria itu tidak sempat memberikan nafas buatan kepada Ana.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya pria itu dengan penuh khawatirnya. Ana hanya mengangguk menanggapi ucapan pria itu. Tanpa banyak bertanya lagi pria itu langsung mengangkat tubuh Ana meninggalkan tempat itu. Tubuh Ana sudah seperti kapas saja buatnya. Ya, Ana memiliki tubuh yang imut, tinggi badannya hanya 150 Cm. Aku tahu itu, karena dulu saat belajar pencak silat saat duduk di bangku SMA. Pelatih mengukur tinggi badannya. Kalau pun bertambah, paling nambah 5 CM lagi.


Kaki ini seperti di tarik magnet, mengikuti langkah Pria yang membopong Ana masuk ke dalam hotel dan seketika, aku merasakan tanganku ditarik dengan kuat dari belakang. Ku menoleh, aku hampir lupa dengan keberadaan istriku di tempat itu.


"Hubby... Mau ke mana?"


Mukanya Flo berlipat sudah ku lihat


saat ini. Ia sepertinya marah padaku. Apa dia cemburu?


"I, itu mau lihat keadaan Ana." Jawabku


dengan sedikit tergugup tangan kananku menunjuk ke arah pria yang membopong Ana.


"Hubby basah kuyup. Ganti baju dulu, kalau pun harus lihat keadaan dia." Ujar flow masih dengan ekspresi wajah masanya.


"Oohh iya ya.!" Aku melangkah cepat.menuju kamar, dan Flo mensejajarkan langkahnya denganku. Ia pun merangkulku.


Flo tak menanggapi ucapanku.. Ia kini berjalan beriringan denganku.


***


Aku ke reseptionis, mencari kamar nya Ana menginap. Aku dan Flo akhirnyemutuskan pergi ke kamar tempatnya Ana menginap.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


akhirnya pintu kamar itu terbuka, tetapi bukan Ana yang ada di hadapanku, melainkan orang lain yang terlihat sebaya dengan Ana.


"Apa ini kamarnya Alana?" tanya aku dengan sopan. Wanita itu nampak bingung. Ia memutar lehernya, menoleh ke belakang. Mungkin Ia ingin bertanya pada Ana. Kemudian ia menatap aku dan Flo secara bergantian.


"I, i..Ia." Jawabanya dengan tergagap


"Boleh kami masuk?" tanya aku dengan ramah. Kemudian ku lirik Flo, yang kini terlihat sedikit kesal. Ya dia kesal karena tadi ia mengatakan tak suka jika aku mengunjungi Ana. Ku yakinkan Flo, bahwa Ana itu adalah temanku sewaktu kecil, tak mungkin aku membiarkannya begitu saja, tanpa menjenguknya.


"Siapa itu Jen?" terdengar suara Ana yang lembut dari dalam. Mungkin ia penasaran dengan tamu yang datang yang tak kunjung masuk.


"Ada tamu ini cariin kamu Al. Sepasang suami istri." Ujar wanita yang ada di depan kami dengan sedikit keras. Aku hanya bisa tersenyum saat ini aku tak mau menunjukkan wajah tak sukaku, seperti yang ditunjukkan Flo saat ini.


Terlihat Ana berjalan menghampiri kami. Saat ia melihat ke arahku ia cukup terkejut melihat tamu yang datang adalah aku.


"Abang Ar...!" ujar Ana dengan bahagianya saking bahagianya, menitikkan air mata.


"Iya Na." Sahutku dengan senyum mengembang. Aku tak menyangka akan bertemu dengan Ana di tempat ini.


Sudah hampir 9 tahun kami berpisah dan ternyata Ana banyak berubah. Dia sekarang sudah menjadi gadis yang sangat cantik, wajahnya glowing, dengan bentuk tubuh yang profesional. Ditambah rambutnya yang panjang dan terlihat sangat indah. Ana yang sekarang, sangat berbeda dengan Ana yang dulu. Sekarang ia terlihat modis. Dan sangat terurus, tidak seperti dulu lagi yang tidak peduli dengan penampilannya. Ana tanya mementingkan hobinya yaitu pencak silat, lari dan panjat tebing.


"Na, na nana, na..Na... Nana dalam kali."


Ketus Flo dengan wajah masamnya. Ya, Bahkan kini ia memalingkan muka, karena tak sudi menatap Ana dan aku. Sungguh dua hari ini aku dibuat heran dengan sifat flo. Dua hari terakhir ini Dia terlihat jadi Lebih arogan dan ada perubahan suaranya yang serak. Emang sih, dia ngeluh rada batuk saat ini.


"Flo, dari mana kamu tahu kata-kata ejekan itu?"

__ADS_1


Tanyaku dengan bingungnya, melirik Flo yang masih memalingkan wajahnya.


TBC


__ADS_2