
POV author
"Eemmm.. Maaf ini sedikit menyimpang dari masalahnya Ali. Tapi, aku ingin tahu. Apakah kamu punya hubungan yang tak selesai dengan pria lain?" tanya Arif pada Hana.
Hana semakin dibuat bingung dan terlihat sangat was-was. Ia seperti menyembunyikan sesuatu.
"Ya, ya, du, dulu aku punya teman pri, pria di kampus." Ujar Hana tergagap.
Arif tak mendesak Hana untuk bercerita, ia membiarkan wanita itu tenang sejenak dan setelah Hana merasa tenang. Wanita itu pun kini menatap ke arah Arif dengan sedihnya.
"Tapi aku dan Romi Sudah lama tidak komunikasi. Sebelum menikah dengan Abang Ali, aku tak memiliki hubungan lagi dengan Romi." Sahut Hana sendu. kini ia menunduk kemudian melirik Ibu mertuanya yang nampak terkejut mendengar penuturan Hana
"Apa mungkin mantan kekasihmu masih berharap padamu, sehingga ia menaruh dendam pada Ali dan ingin melenyapkan Ali?" tanya Arif dengan begitu penasarannya.
Hana menggeleng dengan tidak percayanya.
"Tdak, itu tidak mungkin terjadi. Aku dan Romi sudah lama memutuskan hubungan. kami berpisah secara baik-baik,, sebelum menikah dengan Abang Ali. Aku dan Romi tidak pernah lagi ber komunikasi dan Abang Romi itu sudah kerja di luar negeri." Hana terlihat tak tenang menjelaskan semua nya.
Oouuwwwhh...
Ia berteriak, karena terkejut. Ponsel yang ada di dalam tas sandangnya berdering.
Semua orang di ruangan itu jadi saling tatap. Karena Hana tak kunjung mau mengangkat telepon nya.
"Koq gak diangkat Nak?" tanya Ibu nya Ali ke pada Hana, yang terlihat masih tegang itu.
"Oouuww... Itu pasti ayah Bu. Nanti Aku telepon balik." Sahut Hana tersenyum tipis, menyembunyikan kegelisahannya.
Arif merasa tak perlu berlama lama lagi di tempat itu.
"Oh begitu baiklah." Arif bangkit dari duduknya. " Saya permisi dulu ya Bu, Hana. kita tetap tenang dan waspada. kasus ini harus cepat terungkap. b
__ADS_1
Besok, harus ada titik terang nya. " Ujar Arif, serius menatap kedua wanita beda generasi di hadapannya.
"Ya anakku Arif.. ibu mohon temukanlah di mana anakku Ali hanya Ali Milik ibu satu-satunya di dunia ini anakku..!" Ibu nya Ali kini memeluk Arif dengan berlinang air mata. Arif bisa merasakan kesedihan yang amat yang dirasakan wanita itu, dari isak tangis wanita tua itu.
"Bukan ibu saja yang merasa kehilangan, tapi aku juga bu. Aku juga sangat merasa kehilangan. Ali itu sudah lebih dari saudara buatku. kami bersama sejak kecil. Ibu tenang ya, kita pasti menemukan keadaan Ali."
Arif, mengusap lembut punggung ibunya Ali, memberikan ketenangan pada wanita tua itu. Merasa tenang, ibunya Ali mengurai pelukannya dari Arif. Ia mengusap cepat air mata di wajah keriputnya dengan jemarinya. Kemudian wanita tua itu meraih tangan Arif. Menggenggam kedua tangan Arif dengan penuh harap.
"Makasih ya Nak. Ibu sangat berharap padamu Nak."
"Iya Bu." Arif merangkum tangan keriput Ibu nya Ali dengan senyum tipisnya.
***
Sepeninggalannya Arif dari rumah orang tuanya Ali. Tak Berapa lama, Hana pun berpamitan pada ibu mertuanya itu." Bu Hana pulang dulu ya, Hana besok masih mau kerja Bu." Ujar wanita cantik bertubuh langsing itu kepada Ibu mertuanya.
"Nak, ini sudah malam. kamu tidur di sini saja ya! di sini juga kan ada pakaianmu." Sepertinya ibunya Ali sangat keberatan jika menantunya itu pulang ke rumahnya.
" Iya sih bu, tapi ada berkas yang harus Hana kerjakan malam ini. Besok Hana harus cepat masuk kerja Bu. Hilangnya Abang Ali, membuatku sedikit repot Bu. Aku harus ikut membantu ayah di perusahaannya." jelas Hana lembut pada ibu mertuanya.
kini Hana sudah masuk ke dalam mobilnya. Dia membuka kaca pintu jendela mobil dan Melambaikan tangan pada ibu mertuanya, kemudian dia pun melajukan mobilnya. Setelah mobil melaju 3 km dari rumahnya Ali. Hana menepikan mobilnya.
Tangannya bergerak cepat dan terlihat sedikit gemetaran merogoh ponsel dari tas selempangnya yang ia letakkan di jok sebelah sopir. Dan ia pun melakukan panggilan dengan ekspresi tegang nya
" Jangan pernah kamu telepon-telepon aku lagi. Iya, iya kamu tenang. Semuanya sudah beres. s
Semuanya aman, ini terakhir kalinya kau menghubungi aku. Oke..! kau mengerti kan..!" Ujar Hana dalam panggilan telepon, dan kini ia terlihat mendengar dengan jelas ucapan lawan bicaranya dipanggilan suara itu.
"Ba, baiklah..!"
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
"Aauuww.. Copot... Copot..!"
Hana sangat terkejut, disaat pintu mobilnya diketuk dari luar, jantungnya terasa mau Copot dari tempatnya.. Iya sungguh merasa sedang diikuti seseorang dengan dada yang berdebar-debar itu, ia pun memberanikan diri menolwh menoleh ke pintu kaca mobilnya
Tapi, niat untuk membuka pintu kaca mobil itu, ia urungkan. Ia tak berani membuka pintu kaca mobil itu. Ia pun langsung tancap gas, tanpa ingin tahu siapa orang yang mengetuk ngetik, pintu kaca mobilnya di tengah malam begini.
"Aku yakin itu Hana. Kenapa dia berhenti di sini?" ternyata orang yang mengetuk pintu mobilnya Hana adalah Arif. Arif belum pergi dari daerah itu. Dia masih menyelidiki keberadaan Ali. Dengan mencari informasi di warung kopi, ke pakter tuak yang ada di daerah itu. Ya di kampung nya Arif. Masih ada warung yang jual minuman keras, yang namanya tuak. Tuak adalah fermentasi dari nira nira kelapa.
Arif yang dilema malam ini, Karena kehilangan, sahabatku sejati. Memutuskan pergi ke sebuah balai. Balai itu sering dibuat anak muda untuk tempat tidur di malam hari. Disaat merdeka kumpul kumpulan, dan tak pulang ke rumah untuk tidur. Dulu namanya di kampung nya Arif adalah Sopo Godang.
Sopo Godang adalah tempat musyawarah adat, balai sidang keadilan, tempat pertunjukan kesenian, tempat belajar adat, hukum, seni kerajinan tangan serta ilmu pengetahuan lainnya. Selain itu Sopo Godang tempat bermalam musafir dan lain-lain, boleh dikatakan gedung ini adalah gedung serbaguna yang menampung segala kegiatan kemasyarakatan.
Sopo Godang dianggap sebagai tempat yang sakral karena adat dan hukum, adat dijiwai Sopo Godang, dari gedung inilah turun keputusan-keputusan yang mengatur tata tertib seperti patik, uhum, ugari dan hapantunon.
Sopo Godang ini disebut juga sopo siorancang magodang karena di gedung ini adalah tempat orang memperoleh perlindungan yang aman.
Tanda sebuah huta atau kampung yang telah resmi sebagai bona bulu haruslah mempunyai sopo godang sebagai balai pertemuan, itulah sebabnya orang-orang batak Mandailing tumbuh menjadi penganut demokrasi sejati, karena semua diputuskan raja harus melalui musyawarah mufakat, hal ini digambarkan pada ornamen berbentuk segitiga yang disebut bindu yang merupakan lambang dari dalihan natolu yang dapat dilihat pada atap Sopo Godang pada bagian depan.
Dari situ tergambar bahwa sungguh pun bentuk pemerintahan adalah kerajaan, tapi bukanlah kerajaan absolut tapi adalah bentuk kerajaan yang demokratis (monarki konstitusional).
Kini Arif telah membaringkan tubuhnya di atas lantai papan itu, tangannya ia buat sebagai bantal dan kini kaki menjulur dan saling menimpa. Kedua bola matanya yang sendu menatap langit-langit sopo godang. Kenangan manis dan indah bersama Ali sejak kecil hingga merdeka lulus SMA, melintas di pikirannya. Dulu mereka sering belajar di sopo godang ini setiap malam, bersenda gurau, bermain layaknya anak laki-laki. Bahkan mereka sering tidur dalam satu selimut. karena sopo godang ini tidaklah di dinding.
Hufftt..
Arif, menghela nafas dalam. "Kamu di mana Ali? Kenapa kamu menghilang seperti ini?" Arif, bermonolog dengan kepalanya terus berfikir keras untuk mengusut tuntas keberadaan Ali.
TBC
__ADS_1
Please readers..
Tinggalkan jejak dong di novel Ini, berikan like komentar positif,hadiah dan Vote nya ya!