
Satu minggu kemudian.
Arif baru saja keluar dari ruangan pimpinannya. Ia telah memberikan surat pengunduran diri jadi POLRI. Keputusan ini telah bulat. Ia tidak akan menyesali keputusan itu. Rencananya ia akan merintis usaha perkebunan sawit di kampung ayahnya. Ya lumayan, ayahnya meninggalkan kebun sawit seluas 50ha. Dan selama ini perkehunan itu dikelolah oleh orang kepercayaan keluarganya.
Rencananya dia akan menjual rumah yang ia tempati bersama Flo atau Ali. Dan uang itu akan dibuatnya jadi modal untuk memperluas kebun sawitnya di kampung.
Sesampainya di rumah. Ia langsung masuk ke kamarnya. Rasanya ia sangat kelelahan, padahal ia tidak lah bekerja keras hari ini. Hanya pergi ke kantor polisi, memberikan surat pengunduran diri.
"Bu, apa itu?" tanya Arif, saat melihat sang ibu memegang sesuatu yang menurutnya aneh. Seperti sebuah buntalan.
Ibunya Arif menatap sendu putranya yang terlihat bingung itu. "Sepertinya selama ini kamu kena guna-gunai Sayang. Mungkin Ali yang melakukannya " Ujar Ibunya Ali lirih. Pantes putranya itu nurut aja dengan Ali, dan tak menaruh rasa curiga sekalipun. Karena mata hati Arif dan pandangannya telah ditutup oleh guna guna dari Ali.
"Astagfirullah.... Ya Allah... Jauhkan kami dari niat buruk manusia yang egois." Ucap Arif dengan berat. Rasanya ia semakin membenci Ali. Padahal buatnya pria itu sangatlah berharga sebelumnya. Saking sayangnya pada pria itu, ia lebih memprioritaskan untuk laporan palsu kematian Ali. Daripada mengurus istrinya yang pura pura punya penyakit kista. Padahal Ali dan istrinya adalah orang yang sama.
Arif yang tertekan itu memutuskan duduk di sofa yang ada di sudut ruangan kamar nya. Tangannya memijat-mijat pelipisnya yang terasa sakit. Begitu juga dengan kepalanya yang terasa mau pecah. Walau sudah ditegar-degarkan dan hati sudah dikuat-kuatkan. Tapi, setiap mengingat dan membahas mengenai Ali, hatinya akan panas, ia masih emosional. Arif belum bisa menahan diri. Rasanya perlakuan Ali padanya sangatlah menyakitkan. Hanya karena Ambisi pria itu, hidupnya Arif jadi hancur. Jujur Ia trauma untuk menikah lagi.
"Besok pagi kita akan pulang kampung bu. Dan kita langsung ke kampung ayah saja." Ujar Arif lirih.
"Terserah kamu saja nak." Sahut sang ibu lemah.
Setelah ayahnya Arif meninggal saat ia berusia 4 tahun. Ibunya Arif lebih memilih tinggal di kampung halamannya, daripada di kampung ayahnya. Apalagi, ibunya Arif yang berprofesi sebagai guru itu, di tempatkan kerja di kampungnya. Tadinya ada niat pindah tugas ke kampung halaman sang suami. Tapi, niat itu urung dilaksanakan setelah ayahnya meninggal.
"Iya bu." Sahut Arif lemah.
Ibunya Arif keluar dari kamar itu dengan membawa benda yang dibuat Ali untuk mengguna gunai Arif. Sedangkan Arif memilih membaringkan tubuh nya di atas ranjang.
***
Satu minggu kemudian
Arif dan sang Ibu sudah memulai kehidupannya di kampung. Seminggu ini Arif masih menyesuaikan diri tinggal du kampung. Ia juga langsung disibukkan dengan kerjaan membuka lahan baru untuk memperluas kebun sawitnya. Bahkan ia ikut turun ke lapangan. Ikut bekerja membuka lahan baru. Dan ibunya selalu ikut ke kebun. Bahkan kini mereka sudah punya tempat tinggal di kebun sawitnya.
__ADS_1
"Eemmm.. Rasanya lebih nikmat tinggal di kampung ayah ya bu." Ujar Arif menatap lekat sang ibu. Mereka sedang menikmati makan siangnya di atas Pondok bertingkat. Makan bersama dengan para pekerja.
"Iya nak." Sahut sang ibu. Kembali memasukkan nasi ke mulutnya mana mereka pagi ini adalah ikan mas panggang dengan sambal mata serta sayur bening.
"Kalau ibu suka tinggal di kampung ini, kenapa kita gak dari dulu saja tinggal di sini bu. Kenapa tinggal di kampung nya ibu?" tanya Arif lagi.
Ia terkadang sangat menyesal pernah kenal dengan Ali. Seandainya ia tidak satu kampung dengan Ali, tidak tetanggaan dengan Ali. Mungkin hidupnya tak se mengerikan ini. Mungkin hidupnya tak sehancur ini. Sungguh Arif sangat traumah. Ia yang ingin memiliki jiwa yang baru lagi, di setiap malam selalu berdoa kepada Allah dengan berlinang air mata, agar rasa jijik pada diri sendiri itu hilang dari pikirannya. Dia sangat membenci kebodohannya yang sempat berhubungan badan dengan Ali, wanita jadi-jadian itu.
"Kan ibu tugasnya di kampung ibu nak. Belum boleh pindah kalau belum mencapai waktu tertentu. Disaat sudah bisa pindah tugas, ayahmu malah menghadap yang kuasa." Ujar sang ibu sedih. Ia jadi teringat Almarhum suaminya.
"Iya bu. Maaf... Sudah membuat ibu jadi sedih." Arif mencuci tangannya. Meraih tisu yang ada di hadapannya. Tangannya menjulur mengusap air mata sang ibu.
"Iya nak. Sore nanti kita ziarah ke makam ayahmu ya nak!" pinta sang ibu penuh harap. Padahal seminggu lalu saat mereka sampai d kampung, mereka sudah ziarah.
"Iya bu." Sahut Arif tersenyum tipis pada sang ibu. Arif yang sudah selesai makan, meraih ponsel yang ia letakkan di atas lantai pondok di sebelah kirinya.
Ia akan berselancar sejenak d dunia maya. Sekaligus, ingin melihat ada pesan dari pengacaranya. Karena esok kasus penipuan yang dilakukan Ali akan masuk ke persidangan.
"Eemmm.. Kalau sudah buka hape pasti lupa dengan dunia nyata kamu nak." ujar ibunya Alif tertawa kecil merasa senang melihat anaknya yang ternyata sudah kembali bisa ceria.
"Iya bu, lihat deh bu. Ini ada postingan lucu." Ujarnya menyodorkan hapenya ke hadapan sang ibu.
Hahhahaha..
Kini ibunya Arif yang jadi tertawa terpingkal pingkal karena melihat poatingan lucu Itu. Yang mereka tonton adalah sebuah video dimana sepasang kekasih tengah kencan. Tiba tiba saja sang pria membelai lembut pipi sang kekasih sebelah kiri, dan saat itu juga. Di telapak tangan sang pria menempel bedak si wanita. Si pria dibuat bingung. Ia kembali mengusap pipi kanan si wanita. Dan lagi lagi di telapak tangannya terdapat bedak si wanita. Dan saat itu juga si wanita berfose sok cantik dan berkaca kaca. Si pria geram, ia usah seluruh wajah kekasih nya. Dan tiba tiba saja kekasihnya yang tadi cantik, berubah jadi pria.
"Hhahahhaa... Ini sih kebalikan si Ali Nak. Kalau si Ali dari pria jadi wanita. Kalau ini dari wanita jadi pria." Ujar sang ibu tanpa sadar, sambil tertawa.
Si ibu tak tahu, kalau putranya sudah manyun karena tersinggung. "Terus saja bu. Kata katain aku." Ujar Arif cemberut.
Sang ibu melirik Arif dengan tersenyum mengejek. "Gitu saja marah." Sang ibu mentoel pipi sang anak. Kemudian wanita tua itu, kembali menscrol ponselnya.
__ADS_1
"I,ni kan Alana? kamu berteman dengan Alana?''
Arif meraih ponselnya dari tangan sang ibu. Sudah lama ia tak dengar kabar wanita itu. Arif memang tak berteman di FB dengan Alana.
"Iya bu." Sahut Arif dengan penasarannya. Ia terus membaca berita yang diposting, di group SMA nya itu. Ibunya Alana meninggal bu." Ujar Arif sedih.
"Innalillahiwainnailaihirojiun....!" Ujar ibunya Arif dengan sedih. Walau Ibunya Alana adalah saingannya. Ia tetap merasa turut berduka cita atas kematian ibunya Alana itu.
Jadi ceritanya ayahnya Arif satu kampung dengan ibunya Alana. Dulu ayahnya Arif pernah menjalin hubungan dengan ibunya Alana. Tapi hubungan mereka tidak direstui oleh keluarganya Arif. Jadi, ayahnya Arif pun dijodohkan dengan ibunya sekarang. Dan hebohnya lagi, setelah ibunya Alana menikah dengan orang sekampungnya juga. Mereka bekerja di kampung Ibunya Arif. Dan Setelah Alana tamat SMA. Mereka pindah ke Kota Tebing.
"Dek Nur, siapa sekarang yang tinggal di rumah pak sopyan?" tanya Ibunya Arif pada salah satu pekerjanya. Sopyan adalah nama ayahnya Alana.
"Setahuku gak ada bu. Tapi, dengar dengar mereka akan pulang kampung, setelah putrinya menikah." Sahut wanita yang bernama Nur.
"Alana maksud dek Nur?" tanya Ibunya Arif memastikan dengan penasarannya. Sedangkan Arif saat ini terlihat serius menyimak percakapan Ibunya dengan salah satu wanita yang bekerja di kebun sawitnya itu.
"Iya bu." Sahut Bu Nur sopan.
"Oouuww... Si Alana sudah nikah. Koq kita gak diundang Ya nak?" tanya sang ibu pada putranya. "Padahal kan kita jumpa Alana dua minggu lalu." Jelas Ibunya lagi pada Arif.
"Iya bu." Sahut Arif datar.
"Padahal dulu ibu ingin sekali kamu nikah dengan Alana. Eehhh.. Tiba tiba saja kamu nelpon, kalau sudah menikah dengan Flo." Ujar ibunya Arif sedih. "Ibunya Alana kan gak bisa bersatu dengan ayahmu. Ya setidaknya anak anaknya lah yang bersatu." Ujar ibunya Arif dengan mata menerawang.
"Bu... Jangan bahas masalalu lagi. Dan jangan bahas bahas pernikahan ya bu." Ujar Arif murung.
Sungguh, ia masih traumah. Membanyangkan untuk menikah saja dia gak sanggup. Rasanya ia kesal dan mau muntah.
"Iya nak, maaf ya?" Ujar ibunya Arif dengan penuh rasa bersalah.
"Iya bu " Arif turun dari pondok, ia akan kembali untuk bekerja, menanam sawit yang lahannya sudah dilubangi. Ia harus bekerja keras. Karena ia punya cita cita mendirikan sebuah yayasan pesantren.
__ADS_1
TBC