
"Iya." Jawab Arif. Kini kedua matanya membelalak sempurna disaat ia sudah melihat cahaya dari perkampungan. Itu artinya mereka sudah dekat dengan pemukiman.
"Itu kampung kita?" tanya Arif antusias.
"Iya pak Arif."
Mereka sudah sampai dijalan aspal. Arif langsung mencari tempat untuk berteduh. Ada warung kopi yang sudah tutup. Tapi warungnya bisa dimasuki dan ditempati. Saat ini hujan masih terus mengguyur kampung itu. Arif yang kelelahan karena menggendong Alana, mendudukkan wanita itu di kursi kayu.
Walau Alana tidaklah berat. Tapi menggendong dalam waktu lama tentulah membuat capek dan badan pegal semua. Mana Arif sudah menggendong Alana sejauh 2 Kilo meter, dalam keadaan basah basah diguyur hujan lebat melewati jalanan yang berlumpur. Entah sudah berapa kali Arif ter peleset dan yang harus menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Pak, rumah bapak kan diujung sana?" tanya si
pria berkulit hitam berbadan tegap pada Arif.
"Iya, tapi kami mau ke rumah mertuaku." Sahut Arif.
Arif sengaja beristirahat di pondok ini. Ia ingin menenangkan jiwa dan pikirannya dan mengistirahatkan badannya yang sakit dan pegal-pegal akibat menggendong Alana, karena sudah dipastikan di saat dia mengantarkan Alana rumah nya. Ia dan Alana pasti dicecar dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang membuat pikiran mumet nantinya. Sebelum pikirannya tambah runyam di rumahnya Alana, lebih baik ia menenangkan jiwa dan pikirannya di tempat ini terlebih dahulu.
Alana yang masih dibalut mantel. Hanya pasrah
dengan keadaan dan apapun yang akan dilakukan Arif padanya, karena ia tak punya tenaga lagi untuk bertindak. Lagi pula ada gunanya mereka beristirahat di tempat ini, Karena sudah jelas di rumah mereka saat ini sedang ada pengajian tahlilan pertama kematian ibunya.
" Memangnya di mana rumah mertua Bapak?" tanya salah seorang pria itu kepada Arif. Mereka memang tidak mengenal Alana karena Alana sudah lama tidak pulang ke kampung ayahnya ini.
"Itu, yang sedang ada pengajian." Jawab Arif.
"Mertua bapak, Pak Samsul?" tanya si pria berkulit putih postur tubuh pendek itu.
Arif menganggukkan kepalanya.
""Oouuww... Berarti abang dan kakak ini pengantin baru kan? karena tiga minggu lalu, pak samsul
pulang ke kampung melakukan acara minta doa di sini dan mengabari kami, bahwa putrinya dua minggu lagi akan menikah di kota.
__ADS_1
Arif hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan pria itu, kemudian ia memperhatikan Alana yang terlihat nampak sedih itu, Alana menunduk dengan mata yang berkaca kaca. Sejenak Arif berpikir Apakah Alana gagal menikah?
Sepertinya begitu? karena dua minggu lalu kan Arif yang menolong Alana di tengah hutan, saat bertengkar dengan pacarnya.
"Baiklah sobat, Terima kasih atas bantuan Kalian. kalau kalian perlu sesuatu boleh datang ke rumah saya. kalau saya bisa membantu saya akan membantu kalian." Ujar Arif tersenyum ramah pada ketiga pria yang juga basah kuyup itu.
Arif sangat bersyukur tiga pria ini datang ke pondok itu. Walau di awal terjadi kesalahpahaman tapi setidaknya ia bisa keluar dari Pondok itu melalui jalan rahasia yang ia tidak tahu sebelumnya.
Arif masih menggendong Alana menuju rumah wanita itu. "Apa kamu ketakutan?" tanya Arif memutar lehernya untuk melirik Alana.
Alana hanya mengangguk menanggapi ucapan Arif.
"Gak usah takut, nanti aku yang akan jelaskan semuanya." Sahut Arif lembut.
"Terimakasih ya bang Arif." Ujar Alana sendu.
"Iya.."
Kini mereka sudah berada dekat dengan rumah orang tuanya.
"Iya, tapi aku nggak tahu dari mana jalannya ke belakang rumahmu."
"Lewat sini bang." Alana menunjuk ke arah lorong di seebelah rumah tetangganya setelah melewati merek rumah tetangganya. Dan kini meraka sudah sampai ke bagian belakang rumah orang tuanya.
Melihat ada orang yang masuk dari dapur keluarga besar Alana yang ada di tempat itu dikejutkan dengan penampakan Alana yang tubuhnya ditutupi oleh mantel masih dalam gedongan Arif.
Terlihat tiga orang wanita paruh baya menghampiri mereka dengan paniknya. "Nak, Alana.. Kamu kenapa? Kamu dari mana?' ujar Seorang wanita paruh baya dengan paniknya. Membantu Alana dan Arif melepas mantel yang membungkus wanita itu.
Alana terdiam, ia tak tahu harus mengatakan apa dan menjelaskan dari mana dia. Dan Di saat mantel sudah terlepas dari tubuhnya, orang-orang di tempat itu pun dibuat tercengang dan heran melihat pakaian dikenakan Alana. Karena saat ini Alana memakai kemeja berwarna soft blue motif garis kecil yang terlihat sangat Kedodoran di tubuh gadis mungil itu, dipadu dengan celana jeans warna navy yang juga begitu besar terlihat melekat di tubuhnya.
"Aku menemukan Alana terjatuh di jalan Bu. Alana mengalami kecelakaan." Ujar Arif sopan.
"Astaga... Sayang..." Bbinya Alana dengan cepat memeriksa tubuh Alana dengan paniknya.
__ADS_1
Alana yang sudah duduk menujukkan kakinya yang sakit.
"Kamu ke mana tadi? semua orang cariin kamu?" tanya bibinya Alana. Adik kandung ayahnya Alana.
Alana terdiam tapi matanya tak bisa berbohong kalau wanita itu sangat sedih dan terpukul saat ini. Karena air mata nya terus saja mengalir deras dari mata sebabnya.
"Sudahlah Kak, nggak usah di introgasi lagi ke mana Alana pergi. Yang penting dia sudah balik dan ini kakinya harus kita pijat." Ujar bibinya Alana yang lain.
"Iya Nur." Sahut bibinya Alana yang paling tua.
"Nak Julman.. Kamu panggil dulu tukang pijat, dan dokter.!" ujar bibinya Alana yang bernama Nur kepada putranya yang kebetulan ada di dapur itu.
"Iya bu." Sahut anak muda yang bernama Julman.
Arif terlihat mau pamit, dan tiba tiba saja. Ibunya Arif memanggil anaknya itu.
"Arif...!" Ujar Ibunya Arif dengan sedikit keras. Agar anaknya yang sudah membalik badan dan bersiap siap untuk pulang, menoleh ke arahnya. Ibunya Arif yang kebetulan ada di bagian tengah rumah, bergegas ke dapur. Karena seseorang berbisik kepadanya, kalau Arif anaknya yang sejak sore tidak nampak batang hidungnya berada di dapur rumah yang lagi berduka ini.
"Bu..!" Sahut Arif terkejut, ia tak menyangka ibunya ada di rumah duka.
"Ada apa ini nak? seharian kamu di mana? kamu kenapa basah begini nak?" Arif dicecar pertanyaan beruntun dari sang ibu. Tangan ibunya itu menepis nepiskan air yang membasahi baju putranya.
"Bu, panjang ceritanya. Nanti kita bicara di rumah saja." Ujar Arif tersenyum tipis. Menghentikan aksi sang ibu, memukul mukul bajunya yang basah. "Aku pulang duluan ya bu."
Orang orang di tempat itu jadi membicarakan Alana dan Arif dengan berbisik bisik.
"Tunggu, kamu bawa saja payung ini...." Ujar
bibinya Alana kepada Arif yang hendak keluar dari pintu dapur itu.
Arif menolak dengan kode tangannya. "Gak usah Bi, aku sudah basah. Rumah dekat kok." ujarnya sopan.
Arif meninggalkan rumah itu. Sedangkan Alana dibawah masuk ke kamar belakang dekat dapur itu.
__ADS_1
Arif berlari dibawah guyuran hujan deras menuju rumahnya. Ia merasa sudah kembali jadi seperti anak kecil, mandi hujan.
TBC