
Arif dan ibunya hanya beristirahat di rest area sekitar 30 menit. Kemudian mereka pun Bersiap siap untuk melanjutkan perjalanan. Mobil yang mereka tumpangi, kini mulai melaju meninggalkan rest area.
"Kenapa Ali membuat cerita kalau dia sudah meninggal ya Nak?" Ibunya Arif mulai membuka percakapan. Kini mobil mulai melaju kencang. Karena jalanan sudah sedikit sepi dan hujan telah reda.
"Eeemmm... Entahlah bu. Kurang kerjaan sekali si Ali itu. Gara garam masalah ini, Flo marah padaku. Aku buang buang waktu menyelidiki kasus yang impulsif. Benar benar pekerjaan yang lari dari jalur dan rencana." Sahut Arif dengan kesalnya. Ia merasa telah buang buang waktu. "Kalau aku bertemu dengannya, akan ku para akan lehernya. Biar tahu rasa dia. Sekalian dia biar menghadap Ilahi."
"Arif... Gak boleh ngomong gitu nak!" Ibunya Arif
memotong cepat ucapan putranya itu. "Gak boleh berkata yang tidak baik. Ingat ucapan kita itu adalah doa." Tegas ibunya arif pada sang putera.
"Eemmmmm... Entahlah bu, aku kesal sekali pada Ali."
Ciittt....
Tiba-tiba saja mobil ngerem mendadak. Hal itu membuat tubuh nya Arif dan sang ibu terhuyung ke depan dan terhempas ke belakang sandaran jok mobil.
"Pak hati-hati..!" Pekik Arif pada sang supir.
Setelah memastikan sang ibu tidak kenapa kenapa. Arif pun memperhatikan sekitar, tepatnya mobil yang berhenti mendadak di hadapannya.
"Kenapa mobil itu ngerem mendadak? Syukur bapak sigap, kalau tidak bisa terjadi kecelakaan." Ujar Arif, kini tatapan mereka lurus ke depan, memperhatikan mobil warna hitam yang masih stay di hadapan mereka itu.
"Iya pak Arif. Syukur sekali gak terjadi kecelakaan." Sahut sang supir. Memundurkan mobilnya, agar bisa melewati mobil yang jarak nya dengan mereka tinggal 10 centi meter lagi.
__ADS_1
Saat mobil mereka berhasil melalui mobil yang berhenti mendadak itu. Arif tetap menoleh ke arah mobil itu.
"Stopp.. Tolong berhenti sebentar pak!" ujar Arif dengan paniknya kepada supir nya itu. Arif terlihat penasaran dan tergesa-gesa membuka pintu mobilnya.
"A,ada apa Nak? kamu kenapa mau keluar ?" tanya sang ibu, heran melihat putranya yang ingin turun dari mobil. Padahal saat ini mereka tengah berada di jalanan sepi di tengah hutan.
"Tunggu sebentar Bu. Itu sepertinya Hana." Sahut Arif tanpa menoleh ke arah sang ibu. Arif pun berlari menghampiri Pemilik mobil yang berhenti itu.
"Lepas.... Aku gak mau ikut denganmu lagi. Biarkan aku mati di sini dimakan hewan buas." Teriak seorang wanita. Berusaha keras lepas dari genggaman tangan seorang pria.
"Masuk kamu harus masuk kalau kau mati di sini aku yang akan ketangkap polisi." Arif mendengarkan dengan jelas pertengkaran pasangan yang sudah sangat emosional itu.
"Ana.. Alana....!"
Sorot lampu tepat ke arah Arif saat ini, sehingga Ia terlihat dengan jelas.
"Tolong... Tolong Abang Arif... To..Tolong..!" Teriak Ana dengan ekspresi wajah ketakutan berusaha melepaskan tangannya dari belitan tangan pria yang Arif tahu itu adalah kekasihnya Alana. Saat ini Alana menangis histeris.
"Lepas... Lepaskan tangan Alana." Ujar Arif, kini jaraknya dengan Ana dan sang kekasih, sangatlah dekat.
"Kamu.. Kamu dan kamu lagi. Sialan...!"
Tendangan cepat nya Kekasih Alana, bisa dihindari oleh Arif. Kekasihnya Alana terus saja berusaha menendang Arif. Tapi, selalu bisa ditangkis oleh Arif.
__ADS_1
Alana yang sempat tersungkur karena ditolak oleh kekasihnya. Kini terduduk lepas di trotoar jalan.
"Tolong...Tolong....!" Teriak Alana, disaat kekasihnya Alana menyerang Arif.
"Alana.. Kamu masuk ke dalam mobilku." Pekik Arif, sambil berkelahi dengan Kekasihnya Alana. Saat ini, pertengkaran semakin panas. Apalagi Arif sudah tiga kali mendaratkan tinjunya di perut Kekasihnya Alana.
Alana yang panik dan ketakutan. Malah terdiam memaku di tempat. Wanita itu terlihat syok.
Saat itu juga, supir nya Arif datang membantu perkelahian itu. Dan moment itu disempatkan Arif, untuk mendekati Alana.
"Ayo Na," Arif sudah menempatkan tangannya di pinggang Alana. Membantu wanita itu untuk bangkit, dan akan memapahnya ke mobil.
"Huhuhu... Tubuhku gak bisa di gerakan.." Keluh Alana dengan menangis tersedu sedu.
Kekasihnya Alana selalu berusaha mendekati Alana, yang sudah dirangkul oleh Arif. Tapi, lawannya tetap saja menyerangnya. Seperti nya supir nya Arif, pandai juga berkelahi.
"Aku akan gendong kamu." Arif pun mengangkat tubuh nya Alana. "Kamu kecil, tapi koq berat gini sih?" ujar Arif mencoba ngebanyol, agar Alana yang ada dalam gendongannya tidak terlalu tegang. "Dulu kamu gak seberat ini deh!"
Pukk
Alana memukul kesal dada bidangnya Arif. Ia kesal Karena selalu digoda oleh Arif. Ia tetap menangis, tapi sambil tertawa kecil dalam gendongan Arif yang kini membawanya menuju Mobil. Saat sampai di dekat mobil ibunya Arif dengan cepat membuka pintu mobil gitu, dengan paniknya Arif mendudukkan Alana di kursi Mobil.
"Arif... Awas...!"
__ADS_1
TBC