Obsessive Love Disorder.

Obsessive Love Disorder.
Bonus


__ADS_3

"Aauuww... Ini, ini... Aku takut.... Tolong.... Abang Arif.. Tolong....!"


Teriakan Alana yang meminta tolong di sudut Pondok, membuat Arif sangat khawatir dan penasaran. Ingin rasanya ia menghampiri Alana. Tapi, ia yakin wanita itu pasti belum selesai ganti pakaian. Tak mungkin ia menghampiri wanita itu.


"Tolong.... takut....!" teriak Alana lagi.


Bruuggkk..


Terdengar suara alana ambruk di lantai pondok. Arif pun akhirnya menoleh ke belakang. Dan ia pun dikejutkan dengan keadaan Alana yang sudah pingsan. Dadanya berdebar kuat Karena hal itu. Pikiran negatif langsung menyergap hati pria itu. Dia beranggapan Wanita itu telah mati karena kedinginan.


Dengan paniknya Arif naik ke atas Pondok menghampiri Alana yang yang terkapar di atas lantai. Dan yang sangat mengejutkan Arif saat ini adalah. Wanita itu belum memakai celana bagian bawahnya hanya memakai kemeja miliknya Arif.


" Astagfirullah..." Arif yang terkejut melihat pemandangan langkah itu, refleks menutup kedua matanya dengan jemarinya. Tapi, Ia pun tersadar Kalau ia menutup matanya dia Mana bisa melihat Bagaimana keadaan Alana saat ini


Arif membuka kedua matanya. Dengan jemari yang terbuka lebar. Dan ia bisa mengintip dari cela cela jemarinya itu.


"Astaga...Koq aku jadi bloon gini." Ia pun


tak mau terlihat bodoh lagi. Ia harus memeriksa keadaan Alana. Apakah Alana masih hidup atau tidak. Arif menjauhkan tangannya dari kedua ka


Matanya.


Dan dengan paniknya ia memeriksa denyut nadi Alana. Ternyata wanita itu masih hidup dan hanya pingsan saja.


"Ana...Bangun dek...! Arif dengan lembut menepuk nepuk pipinya Alana yang sudah pucat, karen kedinginan. Berusaha menyadarkan wanita itu.


" Ana... Ana.. Bangun...!" Arif erus saja yang memanggil namanya tapi wanita itu tak kunjung sadar juga. Tak mau kehilangan akal. Arif akhirnya meraih kedua tangan Alana. Menggosokkan kedua tangan wanita itu ke tangannya, berusaha memberikan kehangatan pada wanita yang sedang kedinginan itu.


Alana akhirnya membuka kedua matanya dengan perlahan. Arif dibuat legah akan hal itu. Saat ia sadar, ia mengibaskan tangan Arif dari tangannya. Alana terlihat sangat ketakutan saat ini.


"Kamu tenang, Aku tak akan buat hal yang macam-macam. Kenapa kamu terlihat takut seperti itu?" tanya arif dengan bingungnya.


Alana tak menggubris ucapan Arif. Ia malah terlihat semakin panik, disaat ia berusaha untuk duduk. Arif pun akhirnya membantu Alana untuk terduduk. Alana melirik Arif dengan ekspresi wajah dengan penuh kewaspadaan serta ketakutan. Salah satu tangannya yang tak sakit menjulur meraba kakinya, terutama di betis Ia pun sedikit legah karena tidak menemukan yang ia cari dibagian tubuhnya itu.


Tapi ia pun merasakan seperti digigit sesuatu di bagian pahanya. Dan rasanya seperti gatal dan buat tak nyaman. Disaat tangannya berhasil sampai di bagian paha yang terasa gatal dan sedikit nyeri itu. Ia pun kembali terkejut.


"Tidak.... !" Teriaknya membuka lebar kedua pahanya. Arif sangat terkejut dengan kelakuan Alana yang membuka lebar pahanya itu, mana Alana sedang tidak memakai dalaman. Karena ********** yang basah telah ia lepas, dan ia gulung dengan pakaian lainnya.

__ADS_1


"Bang... lihat ini... Lihat...." Alana dengan muka ketakutan serta paniknya menunjuk ke arah bagian intinya. Arif yang terpengaruh dengan perintah serta ucapan Alana akhirnya menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Alana, yaitu bagian intinya.


Kedua matanya Arif membelalak sempurna melihat daging mentah itu. Apalagi saat itu, kilatan cahaya terarah ke bagian intinya Alana. Arif dibuat syok melihat pemandangan indah dan langkah itu.


Seketika darahnya berdesir hebat di sekujur tubuhnya, dan bermuara di pusat intinya. Tadinya ia sudah tak tertarik lagi ke hal hal berbau blue. Efek dari ia yang tertipu, karena menikahi


wanita yang transgender. Tapi,i setelah melihat miliknya Alana. Pria itu jadi berhasrat.


Sadar, akan dirinya yang birahi. Arif akhirnya menjauhkan pandangannya dari gua yang indah, di mana disekitarnya dihiasi lahan gambut yang eksotik.


"Bang... Please.... ambil... Ambil...!" Alana dengan muka memelasnya meminta Arif menjulurkan tangan nya ke bagian selang kangan itu.


"Kamu kenapa sih Dek?" tanya Arif kesal, tak mau melihat ke arah selangkangannya alana yang menyuguhkan pemandangan indah itu.


"Ini, ada pacet. Pacet bang...!" ujar Alana teriak histeris. Ia sungguh takut melihat pacet. Karena pacet sangat susah dilepas dari kulit tubuh, disaat ia menyedot darah kita. Selain ketakutan Alana juga sangat merasakan kegelian. Apalagi pacet itu sudah menempel di bagian bibir kema luannya.


"APA...?" tanya Arif histeris. Ia tak melihat pacet di paha nya Alana.


Hua...


Hua...


Hua...


Hua..


Hua...


Alana menangis dengan histeris. Pacet itu sudah di bagian intinya.


"Bu... Tolong... Tolong bang.. Aku gak bisa melepaskannya.." Alana sangat panik dan ketakutan. Ia tak kepikiran malu lagi. Ia sudah putus asa, karena pacet yang ada dekat lubang kema luannya itu, tak bisa dilepas. Otot otot pacet itu mencengkram kuat di kulit apemnya yang lembut.


Alana yang panik membelakangi Arif. Ia buka lebar lebar pahanya masih terisak. Menunduk dan tangannya kembali mencoba mengambil pacet yang menempel erat di bagian pinggir lubang intinya itu. Satu gerakan lagi, pacet itu sudah bisa menyentuh lubang miliknya.


"Hua.... Hua... ibu.. Tolong aku...!" teriak Alana.


Arif bisa melihat dengan jelas tubuh Alana yang bergetar hebat, karena ketakutan dan menangis itu. Ia sangat bingung. Mana mungkin dia membantu Alana melepas pacet yang menempel di bagian inti wanita yang membelakanginya itu.

__ADS_1


"Bu... Aku akan menyusulmu. Biarlah aku mati..!' ujarnya lemah. Arif dibuat takut mendengar ucapan Alana.


Dan


Brugkk..


Alana kembali pingsan. Dengan keadaan bagian bawahnya tak memakai celana.


Melihat Alana pingsan lagi, membuat Arif begitu panik ia menghampiri wanita itu dengan dada yang bergemuruh hebat. Ia meraih tubuh wanita itu, berusaha menyadarkannya dengan menepuk-nepuk lembut pipinya Alana.


" Dek.. Dek... Sadar...." Ujar Arif dengan paniknya. Tapi, Alana tak kunjung sadar.


"Pacet... Apa pacet nya masih di... Aarrrgg...!" teriak Arif dengan prustasinya. Ia bahkan sampai menggaruk-garuk kepalanya yang memang terasa sangat gatal dia tidak tahu lagi harus apa. Apa ia harus memeriksa selang kangannya Alana.


Shiittt..


Umpatnya kesal, ya ia harus melakukan itu.


"Bismillah.... Ya Allah.... Ampuni aku. Sungguh aku tak ada niat melecehkannya..!" ujar Arif menatap langit yang sudah mulai gelap. Ia yakin saat ini sudah dapat waktu magrib. Atau jangan jangan sudah pukul 7 malam.


Kedua tangan nya gemetaran menjulur untuk membuka lebar pahanya Alana kembali. Ia akan mengambil pacet yang kata Alana sudah ada didekat bagian inti wanita itu.


Tangan kanannya Arif mulai menjulur ke arah gua itu. Ia kuatkan dirinya, agar sanggup melakukannya. Bagaimanapun Alana, wanita yang ia hormati. Semoga Alana tak salah paham padanya.


"Apa ini..?" ujar Arif bicara sendiri dengan bingungnya. Ia meraba raba miliknya Alana dengan menutup mata. Dan saat itu dia menyentuh pinggir pinggirnya apem Alana. Atau nama lainnya bibir mayora alias bibir besar miliknya Alana yang ditumbuhi rumput manis.


"Ini gila, aku sudah seperti dokter obgyn saja. Kalau aku tutup mata dan meraba-raba begini, kapan ketemunya sama pacet itu. Sepertinya banyak Pacet yang ku jamah tadi. Takutnya aku salah tarik lagi. Ku pikir pacet, eehhh.. gak tahunya bibir bibir lembut." Arif bermonolog, memperhatikan wajah Alana yang masih pingsan.


"Aahhkkk.. Ngapain harus malu. Toh, Alana sedang pingsan. Lagian juga saat kecil, kami sering mandi sama dalam keadaan polos waktu di sungai. Aku juga sudah pernah Lihat miliknya. Tapi, kan dulu miliknya belum ditumbuhi rumput manis?" Arif berperang bathin. Gak tahi dia, pacet semakin bergerak ke bagian yang menyerruakkan aroma sedap.


"Bismillah.... Ya Allah lindungi hamba. Tadinya aku traumah dengan hal hal seperti ini, karena kelakuan Ali yang menipuku. Tapi, kenapa sekarang, aku KAU beri cobaan seperti ini?'


Kedua mata nya Arif kini membelalak sempurna. Saat ia membuka lebar paha putih mulus itu. Bagian intinya Alana, sangat indah. Putih bersih dengan ditumbuhi bulu yang tidak terlalu lebat. bulu bulunya tersusun rapi. Dan warna kacangnya Alana terlihat sangat menggoda. Sesaat ia terpaku menatap gua kenikmatan itu.


Dan seketika moment kebersamaannya dengan Ali pun melintas di benaknya. Hal itu membuatnya mau muntah. Jujur, Arif traumah yang berbau bau intim.


" Astagfirullah. ..Arif tersadar. Ia kesampingkan hasartanya yang sempat berkobar. Ia fokuskan penglihatannya untuk memindahkan pacet itu dari bagian intinya Alana.

__ADS_1


"Sial.... Koq susah banget ya di tarik?" Arif bicara sendiri demgan bodohnya. Karena saat ditarik, Pacet nya malah semakin mencengkram miliknya Alana.


TBC


__ADS_2