
Setelah mendengar cerita Hana, aku semakin dibuat penasaran dengan menghilangnya Ali yang secara mendadak. Sore hari nya, aku kembali ke kantor polisi. Kami akan memeriksa hasil rekaman CCTV.
"Pak Arif, pemilik motor ini wajib kita curigai. Coba bapak perhatikan, dari hasil rekaman CCTV, bisa kita hitung bahwa motor berplat BB34MD ini, sudah hilir mudik sebanyak 55 kali di depan rumah Pak Ali. Terhitung mulai sejak istrinya pak Ali, Ibu Hana pergi dari rumah hingga Bu Hana pulang kembali ke rumah." Ujar Pak Kapolres dengan seriusnya menatapku.
"Iya pak, Pemilik motor ini harus kita lacak, tadi aku lihat di layar, bahwa pemilik motor itu adalah orang cacat." Ujarku tegas, dan kini tatapanku kembali fokus ke layar monitor.
Saat itu juga aku merasakan ponsel dalam saku celanaku bergetar, hal itu membuatku sedikit terkejut. Karena aku sekarang sedang tegang. kepikiran dengan kasus hilangnya Ali. Dengan gerakan cepat ku rogoh ponsel dari saku celanaku.
Aku senang, ternyata Flo yang menelpon. Sepertinya ia sudah sampai di tempat tujuan, dan ada waktu untuk menelponku. Aku yang sangat sibuk ini, lupa sudah menelponnya. Apa sudah sampai atau belum.
"Kenapa nggak menelponku? Kenapa nggak menanyakan keadaanku. Aku sudah sampai atau belum? Ini sudah malam aku itu nyampenya tadi sore."
Flo seperti nya sangat marah padaku. Aku tahu dia pasti kecewa karena aku tidak menghubunginya dan menanyakan kabarnya. Sebenarnya aku kepikiran padanya seharian ini, tapi aku juga sedang sibuk memikirkan kasus hilangnya Ali. Lagi pula dia sedang di perjalanan, makanya aku urungkan niat untuk menghubunginya. Eeeh nggak tahunya sekarang aku malah kena semprot olehnya.
Aku menjauh dari tempat itu, mencari pojokan agar bisa bicara lebih leluasa dan tenang dengannya.
Huufft..
Ku tarik napas, agar bisa lebih rileks menghadapi Flo yang sedang merajuk itu.
"Sayang... kamu jangan marah. Hubby hari ini sangat sibuk sekali. Asal kamu tahu, tadi Hubby ada pernah nelpon nomormu. Tapi hp-mu nggak aktif sayang. Setelah itu Hubby kembali sibuk dan pening juga."
"Engggak mau tahu, Hubby harus menyusul ku ke sini."
Dengan suara menahan isak tangis, Flo memarahiku. Belum juga ku selesai bicara, ia sudah memotong ucapanku.
__ADS_1
"Besok, besok aku mau dioperasi. Hua.... Hua... Hua....!" tangisannya pecah disambungan telepon. Amu dibuat jadi tidak tega mendengar Isak tangisnya itu. Tangisannya terdengar memilukan dan membuat hatiku terasa disayat. Aku tahu, Flo sangat membutuhkanku. Tapi, aku harus mengusut tuntas cepat kasus hilangnya Ali.
Aku merasa sedih dan bingung Haruskah aku menyusul flo ke luar negeri. Tapi, bagaimana dengan kasusnya Ali. Aku ingin menyelidiki Di mana keberadaan sahabatku itu? Apakah dia masih hidup atau sudah mati
"Di, dioperasi? kok bisa gitu sayang. Emang kamu sakit apa?" tanyaku panik dan tak kalah was-wasnya, mendengar kabar itu. Rasanya kabut hitam telah menghadang di depan mata. Yang membuat aku syok mendengar ucapan Flo.
"Aku kena serangan penyakit kanker rahim. Hiks hiks hiks....!"
Aku yang kasihan mendengar isak tangisnya. Mengubah panggilan suara ke video.
"Sudah, jangan menangis ya sayang. Besok, besok Hubby akan susul kamu." Ujarku sedih, mengusap layar ponselku. Karena aku tak tega melihat air matanya yang menganak sungai di pipi pucatnya.
Ia mengangguk dengan sedihnya, ekspresi wajahnya terlihat begitu merana. Ku tak menyangka bahwa Flo mengalami penyakit yang mengerikan dan Kenapa setelah kami menikah baru ia tahu. Apakah ia selama ini berbohong padaku? menyembunyikan penyakitnya itu.
Mendengar kabar itu, tentu aku jadi sangat mengkhawatirkan istriku, ternyata ia punya penyakit yang serius di alat kelaminnya. Pantas di saat kamu melakukan hubungan badan. dia selalu merasakan sakit.
"Pak, Pak Arif, Kami sudah dapat info tentang pria cacat yang naik motor itu."
Saat sedang serius menelepon dengan Flo, aku dikagetkan dengan suara pak Inspektur yang bicara dari jarak jauh denganku. Sepertinya ia enggan menggangguku. Tetapi ia terlihat sangat ingin memberikan informasi secepatnya padaku.
ku menganggukkan kepalaku dan mengacungkan jempol pada pak Inspektur, sebagai tanda aku akan segera bergabung dengan mereka. Kemudian aku kembali fokus menatap layar ponselku, melihat Istriku yang nampak Nelangsa di atas ranjang dengan mata sebabnya. Seluruh tubuhnya telah tertutup selimut dan dari keadaan tempat dia sekarang, sepertinya Flo menginap di hotel bintang 5.
"Sudah dulu ya sayang, nanti kalau urusannya sudah selesai. Hubby telepon kamu Lagi." ujarku lembut dan menatap sendu Flo yang terlihat semakin banyak meneteskan air mata nya.
Iya mengangguk dan memberikan kecupan padaku kemudian panggilan itu pun terputus. Mendapat kecupan online dari nya, membuat semangatku kembali berkobar. Rasa telah, karena tegang menguap sudah.
__ADS_1
Ku simpan kembali ponsel ke saku celanaku, dengan cepat menuju ruangan Pak Inspektur. Ternyata di sana mereka terlihat sedang serius membahas kasus hilangnya Ali. Dan memberikan padaku gambar pria pincang, yang lalu lalang di depan rumahnya Hana.
Aku dengan tidak sabarannya, langsung menghubungi Hana. Meminta waktu padanya. Apakah malam ini kami bisa bertemu? Ternyata Hana menyetujuinya dia mengatakan bahwa saat ini ia sedang berada di rumah orang tuanya Ali. yaitu ibu mertuanya. Aku pun bergegas ke rumah orang tuanya Ali.
se sampainya di rumah orang tuanya Ali aku langsung menunjukkan foto yang kami curigai kepada Hana, yang kami dapat dari rekaman CCTV.
"Apa kamu mengenal orang ini?" kutunjuk ponselku yang dipegang oleh Hana. Ia masih menatap lekat foto pria pincang itu. Dan Hana terlihat sangat bingung saat memperhatikan foto dalam ponsel itu. Saat terlihat bingung, Ia menatap ibunya Ali dan diriku secara bergantian.
"Aku tak mengenal pria ini." Jawabnya lemah, tangannya terlihat gemetar saat memegang ponselku dan mengembalikannya padaku.
Apa Hana sedang ketakutan? apa hilangnya Ali, ada sangkut pautnya dengan Hana? Aku jadi semakin curiga pada Hana.
Ku julurkan tangan meraih ponsel itu, dengan terus menatap ke marah Hana yang terlihat sangat tegang.
"Apa kalian memiliki musuh?" tanyaku pada Hana.
Hana menggeleng lemah. "Aku tak memiliki musuh, dan Ali juga setahuku tak memiliki musuh." Ujar Hana masih dengan ekspresi wajah tegang nya.
Ibu yang duduk di sofa yang sama dengannya. Meraih tangannya Hana dan menggenggamnya erat. Ibu nya Ali sepertinya ingin memberikan kekuatan pada Hana.
"Eemmm.. Maaf ini sedikit menyimpang dari masalahnya Ali. Tapi, aku ingin tahu. Apakah kamu punya hubungan yang tak selesai dengan pria lain?" tanyaku pada Hana.
Hana semakin dibuat bingung dan terlihat sangat was-was. Ia seperti menyembunyikan sesuatu.
"Ya, ya, du, dulu aku punya teman pri, pria di kampus." Ujar Hana tergagap.
__ADS_1