Obsessive Love Disorder.

Obsessive Love Disorder.
Selamat


__ADS_3

Alana melirik Arif. "Bang, kita tempuh saja hujannya. Semoga ada pertolongan nanti. Dan semoga bisa kita lewati." Usul Alana dengan penuh keyakinan.


"Aku sih mau? aku ragu padamu. Kamu gak takut digigit Pacet lagi?"


"Iihhh.... Aww.... Takut...!" Alana bangkit dari tempatnya secepat kilat, berhambur memeluk Arif yang kini terkejut dengan tingkah hebohnya Alana. Kalau dipeluk seperti ini, apa yang Ditakutkan Alana pasti terjadi.


Arif terpaku menatap wajah paniknya Alana, atas kelakuan Alana yang heboh dalam pangkuannya. Sadar ditatap lekat oleh Arif. Alana pun dibuat jadi malu, apalagi saat mata mereka beradu pandang.


"Ma, maaf bang, aku gak sengaja. Aku takut...!" Ujar Alana dengan kikuk. Wajahnya semakin terlihat pucat.


Braakk..


Suara hentakan kayu ke lantai pondok mengecutkan Arif dan Alana.


"Ketangkap basah kalian..!" Ujar salah seorang pria dengan tegas dan kedua mata melotot.


"Tidak...!" Alana menjauh dari pangkuan Arif.


Sedangkan Arif langsung bersujud syukur.


"Ya Allah... Akhirnya kamu datangkan bala bantuan. Terim kasih ya Allah...!" Ketiga pria yang mendatangi pondok tempatnya Arif dan Alana berteduh dibuat heran. Koq si pria yang digrebek ini terlihat senang.


"Gila, digerebek malah senang. Harusnya kan dia takut..!" ujar pria satunya lagi kepada kawannya mereka. Ketiga pria itu saling pandang dengan bingungnya. kemudian memperhatikan lekat Arif yang masih bersujud menghadap kiblat itu.


Arif memutar tubuhnya ke arah tiga pria yang masih ada di ambang pintu Pondok itu


" Terima kasih Pak, terima kasih Pak... Akhirnya kalian datang untuk membantu kami."/Arif dengan cepat meraih tangan ke tiga pria dihadapannya. Menyalim tangan itu dengan penuh rasa syukur.


Ketiga pria itu dengan bingungnya memperhatikan ulahnya Arif. "kami ke sini bukan mau menolong kamu. Tapi kami itu mau memberi kamu hukuman, mau kami amuk."


"Hahh.... Kenapa?" tanya Arif bingung.


"Karena kalian buat hal tak baik di sini. Kami sudah ada buktinya berupa foto." Tegas pria yang berdiri di hadapan Arif dengan wajah sangarnya.


"Foto? kami nggak melakukan apa-apa. Kami terjebak banjir dan kami berteduh di sini." Jawab Arif dengan tegas. Ia mantan seorang polisi tak semudah itu mau mengurasnya. Karena ia lihat ketiga pria ini gelagatnya aneh.

__ADS_1


"Hallahh... Gak usah ngelak, ini ni.. Lihat...!" Seorang pria menunjukkan sebuah foto di ponselnya ke hadapan Arif. Foto di mana ia saat melebarkan paha Alana untuk mengambil pacet di bagian selang kangan nya Alana.


"Memang ia, kami gak melakukan apapun" Arif tak mau disalahkan.


"Kalian telah mengotori tempat ini ada buktinya tadi Kami sempat foto kalian saat kau bermain-main di ************ cewekmu itu." Hardik pria yang berkulit putih dan berperawakan pendek.


"Oouuww.. Mana bukti lainnya. Kalian gak boleh


menghakimi kami kalau tidak memperlihatkan bukti lebih jelas, kalau foto seperti ini kan gak jelas." Sahut Arif membela diri.


Alana sudah ketakutan. Ia hanya bisa memeluk tubuhnya yang kedinginan.


Ketiga pria itu saling pandang. Karena terlihat Arif tak gentar.


"Mending kalian antar kami pulang. Aku berikan kalian banyak uang." Arif meraih tas selempangnya yang teronggok di lantai pondok di sebelah kirinya.


Sibuk mengambil uang dari tasnya, Arif manatap tajam ke-3 pria itu. "Kamu nggak lihat itu istriku Sudah kedinginan. kami terjebak di sini. Kami belum hapal tempat ini." Tiba toba saja Arif mengakui kalau ia dan Alana telah menikah.


"Apa...?" ujar Alana dengan herannya. Kenapa pula Arif mengaku sebagai suaminya.


"Istri. Tadi kamu gak bilang dia istrimu."


ujar pria yang menggerebek mereka.


"Ya, sekarang aku katakan. Dia Istriku kamu nggak kenal aku rupanya?" Arif bicara sembari menyodorkan uang pecahan seratus ribu ke salah satu pria.


"Aku Arif Dirgantara pemilik perkebunan yang paling luas di tempat ini." Arif kembali menyodorkan uang pecahan seratus ribu, ke pria yang kedua. "Ini istriku kami, baru tinggal seminggu di kampung ini kami tadinya ke kebun dan terjebak hujan" Arif menyodorkan uang pecahan seratus ribu kepada pria terakhir.


"Oowwuu.. Pak Arif.." Ujar pria itu dengan


sumringah Siapa juga yang tak senang dikasih uang secara cuma cuma, kerja pun mereka satu harian belum tentu dapat uang.


Ketiga pria itu saling pandang. "Heeehehe ini Pak Arif, Pak polisi yang datang dari kota itu yang membuka kebun seluas 100 hektar itu. Kan teman-teman kita kerja di kebunnya pak Arif." Ujar si pria berkulit hitam, kepada kedua temannya yang nampak bingung.


"Oh iya pak Maaf pak polisi.. Maaf... Tadi nggak tahu kalau orang Bapak adalah pasangan sah."

__ADS_1


Ketiga pria itu malah menarik tangannya Arif. menyalami tangannya Arif secara bergantian. Menyadari kesalahan dan merasa perlu mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih banyak Pak Terima kasih banyak Pak Hari ini istriku belum memasak, karena aku gal bisa kerja dua hari ini. Hujan terus..." Ujar seorang pria terisak.


Alana yang tadinya tegang setegang-tegangnya kiri bisa bernafas dengan legah. walau Arif mengaku-ngaku sebagai suaminya itu tak jadi masalah hanya sebagai pengakuan kepada tiga orang ini. Yang jelas ia bisa keluar dari tempat ini.


"Bawa kami keluar dari tempat ini." Pinta Arif ramah.


"Iya pak, pasti.. Pasti...!" ujar ketiga pria itu secara kompak.


Arif merasa senang akhirnya ia bisa juga meninggalkan tempat yang mengerikan dan membuat dirinya terancam itu. Sempat bermalam di tempat ini. Ia tak yakin Alana akan dalam keadaan baik baik saja.


"Lewat dari sini pak?"


Alana sudah di pakaikan mantel oleh Arif. Dan kini Alana sudah naik di atas punggungnya Arif. Ia kembali akan digendong belakang Alana, yang mengaku ngaku suaminya itu.


Hujan masih turun dengan deras. Dan hari sudah mulai gelap. Ketiga pria itu membawa senter. Dan senter dari ketiga pria itulah yang menerangi perjalanan mereka.


"Ada jalan dari sini?" tanya Arif, mereka berjalan beriringan. Seorang pria ada di depan, disusul oleh Afif yang menggendong Alana dan dua pria lagi, mengekor di belakang Arif.


"Ada pak, kalau kita lewat dari sini, kita gak akan ditenggelamkan oleh banjir. Paling tinggi airnya selutut Pak." Sahut pria yang ada di belakang Arif, ketiga pria ini sudah begitu ramah kepada Arif. Ya jelas ramah Arif sudah menyongok mereka dengan Uang pecahan Rp100.000.


"Alana yang ada dalam gendongan Arif, tak sanggup lagi berkata kata. Ia memang sudah sangat lemas.


" Motorku yang tertinggal di kebun itu, kira kira aman gak ya?' tanya Arif memastikan. Itu motor kesayangannya


"Aman pak. Tadi kan sudah dikunci stang."


"Iya." Jawab Arif. Kini kedua matanya membelalak sempurna disaat ia sudah melihat cahaya dari perkampungan. Itu artinya mereka sudah dekat dengan pemukiman.


"Itu kampung kita?" tanya Arif antusias.


"Iya pak Arif."


TBC

__ADS_1


__ADS_2