Obsessive Love Disorder.

Obsessive Love Disorder.
Pingsan


__ADS_3

"Ya Allah... Tolong redakan hujannya. Kami


mau pulang." Ujar Alana menatap ke arah langit yang menurunkan tetesan tetesan air dalam ukuran besar itu.


Arif menggelengkan kepalanya cepat, ia merasa lucu dengan tingkahnya Alana. "Tadi katanya nggak mau pulang sekarang mau pulang." Ujar Arif tegas ia sudah berhasil membuka pintu pagar perkebunan itu. Berlari cepat ke pondok. Alana membelitkan tangannya dengan kuat dilehernya Arif. Ia sungguh sangat takut terjatuh karena gerakan Arif yang sangat cepat berlari menuju pondok.


Setelah sampai di pondok. Arif menurunkan Alana. Dan kini wanita itu sudah terduduk di lantai pondok yang terbuat dari kayu itu. Pondok itu ditutup dengan setengah dinding.


"Kamu kedinginan?" tanya Arif memperhatikan Alana yang memeluk tubuhnya sendiri.


"Iya bang." Sahut Alana dengan tubuh


yang menggigil bibirnya sudah membiru dan telapak tangannya juga sudah keriput begitu juga dengan kukunya sudah mulai berubah warna jad kebiruan. Hal itu terjadi karena memang kondisi dari Alana masih kurang fit sebab dalam 2 minggu ini dia kurang sehat ditambah dengan kematian ibunya membuat tubuhnya cepat drof, karena kurang istirahat.


"Kita tempuh saja hujan ini. Berlama lama di sini juga gak baik. Sepertinya hujan ini gak akan redah." Ujar Arif memberi usul. Jujur ia terlihat sangat mengkhawatirkan Alana.


Arif adalah tipe orang yang tak mau menunggu. Kalau dia sedang ada urusan, dia lebih memilih menempuh hujan. Semisal ia naik motor, dan tak ada barang penting yang ia bawa.


Duar..


Duar


Duar..


"Ampunnn.. Ya Allah.. Aku masih mau hidup ya Tuhanku aku tak mau mati disambar petir di sini..!" ujar Alana panik. Ia terlihat menutup kedua telinganya dengan kaki di tekuk, agar ia tidak merasa kedinginan mana angin bertiup sangat kencang membuat bulu Kuduk merenang dan seluruh tubuh menggigil.


Suara gemuruh semakin terdengar sangat mengerikan. Saking kuatnya suara gemuruh itu, membuat pondok itu bergetar. Hal itu membuat Alana semakin takut.


"Gimana kamu sanggup nggak? biar kita pulang sebelum tempat ini banjir. Tempat ini rawan banjir. Karena dekat sungai. Apa lagi Semalam juga hujan." Ujar Arif sangat mengkhawatirkan Alana.


"Iya bang, kita pulang aku nggak mau mati di sini." Sahut Alana dengan tubuh yang menggigil.


"Ayo... naik lagi." Arif berjongkok membelakangi Alana. Dengan tangan gemetaran Alana membelitkan tangannya di leher Arif. Begitu juga dengan Arif memegang kedua paha Alana dengan kuat. Ia takut Alana terjatuh.


Arif mulai melangkah meninggalkan Pondok itu menuju motornya nanti di sana mereka akan memakai mantel Karena Arif menyimpan mantel di dalam bagasi jok motornya. Baru juga melangkah 10 langkah terlihat air meluap di jalan begitu juga sudah masuk ke area perkebunan yang mereka tempati saat ini. Perkebunan ini sering terjadi banjir


"Waduh gawat banjir kayak ni Dek? gimana ini? kita nggak bisa melewati ini apalagi kamu dalam keadaan luka begini." ujar Arif dengan paniknya, ia celingak celinguk memperhatikan sekitar dan masih menggendong Alana. Ya tempat mereka sekarang memang dekat ke sungai.


"Ki, kita balik ke pon, pondok saja bang." Sahut Alana menggigil. Suaranya terdengar rerbata bata.

__ADS_1


"Iya."Arif kembali ke pondok. Ia mempercepat langkahnya.


Sesampainya di pondok yang seperti Rumah panggung itu Arif kembali mendudukkan Alana di lantai Pondok itu. " Tunggu sebentar di sini aku pindahkan motorku dulu ke dekat pondok ini." Ujar Arif.


Tanpa menunggu jawaban dari Alana dia langsung berlari menuju tempat motornya Yang terparkir di jalan perkebunan itu. Dan kini air di jalan itu sudah sampai selutut begitu juga dengan di area perkebunan tempat Pondok yang mereka tempati saat ini. Jangan tanya di perkebunan di bagian depan sana, mungkin tinggi air sudah sampai sepinggang karena tempat mereka sekarang lebih tinggi daripada tempat yang akan mereka lalui menuju pulang ke rumah.


Duar


Duar


Ujar


Suara petir semakin terdengar sangat mencekam. Kilatan cahayanya terlihat membelA langit. Alana yang ketakutan memilih masuk ke dalam pondok. Dan bersembunyi di sudut pondok. Ia kembali memeluk tubuhnya yang basah. Air mata mengucur deras, saking takutnya ia saat ini. Mana hari sudah malam.


Arif yang sudah memarkirkan motornya di depan pondok itu, bergegas mengambil kantongan plastik yang ada di dalam bagasi motornya. Di dalam kantongan plastik warna putih itu, berisi


Dua stel pakaiannya. Pakaian ini bisa mereka pakai, agar mereka tidak kedinginan.


Arif sangat bersyukur sekali. Ada dua stel dalam kantongan plastik itu. Satu set pakaian untuk kerja dan satu set pakaian ganti. Ya, Arif tipe pria sangat pembersih. Ia selalu bawa baju ganti jika pergi bekerja. Baik sewaktu jadi polisi. Atau sudah jadi petani seperti sekarang ini.


Arif menaiki tangga pondok, menghampiri Alana yang memilih duduk memeluk tubuhnya di sudut pondok.


Alana terlihat ragu untuk mengambil pakaian yang disedorkan Arif karena tak mungkin dia mengganti pakaian di dalam pondok ini mana Pondok ini tidak tertutup sempurna hanya setengah di dinding sedangkan setengah lagi sampai ke atap tidak di dinding.


"Ayo... Kamu harus ganti bajumu yang basah itu. Kamu bisa hipotermia nanti." Desak Arif.


"I, iya. Ta, tapi di mana aku gantinya." Ujar Alana dengan tubuh bergetar karena menggigil.


"Ya ganti di sinilah dek, Nggak mungkin kau nanti di hujan sana." Jawab Arif dengan cepat.


"Ta, tapi kan Abang di sini."


"A, aku tak akan mengintip atau berbuat hal yang tak baik padamu. Kamu kayak nggak kenal aku saja." Sahut Arif kesal, merasa tersindir dengan ucapan Alana.


"Iya, maaf. Jangan marah ya? jangan tinggalkan aku." Ujar Alana dengan memelas.


"Eemmm... Siapa juga yang akan memarahimu. Sudah kamu jangan mikir yang macem macem. Kamu itu sudah ku anggap sebagai saudaraku


Adik perempuanku sendiri. Sejak kecil kita sudah kenal. Masak kamu gak tahu aku gimana sih?" ujar Arif dengan malas.

__ADS_1


"Iya bang, kamu balik badanlah." Ujar Alana dengan tubuh yang menggil.


"Iya, jangankan balik badan. Aku turun saja. Aku juga mau ganti baju di bawah." Sahut Arif.


"Jangan.... Aku takut."


"Ya di sana koq." Arif menunjuk ke beranda pondok itu. Ya, pondok itu ada terasnya. "Nanti aku di sini, kamunya bilang Abang ngintip lagi." Arif memonyongkan bibirnya menatap Jengah Alana yang sikapnya aneh. Semua nya serba salah.


"Iya, tapi abang jangan ngintip!' ujar Alana memberi peringatan.


" Eemmm.. "Sahut Arif, menjauh dari Alana. Dan kini ia sudah ada di teras pondok.


Arif mulai menanggalkan satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya dengan cepat. Karena saat ini angin bertiup dengan sangat kencang. Ia harus cepat mengganti pakaiannya. Sedangkan Alana sangat ribut saat mengganti pakaiannya di dalam pondok. Selain suara berisiknya yang mengeluh kedinginan. Suara giginya yang bertabrakan karena kedinginan terdengar jelas ke tempat Arif saat ini.


Duar


Duar


Duar


Suara petir kembali menggelegar, terlihat membela langit.


" Aauuww... Takut...!" Teriak Alana.


"Teriak teriak terus lah... Nanti dengar harimau suaramu. Biar ia datang kesini." Ujar Arif kuat. Kini ia sudah selesai mengganti pakaiannya.


"Aauuww... Ini, ini... Aku takut.... Tolong.... Abang Arif.. Tolong....!"


Teriakan Alana yang meminta tolong di sudut Pondok, membuat Arif sangat khawatir dan penasaran. Ingin rasanya ia menghampiri Alana. Tapi, ia yamin wanita itu pasti belum selesai ganti pakaian. Tak mungkin ia menghampiri wanita itu.


"Tolong.... takut....!" teriak Alana lagi.


Bruuggkk..


Bruuggkk..


Terdengar suara alana ambruk. Arif pun akhirnya menoleh ke belakang. Dan ia pun dikejutkan dengan keadaan Alana yang sudah pingsan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2