Obsessive Love Disorder.

Obsessive Love Disorder.
Muak


__ADS_3

"Ya Allah.... Kenapa ini semua bisa terjadi Nak?" Ibunya Arif, kini malah yang menangis histeris dalam pelukan anaknya. Ia baru menyadari semua yang terjadi hari ini. Bahwa menantunya bukanlah wanita tulen.


"Bu... Apakah aku akan dapat ampunan dari-NYA? Aku telah melakukan dosa besar bu." Ujar Arif terisak dalam dekapan sang ibu. Seumur hidupnya baru kali ini dia serapuh dan sehancur ini. Bahkan ia merasa jijik dengan dirinya sendiri.


Apalagi moment saat bersama Flo selama ini, melintas di benaknya. Arif merasa tubuhnya sangat kotor, terutama bagian intinya. Betapa bodohnya dia tidak menyadari itu semua. Padahal sudah jelas, disaat mereka melakukan hubungan intim, istrinya itu selalu mengeluh kesakitan sehingga disaat mereka melakukan hubungan badan selalu ada masalahnya.


"Kamu tak salah sayang. Jangan kamu rutuki dirimu seperti ini. Ingat... perjalanan hidup ini masih panjang nak! jangan gara-gara Ali, hidupmu jadi hancur. Ibu tak mau itu terjadi. Hanya kamu harta ibu yang paling berharga." Ujar ibunya Arif, memberi pandangan pada anaknya itu, Ekspresi wajah ibunya Arif juga terlihat sedih sekali. Tapi, wanita tua itu tak mau ikut ikutanan down dan menyalahkan sang putra.


Ia harus bisa membuat Arif semangat lagi dan bisa menerima kenyataan hidup dengan bijak. Bisa berdamai dengan diri sendiri.


"Bertaubat Nak, minta ampun sama Allah. Kamu tak salah nak. Kamu hanya korban, jadi kamu tak perlu seterpuruk ini." Ibunya Arif meraih dagu sang anak , ia dingin menumbuhkan rasa percaya diri putra nya itu kembali lagi.


"Iya bu." Arif menurunkan tangan sang ibu dari dagunya, kemudian kembali memeluk erat ibunya itu. Arif sangat butuh pelukan hangat ibunya saat ini. Serta dukungan moril. Karena ia bisa gila, jika mengingat semua yang terjadi. Ia seorang polisi, bisa dikelabuhi seorang Aliya Flo Yoshi. Wanita trans gender.


Bermula dari begitu nyamannya ia rasa berinteraksi dengan Flo, sehingga ia sangat yakin untuk menikah dengan wanita trans gender itu. Jelas ia merasa nyaman, toh yang dinikahinya adalah sahabat karibnya mulai dari kecil.


Sang ibu tetap mendekap putra nya yang lagi tertekan itu. Mengusap lembut punggung Arif, yang masih menangis dalam dekapan ibunya itu, dan mereka masih terduduk di lantai kamar itu.


"Ambil hikmahnya Nak. Kalau sudah ada rasa


gundah gulana di hati atas sesuatu hal, maka sebaiknya masalah itu diselidiki dulu. Jangan gegabah seperti ini, yang akhirnya akan membuat dirimu jadi menyesal seumur hidupmu" Ujar sang ibu lemah lembut, sentuhan tangannya di punggung serta kepalanya Arif terasa penuh dengan cinta, yang membuat Arif merasa tenang.


"Iya bu." Sahut Arif sambil menganggukkan kepalanya lemah.


"Bagus Nak, hanya kamu harapan ibu satu-satunya. Kamu tak boleh hancur gara-gara ulah si Ali. Ingat ibu masih hidup. O..ke...!"


"Iya bu, maafkan jika anakmu ini ada salah pada ibu." Sahut Arif masih terisak dalam dekapan sang ibu.


"Iya nak, kamu tak pernah ada salah sama ibu." Ibunya Arif memperhatikan lekat kembali wajah


sang putra yang terlihat tak percaya diri itu. Mengusap lembut air mata yang membasahi pipinya Arif dengan jemarinya.


"Ibu tak mau lihat kamu sedih, karena ulah Ali. Anggap semuanya tak pernah terjadi, agar hatimu bisa tenang." Sang ibu belum yakin jika Arif bisa berdamai dengan dirinya, atas apa yang menimpa putra nya itu. Makanya wanita tua itu, terus saja menumbuhkan rasa percaya dirinya Ali.


"Bu terima kasih atas pengertian nya. Tapi, jujur bu. Aku malu, aku pasti jadi bahan Bullyan orang-orang. Kasus ini pasti viral bu." Ujar Arif dengan gamangnya.

__ADS_1


Sang ibu nampak berpikir. Kemudian dia menatap sang putra dengan mata yang berbinar. "Kamu kan seorang polisi. Bisa kamu atur masalah ini, agar tidak diliput media." Ujar ibunya Arif.


Huufftt..


Arif mengurai pelukannya dari sang ibu Dia terlihat menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Ia lakukan itu berulang kali hingga ia merasa tenang.


"Iya bu, semoga saja. Tapi, aku ragu bisa menyembunyikan bangkai ini, karena semalam saat di lokasi syuting, Flo sudah di


teriaki oleh orang yang tak dikenal dari kerumunan orang orang yang menonton kami saat syuting. mereka mengatakan Flo adalah wanita transgender, tadinya teriakan teriakan sumbang itu tidak kuambil pusing, karena aku tak menyangka seperti itu. Tapi setelah sampai di rumah dan Flo yang lemah, kembali memegang ponsel yang diberikan Ali, dan ponsel itu bisa dibukanya, aku pun sangat yakin kalau Flo adalah Ali. karena yang bisa membuka ponsel itu hanya aku dan Ali Sebab aku menyimpan sidik jari ahli di ponsel itu."


Ali sudah terlihat mulai tenang, saat membicarakan semuanya.


"Iya nak, syukur semua cepat terungkap. Itu artinya Allah masih sayang padamu. Mulai dari sekarang kamu harus lebih dekat kepada Allah, melaksanakan semua perintahnya dan menjauhi larangannya ya Nak." Arif sudah seperti anak kecil diperlakukan ibunya.


"Iya bu." Dari tatapan matanya Arif, bisa terbaca kalau ia belum bisa menerima kenyataan atas apa yang terjadi.


"Ya sudah, kita sholat magrib dulu." Ibunya Arif bangkit dari duduknya dengan bertumpu pada lutut dan memegang pinggang nya. Ali yang tak tega melihat sang ibu kesusahan untuk berdiri, akhirnya membantu wanita tua itu untuk bangkit. Ibunya Arif keluar dari kamar, sedang kan Arif masuk ke kamar mandi untuk berwudhu.


***


Rasa suka dan nyaman di saat pertama kali bertemu dengan Flo membuat Arif, menerima segala kekurangan Flo yang terlihat tidak wajar itu. Sebegitu besar pengaruh rasa nyaman yang diberikan wanita jadi-jadian itu, sehingga ia jadi seperti orang bodoh bodoh nurut saja pada wanita itu. Disaat dia menaruh kecurigaan atas dirinya Flo, wanita itu pantai sekali merangkai jawaban. Misal, bagian intinya Flo yang terlihat tidak seperti bagian inti wanita normal pada umumnya.


Walau Arif tak pernah melihat milik wanita dewasa sebelumnya. Ia tidaklah sebodoh itu, tidak mengenal bagian inti wanita. Tapi, nyawanya dia kena tipu juga.


Arif yang tak bisa tidur. Memutuskan turun ke bawah. Ia akan meminta bantuan pada ART untuk membuang barang barang miliknya Flo dari kamar nya. Karena ia merasa keberadaan barang barang nya Flo di kamar ini semakin merusak suasana hatinya.


Waktu masih menunjukkan pukul 12.00 malam. Arif sangat berharap art-nya masih mau dibangunkan untuk membantunya membuang semua barang-barangnya Flo dari kamarnya. Dan saat sampai di lantai bawah, tepatnya di ruang berkumpulnya para ART nya yang berjumlah 2, ternyata para ART nya itu, masih pada ngumpul, menggosip di lorong dapur itu. Apalagi yang mereka bicarakan kalau bukan membahas topik Ia dan Flo.


"Tadi aku sempat melihat beritanya nona Flo yang mengatakan Nona Flo adalah seorang waria." Ujar Bin kumala dengan hebohnya.


Arif masih menguping pembicaraan kedua ART nya itu.


"Bukan Waria, tapi transgender. Ibu itu sudah jadi wanita. Pisangnya sudah di potong, di ganti dengan apem."


Hihihi...

__ADS_1


Kedua ART itu tertawa dengan lepas. Mereka


merasa lucu sendiri dengan apa yang mereka bahas. Sedangkan Arif yang masih bingung di balik dinding dapur itu, dibuat semakin sedih. Di dalam rumahnya saja ia sudah jadi bahan gosipan. Apalagi di luar sana, pasti berita tentang Flo dan dirinya sudah jadi trend topik.


Arif akhirnyab meninggalkan tempatnya itu. Ia tak mau mengganggu para art yang sedang menggosip tentang dirinya. Sepertinya lebih baik dia mempacking barang-barang Flo sendiri.


Sesampainya di dalam kamar Arif mengambil koper dari atas lemarinya. Tepatnya koper miliknya Flo. Dengan perasaan kesal, sedih, marah dan kecewa yang berkecamuk di hatinya. Ia tetap Memutuskan me masukkan pakaian, tas tas serta barang barang Flo lainnya ke dalam koper.


Sudah empat koper besar yang penuh, berisi barang barang nya Flo. Dan kini ia akan membuang perhiasan miliknya Flo. Intinya ia tak mau ada peninggalan barangnya Flo di rumah itu. Atau setidaknya ia akan mengembalikan barang nya Flo.


Saat membuka laci lemari yang menyimpan perhiasan serta aksesorisnya Flo, Arif menemukan secarik kertas berwarna putih yang dilipat. Tadinya Arif mengira itu adalah surat, tanda bukti Flo beli perhiasan dari toko. Tapi, ternyata tidak. Itu adalah surat yang ditulis Flo Khusus untuk nya.


Dear soulmate


Aku tahu dan sangat sadar bahwa semuanya akan terungkap seiring berjalannya waktu. Aku telah melakukan semua keputusan yang tepat menurutku, disaat aku menuruti keinginanku yang bergejolak di dalam hati untuk bisa memilikimu. 😥


Baru membaca satu paragrap, Arif mual sudah dibuatnya. Apapun penjelasan dari wanita transgender itu, tak akan berterima di hatinya.


Awal nya aku merasa sangat bangga dan puas, disaat aku bisa memilikimu, bisa merasa kan cinta darimu. Tapi, namanya kehidupan tak selalu bisa kita kendalikan, ada saja semuanya lari dari skenario. Ditambah aku menyimpan rahasia besar padamu, terkait jenis kelamin ku.


Sohib....


Di kelas 1 SMP, aku mulai merasa ada yang aneh pada diriku. Aku merasa memiliki jiwa sebagai wanita. Dan disaat itu, aku mulai tertarik padamu. Mungkin karena kita selalu menghabiskan waktu bersama baik di sekolah ataupun bermain di luar sana. Kita selalu mandi bareng di sungai saling membantu menggosok badan dari daki, serta lumpur yang melekat di tubuh kita di saat kita lelah bermain di sawah.


Gejolak aneh dalam jiwa yang berontak untuk jadi wanita itu, aku pendam sendiri. Karena aku tahu keinginanku itu sangat lah tidak baik, keinginan ku itu sangat bertentangan dengan hukum agama. Tapi, semakin ku tepis rasa dan jiwa kewanitaan yang bersemayam di jiwaku. Maka aku semakin punya keinginan besar untuk mengubah jati diriku.


Kamu tahu sohib, hingga saat ini. Aku masih Ingat rasa dari kecupanmu di pipiku. Saat itu aku berulang tahun, dan kamu memberikan aku kue ulang tahun. Moment itu sangat indah buatku. Itu terjadi saat kita kelas 1 SMP. Apa moment itu masih kamu Ingat?


"Anjir.... Aku benci kamu Ali...." Teriak Arif... Ia merobek robek surat itu. Ia merasa tak perlu membaca nya hingga selesai. Karena isi surat nya sangat lah panjang. Membaca lima paragrap saja sudah membuat nya mual. Apalagi diteruskan lagi hingga habis.


"Jenis manusia seperti kamu yang harus lenyap dari muka bumi ini Ali. Gara gara kamu hidupku hancur. kamu lebih baik mati daripada hidup buat kerusuhan di dunia ini..!" Arif terus saja meluapkan kesedihannya. Sampai kapanpun, ia tak akan bisa menerima kenyataan pahit ini.


TBC


Mohon dukungannya reader tinggalkan jejak like komentar positif dan Vote nya ya🙂

__ADS_1


__ADS_2