
"Aaauuuwww....!"
Arif yang penasaran karena mendengar suara teriakan itu, dengan cepat menoleh ke belakang ternyata Hana sudah mengalami kecelakaan tunggal. Bahkan motor yang di kenderai wanita itu lari dari jalur jalan, dan terbang ke semak-semak.
"Alana...!" Arif tentu saja panik. Orang yang baru saja mengalami musibah atas meninggalnya sang ayah, malah mengalami kecelakaan.
Arif yang panik turun dari motornya dia pun berlari menghampiri Alana yang tersungkur ditimpa motornya di semak-semak itu. Terlihat kakinya Hana di timpa badan motor bebeknya.
"Ya Allah.... Sakit....!" keluh Alana meringis kesakitan bahkan saking sakitnya dirasakan wanita itu air matanya kini mengucur deras dari mata indahnya yang sembab. Dan saat ini ia tengah memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit itu. Sepertinya kepalanya terbentur ke stang kemudi motornya.
"Alana...!" Alana pun akhirnya mencoba membuka kedua matanya. Menoleh ke arah Arif yang kini ada di hadapannya. Air mata masih mengucur deras membasahi pipinya.
"Tolong.... Ini sakit sekali...!" ujar Alana dengan menahan kesakitan.
Tanpa Alana minta tolong pun Arif pasti akan menolongnya.
Ya Arif terlebih dahulu menjauhkan sepeda motornya Alana yang menimpa tubuhnya, tepatnya di bagian atas kakinya. Setelah sepeda motor itu bisa disingkirkan Arif. Ia pun memperhatikan keadaan Alana yang masih menangis itu. Tangannya masih memegangi kakinya yang sakit.
Arif sangat kasihan melihat keadaan Alana saat ini. Kening wanita itu sudah membengkak dan membiru. Tangan lecet. Dan disaat Ali menyingkap rok celana yang dikenakan Alana setinggi betis. Setelah minta izin pada Alana. Nampaklah kaki putih nya Alana juga lecet Dan sepertinya pergelangan kaki terkilir.
"Aauuuww.... Sakit..Sakit...!" keluh Alana dengan kuat. Tangannya yang kiri masih
sempat-sempatnya memukul bahunya Arif yang sedang memeriksa kakinya, karena Arif menyentuh bagian pergelangan kakinya Alana yang sakit.
"Sa, sakit.. Dtahan ya Dek! Sepertinya di sini terkilir biar aku coba kembalikan posisi persendiannya. " Ujar Arif lembut mencoba untuk membenarkan posisi persendian Alana.
Krek...
"Tidak... Sakit... Sudah... Sudah...!" teriak Alana,
__ADS_1
tangannya terus saja memukul-mukul bahunya Arif. Mungkin hanya itu salah satu cara untuk melampiaskan rasa sakit yang amat dirasakan Alaana.
"Maaf... Aku gendong kamu boleh? atau jalan saja, aku papah." Ujar Arif penuh kehati hatian. Ia harus minta izin terlebih dahulu kepada wanita yang lagi sedih ini. Ia takut salah sikap tahulah wanita kalau di saat sedang sedih semuanya jadi serba salah.
Alana yang tak yakin bisa berjalan, meminta Arif menggendongnya. Tapi, Alana minta gendong belakang. Dulu juga, Arif pernah menggendongnya saat mereka remaja.
"Eemmm... Kamu koq ringan banget sih Ana..?" Arif memang lebih suka memanggil wanita itu dengan Ana.
Alana yang ada dalam gendongan Arif dibuat bingung dengan pertanyaan pria itu. Kedua matanya nampak berputar memikirkan maksud dari ucapan Arif. "Masa sih? apa karena aku sering lupa makan ya? apa berat badanku turun drastis. Habis udah sebulan sih aku tidak selera makan." Ujar Alana dengan semangatnya Dia terlihat seperti lupa dengan rasa sakit di kaki dan sekujur tubuhnya.
"Iya, kamu nampak lebih kurus. Makan yang banyak, biar kuat jalani hidup." Sahut Arif tersenyum tipis. Ia sengaja membuat guyonan dengan Alana agar Alana lupakan rasa sakit di kakinya ternyata caranya itu ampuh juga Alana kini jadi fokus memikirkan berat badannya bukan fokus merasakan sakit di kakinya.
"Eemmm... Mau makan banyak? syukur -syukur nanti ada yang bisa dimakan." Ujar Alana sedih. Arif dibuat heran dengan ucapan Alana. Tapi, ia tak terlalu menanggapi ucapan wanita itu.
Kini Arif sudah mendudukkan Alana di atas jok motornya. Alana masih menampilkan muka kesakitannya. " aku antar kamu ke rumah!" Ujar Arif lembut.
Alana mengangguk lemah. Tadinya ia akan ke pemakaman ayahnya. Walau ayahnya baru dikuburkan, ia secara diam-diam ingin pergi ke tempat itu. Ia merasa sangat kehilangan ayahnya.
"Motorku gimana itu Bang Arif?" tanya Alana.
Cit...
Arif yang terkejut dengan pertanyaan Alana, mendadak ngerem saat itu tubuhnya Alana menconding ke depan hingga membentur punggungnya Arif yang keras.
"Aduhh... Sakit tahu..!" Keluh Alana, disaat dadanya membentur punggung kerasnya Arif. Ya tubuhnya Arif terbilang kekar, namanya mantan aparat kepolisian.
"Ma,maaf tak sengaja habis aku terkejut." Sahut Arif canggung. Entah kenapa ia jadi merasa malu pada Alana. Karena ia merasakan juga dada kenyalnya Alana, membentur punggungnya. Ya, Alana punya buah dada yang bagus.
Arif beranggapan, Alana mengira dia melakukan itu dengan sengaja, padahal tidak.
__ADS_1
Alana tak menanggapi ucapan Arif lagi. Arif melirik Alana dari spion yang wajahnya nampak kesal itu.
"Nanti motornya dijemput temanku." Sahut Arif.
Alana yang merasakan sakit di kakinya memilih tak menanggapi ucapan Arif. Tapi, ia pun tersadar. Kalau ia pulang ke rumah. Maka ia akan dimarahi ayahnya. Juga akan jadi perbincangan orang Orang di rumah neneknya itu. Karena saat ini, rumah neneknya itu masih ramai.
"A, aku nggak mau pulang ke rumah." Ujar Alana, Arif kembali terkejut mendengar ucapan Alana, koq teman masa kecilnya ini tak mau pulang ke rumah.
"Kenapa?" tanya Arif heran. Ia kini memperhatikan langit yang berkabut. Sepertinya akan terjadi hujan badai.
"Gak apa-apa Bang Arif. Aku takut kena marahi. Karena aku kabur dari rumah tadi. Mereka gak tahu, kalau aku pergi." Jelas Alana sedih.
"Ya, karena mereka gak tahu kamu
pergi makanya kamu harus pulang ke rumah. Jangan-jangan di rumah kamu telah dicariin." ujar Arif tegas melirik Alana dari spion.
Alana terdiam, sebenarnya Alana saat ini sangat tertekan kejiwaannya. Hatinya sangat rapuh. Jadi dia tak sanggup mendengar omelan, bentakan serta umpatan. Ia sedang tak mau disalahkan. Rasanya ia ingin mati saja menyusul sang ibu.
"Gak mau, abang Arif. Akau gak mau pulang. Mereka pasti memarahiku. Apalagi motornya bibi sudah rusak tadi ku buat." Ujarnya terisak dalam boncengan.
Arif terdiam, tapi ia tetap melajukan motor yang ia kenderai.
"Bawa aku ke tukang pijat aja sekarang. Aku mau sembuh." Ujar Alana lagi.
"Aku gak tahu di mana tukang pijat di sini. Kalau kamu mau, aku saja yang pijat. Aku kan pandai mijat. Dulu juga, saat kakimu keseleo saat tersandung pelajaran olah raga, aku yang mijat." Ujar Arif serius.
Bruuuggkk
Kembali Tubuhnya Hana terhuyung ke depan, disebabkan Arif merem mendadak. Karena ada lubang besar di hadapannya.
__ADS_1
"Iiih.. Dari tadi abang gini mulu. Bisa modar ini milikku." Ujar Alana tanpa sadar. Memang ia tak sempat menahan tubuhnya. Sehingga dadanya kembali membentur punggung kerasnya Arif. "Sengaja ya?" protes Alana dengan masam. Ia sepertinya mau halangan, karena buah dadanya terasa sedikit nyeri. Sering wanita itu merasakan sakit di buah dadanya disaat mau datang bulan.
TBC