Obsessive Love Disorder.

Obsessive Love Disorder.
Sampai


__ADS_3

"Arif... Awas...!"


Dengan gerakan kilat Arif menghindar dari serangan balok kayu yang dilancarkan kekasihnya Alana


Buukkk..


Dengan gerakan cepat pula, satu tendangan kuat melayang ke perut pria, kekasihnya Alana. Pria itu tersungkur. Kemudian Arif menghadiahi dua tinju ke wajah pria itu.


Alana yang ada di dalam mobil, dibuat panik dan tak tega melihat kekasihnya dihajar oleh Arif. Ia pun memaksa dirinya turun dari mobil, walau ia masih merasa lemah dan lemas.


Alana menghadang serangan tinjunya "Arif, sehingga kepalan tangan kekar itu pun hanya mengatung di suara.


"Stop...!" Alana menutupi tubuh sang kekasih. Kedua tangannya mengepak, berusaha melindungi kekasihnya itu. Arif terdiam, ia kibaskan tangannya yang tidak jadi menyerang pria itu.


Perlahan pria itu pun bangkit, dengan tertatih tatih. Disaat Alana berusaha memapahnya, pria itu mengibaskan tangannya. Tak sudih di bantu oleh Alana.


Alana hanya bisa menangis saat ini memperhatikan sang Kekasih yang berusaha untuk berdiri tegak. Wajah pria itu sudah bengkak dan lebam karena dihajar oleh Arif.


"Ayo pulang..!"


Pria itu menarik kasar tangannya Alana. Wanita itu terkejut.


"Aawww.... Sakti..!" pekiknya refleks, pria itu tetap menarik tangannya Alana menuju mobilnya.


"Lepas.... Aku gak mau!" Alana berontak, tangannya berusaha melepaskan tangan kekasih nya yang melingkar di pergelangan tangannya.


Arif tak tahan melihat tontonan di hadapannya. Rasanya darah nya kinu mendidih hingga ke ubun ubun. Ia pun menghampiri Alana dan kekasih nya itu.


"Lepaskan tangannya! " Hardik arif pada kekasih nya Alana. Tapi, pria itu tak mengindahkan ucapan Arif.


Arif yang kesal, menarik paksa tangan pria itu hingga terlepas. Merasa tak sanggup melawan Arif. Pria itu pun hanya bisa menggerutu dalam hati.


"Lihat saja Alana. Kamu akan menyesal dengan kejadian malam ini!" Teriak pria itu sambil berjalan ke arah mobilnya.


Bruuggkk..

__ADS_1


Alana yang lemas ambruk sudah di trotoar jalan dan saat itu juga Arif dengan cepat menangkap wanita itu, menggendongnya dengan penuh kekhawatiran. Membawanya masuk ke dalam mobilnya. Se sampainya di mobil, Alana tak bisa di ajak bicara. Wanita itu terduduk lemas, dengan air mata yang mengucur deras tak pada hentinya membasahi pipi pucatnya. Ia tak nisa di ajak bicara.


Ia terlihat sangat tertekan sekali.


"Ibu akan menjaga nya. Sudah kamu duduk di depan saja." Ujar Sang ibu pada Arif.


Arif pun keluar dari dalam mobil. Kemudian ia duduk di kursi sebelah supir.


Tin


Tin


Tin


Kekasih nya Alana mendahului mereka. Dengan meng gas, mobilnya. Hal itu membuat Alana semakin sedih. Ia tak bisa buka suara. Hanya isak tangis yang bisa didengarkan dari mulutnya.


"Ayo pak, kita lanjutkan perjalanan." Ujar Arif pada sang supir.


"Baik pak." Sang supir me masukkan gigi dan menekan pedal gas. Mobilnya pun melaju dengan kecepatan perlahan.


Mobil melaju semakin kencang. Arif terus saja menoleh ke belakang. Sedangkan Hana masih mematung di tempat, sama sekali tak ada pergerakan di tubuhnya atau basa-basi kepada ibunya Arif. Ia hanya menangis dengan air mata yang mengucur deras ibunya Arif yang duduk di sebelahnya sesekali melap air mata itu dengan tisu, serta mengusap-usap lengan tangannya Alana.


"Sabar, sabar ya sayang... Semua masalah pasti ada solusi nya. Semua masalah ada hikmahnya." Ujar Ibunya Arif lembut. Masih mengusap usap lembut dengannya Alana. Alana memutar lehernya ke arah ibu nya Arif. Ia pun langsung memeluk wanita tua itu.


" Iya Bu, makasih banyak Bu. Terima kasih banyak.. Aku, aku nggak tahu lagi apa yang terjadi padaku, jikalau tadi orang ibu gak melintas di tempat itu.


"Iya sayang.." ibunya Arif mengusap lembut kepalanya Alana yang kini pasrah menangis di bahu wanita itu.


Arif yang duduk di sebelah sopir, terus saja melirik ke belakang, guna melihat keadaan Alana. Ia jadi penasaran dengan teman masa kecilnya itu. Kenapa bisa sampai di sini? Apa yang menyebabkan mereka bertengkar? Tapi sepertinya bukan sekarang waktu yang tepat menanyakan itu semua, apalagi Alana terlihat masih sangat terpukul.


Mobil pun terus melaju. Arif tak mau bertanya banyak pada Alana. Apalagi kini ia melihat alana dan ibunya sudah tertidur. Sedangkan pria itu tidak bisa tertidur. Dia memikirkan istrinya yang sudah 5 hari tidak bisa dihubungi. Arif baru tahun sifat asli, istrinya itu. Ternyata jikalau marah istrinya itu sangat kekanak-kanakan. kenapa harus menonaktifkan ponselnya. Bahkan semua sosial media nya Flo juga tidak bisa aktif. Begitu juga dengan asistennya Flo, tidak bisa dihubungi.


"Eemmm... Kalau bapak kantuk, aku bisa jadi supir cadangan." Ujar Arif pada sang supir yang terlihat mengantuk.


Sang supir yang terkejut mendengar ucapan Arif menoleh kepada Arif. "A, apa boleh pak? Iya nih pak, aku sangat ngantuk sekali." Sahut supir itu dengan enggannya pada Arif.

__ADS_1


"Ya, ya Boleh Pak. Masak gak boleh sih? aku juga nggak bisa tidur ini." Jawab Arif.


Pak supir itu pun menepikan mobilnya. Mereka berdua keluar dari pintu mobil, berganti posisi. Yang kini Arif menjadi sopir.


"Bismillahirohmanirohim .....!"


Arif berdoa dengan semamgatnya. Perjalanan masih panjang ada sekitar 4 jam lagi baru sampai di tempat tujuan, karena insiden tadi mungkin mereka akan sampai pagi hari yang seharusnya bisa dikejar pukul 04.00 pagi.


walau Arif tak konsentrasi menyetir karena pikirannya selalu tertuju kepada sang istri, dia tetap berusaha fokus. Ia juga tidak mau membuat orang yang ia bawa ini celaka. Arif melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Ia melakukan itu karena ia sudah tidak sabar ingin cepat sampai ke rumah. Ia sudah sangat ingin mengetahui keadaan istrinya dan juga sangat merindukan istrinya itu.


Pukul 06.00 pagi akhirnya mobil sampai di tempat tujuan. Dan mobil langsung masuk ke area rumah mereka dengan cepat satpam membuka gerbang karena sebelumnya Arif telah menghubungi security rumahnya itu.


Sesampainya di rumah Entah kenapa ia me rasa tidak tenang. Jantungnya berdebar tak berirama.


Huuffft


Arif menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan Ia melakukan itu berulang kali agar dirinya bisa tenang. Merasa sedikit tenang Ia pun akhirnya membangun kan sang supir.


" Pak, bangun kita sudah sampai." Arif terlebih dahulu membangun kan supir nya itu.


"Oouuww... Iya pak."


Sang supir tersenyum tipis pada Arif. Pria itu


turun dari mobil bergegas ke arah bagasi mengeluarkan barang-barangnya Arif sedangkan Arif kini membangunkan ibunya dan Alana.


"Apa kita sudah sampai nak?" ibunya Arif memperhatikan sekitar. Ya, hari sudah mulai terang matahari sudah terbit. Ibunya Arif sedikit tercengang karena baru kali ini ia melihat rumah barunya Arif ini, sebelum Arif menikah Arif tidak tinggal di rumah ini.


Alana pun terbangun ia mengucek matanya yang sembab itu. Dengan enggannya dia membalas tatapan manisnya Arif. Ya, Arif memang selalu bersikap manis pada alana, sejak mereka kecil.


"Bisa turun Dek?" tanya Arif dengan senyum tipis nya.


"Bi, bisa bang." Sahut Alana dengan sedikit tergugup.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2