Obsessive Love Disorder.

Obsessive Love Disorder.
Cabut laporan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Suasana hatinya Arif masih buruk. Sepertinya sangat susah untuk berdamai dengan keadaan. Ia sudah meminta izin tak masuk kerja. Dan kini ia hanya bermalas malasan di atas tempat tidur.


Tok


Tok


Tok


"Masuk aja bu, gak di kunci." Ujar Arif dengan lemah dari dalam kamarnya.


Ibunya Arif mengetuk pintu kamar anaknya itu dengan penuh kehati-hatian dia tak mau anaknya yang lagi sedih tersinggung atas sikapnya yang terlalu perhatian.


"Masuk aja bu, gak di kunci." Ujar Arif dengan lemah dari dalam kamarnya.


"Arif.... Makan dulu sayang..!" Ujar Sang ibu setelah berhasil membuka pintu. Kini wanita tua itu menghampiri sang putra yang kini sudah terduduk di atas ranjang.


"Belum lapar bu. Nanti kalau sudah lapar aku juga mau makan kok." Jawab Arif dengan malasnya. Ia memang sangat malas untuk berkomunikasi saat ini. Rasanya lebih asyik dan tentram menyendiri. Memikirkan apa yang akan dilakukannya untuk ke depannya. Karena, Arif sudah punya keinginan untuk pensiun Dini dari kepolisian. Dan rencananya dia akan kembali ke kampung. Tepatnya ke kampung ayahnya yang beda kecamatan dengan kampung sang ibu.


Arif akan memilih tinggal di kampung ayahnya. Karena ia merasa akan lebih nyaman di kampung itu, dibandingkan tinggal di kampung ibunya yang berketepatan, kampungnya sama dengan kampungnya Ali.


"Nak, tak ada guna nya kamu sesali semua nya, dengan berlarut-larut begini. Kamu pusing kan pun, waktu tak akan bisa kembali ke belakang. Mau kamu depresi mau kamu bahagia, waktu itu terus berputar. Yang sudah terjadi terjadilah, kita hanya bisa minta ampun kepada Allah, selalu minta diberi petunjuk agar terhindar dari orang-orang yang mau jahat pada kita." Ujar ibunya Arif sudah seperti Ustadzah kepada anaknya yang lagi galau itu.


Arif meraih bantal di hadapannya. "Iya bu, aku nggak depresi kok. Aku saat ini sedang tafakur, sedang menyendiri memikirkan rencana apa yang akan kulakukan ke depannya Bu. Aku tak mau membuang waktuku dengan memikirkan kejadian itu, walau masalah ku dengan Flo masih sering muncul." Sahut Arif tersenyum tipis pada Ibunya yang masih terlihat begitu mengkhawatirkannya.


"Eemmm.. Ibu akan percaya dengan apa yang kamu kata kan, jika kamu turun ke bawah. kita makan bareng." Ujar ibunya Arif dengan semangat nya. Ia harus terlihat semangat. Agar anaknya juga ketularan semangat darinya.

__ADS_1


Arif menatap sang ibu dengan sedih. "Ibu belum sarapan? astaga bu, ini sudah pukul 10." Ujar Arif dengan nada penuh kekecewaan pada sang ibu. Ia pun bangkit dari tempat tidur. Meraih tangan sang ibu dan menarik nya pelan. "Ayo kita makan bu!" Ujar nya tersenyum tipis.


Kini Arif dan sang Ibu sedang menikmati makan paginya. Sebenarnya Arif tidak selera untuk makan, tapi demi menjaga kesehatan dia paksaan juga nasi itu masuk ke mulutnya.


"Makan yang banyak nak!" ujar sang ibu tersenyum tipis.


"Eemm.... Makan banyak gak bagus bu. Di agama kita dilarang yang berlebihan. Sebagimana HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dalam shahihnya yang bersumber dari Miqdam bin Ma'di Kasib. Tidak ada satu wadah pun yang diisi oleh Bani Adam, lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk memperkukuh tulang belakangnya agar dapat tegak. Apabila tidak dapat dihindari, baiknya sepertiga makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan sepertiganya untuk napasnya."


"Iya deh pak Ustadz." Sahut ibunya Arif, tersenyum manis.


Arif hanya mengulum senyum menanggapi ucapan sang ibu. Ustadz? ia tak sanggup diberi gelar itu. Ia masih merasa bodoh, buktinya Flo bisa membodoh bodohinya.


Arif dan sang Ibu kembali melanjutkan acara makannya dan tiba-tiba saja pembantu mereka bernama kasihna menghampiri Arif


"Tuan.. ada tamu di depan memaksa untuk bertemu dengan Tuan." Ujar bi Kasinah dengan sopan melirik ibunya Arif yang nampak heran mendengar laporan pembantunya itu, bahwa mereka kedatangan tamu di siang hari ini.


"Siapa bi?" tanya Arif memastikan.


"Wanita? siapa itu Nak?" tanya ibunya Arif dengan keponya.


"Gak tahu Bua. Aku ke depan dulu Bu."


Arif bangkit dari duduknya menyeret kakinya menuju ruang tamu. Saat sampai di ruang tamu. Arif sedikit terkejut melihat tamu yang kini duduk di kursi tamu itu ternyata adalah Hana, mantan istrinya Ali.


"Hana..!' ujar Arif dengan muka kesal. Jujur, Arif jadi sangat membenci Hana. Wanita ini dan Ali telah bersekongkol untuk menipunya.


Hana bangkit dari tempat duduknya dengannya ekspresi wajah ketakutan. Jelas ia ketakutan saat ini. Arif sudah seperti singa lapar melihatnya.

__ADS_1


" Pak Arif.... Maafkanlah Ali." Ujar Hana dengan terisak, mengatupkan kedua tangannya pada Arif.


"Kamu kesini mau menyerahkan diri?" tanya Arif dengan muka kesalnya.


Hana terlihat bingung dan takut.


"Gak pak Arif." sahutnya dengan kikuk.


"Kemarin aku sudah ingatkan kamu, agar menjumpakan Aku dengan si Ali. Tapi, kamu diam saja."


"Iya pak." Hana memotong cepat ucapan Arif.


"Berarti kamu mau ditahan juga kan? kamu sudah bisa saya laporkan ke pihak berwajib. Karena kamu membuat laporan palsu soal kematian Ali." Ujar Arif, masih dengan nada marahnya.


"Jangan pak Arif. Jangan.... Tapi, jika dengan menahanku, Ali bisa bebas. Aku mau pak, silahkan tahan saya pak." Ujar Hana dengan mata yang berkaca-kaca menatap sendu Arif yang masih menunjukkan wajah kesalnya.


"Apa..? kamu rela masuk penjara asalkan si Ali bisa keluar dari tahanan? kamu jangan ikut ikutan gila kek si Ali. A yang kamu pikirkan sebenarnya Hana?" tanya Arif dengan bingungnya.


Hu


hu


Hu


Hana tak bisa lagi membendung air matanya yang mendesak keluar untuk keluar itu. Ia masih menatapi sendu Arif. "A, ak, aku sangat mencintainya sangat mencintainya aku dukung dia untuk mendapatkan kebahagiaannya." Ujar Hana dengan berlinang air mata.


Hufftt...

__ADS_1


"Stop Hana.... Aku sudah muak membahas Ali. Kalau kamu tak ada keperluan lain, sebaiknya kamu pulang." Ujar Arif tegas, menunjuk pintu keluar.


TBC


__ADS_2