
"Iya, bapak yakin kalian tak melakukan apapun di tempat itu. Tapi, foto itu mengatakan lain nak!" Jelas Pak Samsul tegas menatap Arif yang terlihat santai.
"Jadi, apa maunya bapak?" tanya Arif, kini ia menampilkan ekspresi wajah seriusnya.
"Nikahilah Alana..!"
"Apa..?" Tubuhnya Arif sampai terangkat dari tempat duduknya saking terkejutnya dengan permintaan Ayahnya Alana.
Sama sekali belum terbersit keinginan dibenaknya Arif untuk menikah. Karena dia masih traumah dengan pernikahannya bersama Flo, alias Ali Muhammad.
Ayahnya Arif nampak sedih melihat ekspresi terkejutnya Arif yang menunjukkan penolakan Itu.
"Kalau kamu gak mau menikah dengan Alana, maka selamanya dia tidak akan menikah. Mana ada pria yang mau menikahi putriku itu lagi, sedang kan fotonya bersamamu sudah tersebar di kampung ini. Alana putriku baru saja gagal menikah." Ujar Pak Samsul sedih. Ia terlihat sangat berharap pada Arif.
"Pak.. Itu foto bener memang antara aku dan Alana. Tapi, aku dan Alana tidak melakukan hal yang keji. Kejadiannya di foto itu adalah. Aku sedang mengambil Pacet yang ada di bagian... Aduh...!" Arif tak melanjutkan penjelasannya. Mana mungkin dia mengatakan pada Pak Samsul, kalau saat itu, ia sedang berusaha menyingkirkan pacet dari organ in-timnya Alana.
"Bagian, bagian apa nak?" tanya Pak Samsul, sangat penasaran dengan kelanjutan ceritanya Arif.
"Bapak tanyakan dulu pada Alana kronologi ceritanya." Usul Arif dengan bingungnya. Gara-gara pacet. Ia jadi terjebak begini.
"Aku sudah tanyakan Alana dan bahkan ia sudah lihat foto itu. Ia tak menjelaskan apapun, dia hanya menangis setelah melihat foto itu." Ujar Pak Samsul sedih.
Arif melirik sang ibu yang terlihat senang.
"Pak Samsul jangan khawatir. Arif akan menikah dengan Alana."
"Bu... " Protes Arif, menatap tajam sang ibu.
Arif belum mau menikah. Hatinya masih sakit dan rapuh. Ia takut nantinya Alana tak bisa ia bahagiakan karena jujur sedikitpun tak ada terbersit di hati Arif untuk menikah lagi. Apalagi dengan Alana. Alana itu sudah ia kenal sejak kecil.
Ia merasa tak akan bisa membahagiakan Alana. Apalagi dengan masa lalunya bersama Ali. Ia masih traumah, karena sempat menikahi wanita transgender yaitu Flo. Alasan itu juga yang memperkuat dirinya, sungguh tak merasa pantas untuk jadi suami merasa
Sang ibu menatap tajam Arif. Kemudian ibunya itu menoleh ke arah Pak Samsul, ayahnya Alana.
"Besok kami akan datang ke rumah bapak melamar putri bapak, Alana.Secara resmi." Ujar sang Ibu tegas tersenyum tipis pada ayahnya Alana.
Seketika ekspresi wajah Ayahnya Alana berubah. Dari murung jadi berbinar binar. Karena mendengar ucapan ibunya Arif itu. "Baik Bu, Kami tunggu kedatangan ibu dan Nak Arif. Kalau begitu saya permisi dulu."
Pak Samsul bangkit dari duduknya Begitu juga dengan Arif, serta sang ibu dengan wajah yang berbinar-binar itu. Pak Samsul menjulurkan tangannya ke arah Arif menjabat tangan Arif yang sedang terlihat tak senang itu.
***
Setelah Pak Samsul meninggalkan rumahnya Arif. Sang Ibu langsung memeluk Arif dengan erat.
"Ya Allah.. Terima kasih, akhirnya anakku bisa menikah dengan Alana." Ujar Sang ibu dengan ceriahnya. Senyum sang ibu melebar dan merekah sebesar bunga teratai.
Arif yang tak suka dengan keputusan ini, hanya
menatap malas sang ibu yang terus saja menetapnya dengan mata yang ber binar binar.
"Kamu tahu Nak, ayahmu pernah berpesan pada ibu dulu. Agar kamu berjodoh dengan putri mantannya. Yaitu Alana. Ya, kqta ayahmu. Gak apa apa ia dan ibunya Alana tak berjodoh, semoga kelak anak anaknya yang berjodoh."
__ADS_1
"Ibu bicara apa sih aku belum menikah bu!" Arif melepaskan tangan Ibunya yang membelit di pinggangnya.
"Arif... Kamu gak boleh gitu nak. kamu nggak boleh menolaknya ini sudah ketentuannya dan ibu sangat merestui kalau kamu menikah dengan Alana." Ujar sang Ibu menatap tajam Arif yang terlihat bete dan kesal itu.
Arif menyeret kakinya menuju motornya Yang terparkir di halaman rumahnya. Ia malas membahas Alana. Lebih baik dia pergi ke ladang.
"Arif....!" sang Ibu memegang tangan Arif yang hendak menghidupkan kontak motornya menatap tajam Arif agar patuh padanya.
"Kita harus minta bantuan pada keluarga ayahmu serta keluarga ibu untuk meminang Alana besok pagi." Ujar sang ibu tersenyum lebar. Sang ibu terlihat bahagia sekali pagi ini.
" Bu aku belum mau menikah apalagi menikah dengan Alana. Dia itu wanita baik bu. Sedangkan aku ini nggak Jelas bu. Apakah aku ini seorang duda atau perjaka... Aduh.... bu.. aku tak mau memikirkan pernikahan. Aku ingin fokus bekerja. Kerja, dan bekerja cari uang yang banyak. Supaya kita bisa pergi umroh setiap tahun umro. kita bisa pergi jalan-jalan juga setiap tahun. Kalau sudah banyak uang. Aku biisa mendirikan sekolah bu. Aku ingin fokus ke situ Bu. Aku belum mau memikirkan tentang cinta rumah tanya atau hubungan dalam suatu pernikahan. Hatiku masih sakit bu. Aku belum mau dibuat pusing oleh tingkah wanita." Jelas Arif panjang lebar, mukanya yang putih memerah sudah, karena kesal pada sang ibu, yang memaksanya untuk menikah.
Ibunya Arif cemberut. Wajah yang bersinar sinar itu mendadak masam.
"Iya, gak usah kau menikah lagi. Ini pertama kalinya ibunya minta sesuatu hal yang baik padamu dan kamu menolaknya. kemarin kau menikah diam-diam dengan wanita jadi-jadian itu, ibu diam saja. Tak marah dan di saat ibu memberikan wanita asli padamu. Kamu malah menolaknya."
Sang ibu bicara dengan begitu emosinya. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca menatap Arif yang kini merasa bersalah pada sang Ibu ia sebenarnya, tak sanggup melihat kalau ibunya itu menangis.
Arif pun tak mau berdebat lagi Apapun alasan yang ia ucapkan sepertinya ibunya itu tak mau menerimanya padahal Iya Bukannya Tak mau menikah lagi. Tapi, dalam waktu dekat ini belum ada niatnya untuk menikah.
"Terserah pada ibu." Arif pun turun dari atas motornya. Ia jadi tak semangat lagi pergi ke kebun.
Sang Ibu mengekor di belakangnya Arif yang memilih masuk ke kamarnya itu. "Iyaa bu iya ibu.... Ibu uruslah dulu, yang harus diurus. Untuk saat ini, biarkan aku berpikir dua jam. Aku ingin menangkan diri bu." ujar Arif setelah membalik badan menghadap sang ibu. Ia bahkan mengatupkan kedua tangannya. Memohon pada sang ibu, agar meninggalkannya sendirian di kamar itu.
"Iya sayang.. Ibu tinggal sebentar. Nanti siang, Temani ibu ke rumah pamanmu yang di kota ya.
Yang dekat-dekat disini, biar Ibu datangi sendiri."
ujar sang Ibu Dengan semangatnya wajah ibunya terlihat begitu bahagia.
"Ohh.. gitu Ya nak. Aduh....Ibu sangat semangat saking semangat ibu mau bawa rombongan untuk melamar Alana.
" Eemmmm... !" Sahut Arif, ia tak mau ribut dengan sang ibu. Suka suka Ibunya lah mau bawa orang berapa banyak untuk melamar Alana.
Sang ibu keluar dari kamar, menutup kamarnya dengan pelan. Sedangkan Arif memilih menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Entah kenapa ia merasa sangat lelah sekali. Tak hanya tubuhnya yang lelah. Tapi jiwa dan pikirannya juga sangat lelah. Belum sembuh rasa sakit di hatinya karena tertipu menikah dengan Flo wanita transgender yang ternyata adalah sahabatnya saat masih kecil. Dan sekarang ia dipaksa menikah dengan sahabat kecilnya juga.
Arif yang sedang terbaring pasrah di atas ranjangnya. Menempelkan tangan kirinya di kening. Sedangkan tangan kanannya, berada di atas perutnya.
Ia sedang memikirkan Alana. Koq bisa bisa nya ia akan menikahi sahabat sewaktu kecilnya itu. Rasanya sangat geli untuk menjadikan Alana sebagai istri. Karena memang sedikitpun ia tak pernah kepikiran untuk menjadikan wanita Itu istrinya.
Huufftt..
"Ya Allah... Semoga ini nantinya jadi pernikahan yang SAMAWA. Semoga aku bisa membahagiakan Alana. Karena jujur, moment pahit saat menikah dengan Flo, masih membekas di hatiku." Arif bermonolog dengan sedih. Ia sangat menyayangkan dirinya yang tertipu karena menikahi Flo, wanita jadi jadian.
Arif semakin merasa geli, dan jijik. Disaat mengingat moment ia yang melakukan malam pertama dengan Flo, alias Ali Muhammad.
"Iihhh...!" Arif yang kesal, melempar bantalnya ke sembarang tempat di kamarnya itu. Sungguh ia tak bisa mengendalikan dirinya di saat momen kebersamaannya bersama Flo melintas di pikirannya.
"Bodoh...!" teriaknya lagi, sambil mengacak acak seprei tempat tidurnya.
Ceklek..
__ADS_1
Pintu pun dibuka sang ibu dengan muka herannya.
"Ada apa ini Arif? kamu marah, kamu gak seneng?" tanya sang ibu dengan muka masamnya.
Huufft
Arif bangkit dari ranjangnya. Lebih baik ia keluar rumah. Semua pasti salah di mata Ibunya.
"Apasih bu? siapa juga yang marah?' ujarnya sambil merapikan pakaiannnya.
"Ya kamu, kenapa kamu pecahkan kaca hias itu?" Ibu nya Arif menunjuk ke arah kaca.
Arif dibuat heran kok bisa pula cermin riasnya bisa pecah.
"Astaga... kok bisa pecah gitu ya Ibu?" tanya Arif bingung.
"Kamu nanya ...?"kamu ber tanya-tanya..?'" ujar ibunya Arif menampilkan muka masam.
Arif tertawa lebar menghampiri sang ibu yang masih berdiri di ambang pintu. Aduhh bu, jangan lagi ngelawak. Aku nggak tahu kalau kaca itu pecah. Tadi memang aku sempat kesal melempar bantal dengan kuat tapi bukan sengaja kulakukannya bu." Jawab Arif.
"Bener gak sengaja? ibu pikir kamu marah." Kini ekspresi wajah sang ibu terlihat tenang.
"Iya bu." Arif merangkul ibunya itu. Menempatkan kedua tangannya di leher sang ibu. Arif harus menunduk guna melihat jelas wajah sang ibu. Karena Arif punya postur tubuh yang tinggi. Sedangkan ibunya pendek dan gemuk.
"Eemmm.... Ibu sedang bahagia sekarang. Kamu jangan coba coba rusak suasana hatinya ibu."
" Iya Ibu Presiden." Jawab Arif tersenyum kecut.
"Aku ini ibumu, bukan ibunya presiden." Protes sang ibu.
"Iya.. Ibu Arif Dirgantara..!" Arif mencium kening sang ibu penuh kasih sayang. Ibunya ini harus ditenangkan kejiwaannya, kalau tidak, ibunya itu akan merepet terus sepanjang hari.
"Aku keluar dulu ya bu?" Ujar Arif.
"Kamu mau ke mana? siang ini Temani ibu ke rumah pamanmu." pinta sang ibu tegas.
" Iya Bu, akan ku temani ibu ke rumah paman. Tapi, tunggu dulu aku pergi ke rumah seseorang ya? sebelum aku pulang. Ibu jangan coba-coba mengundang paman Ridho, toko agama dan toko adat untuk ikut melamar Alana besok." Ujar Arif tegas, kini ia dan sang ibu sudah berada di teras rumah.
"kok gitu Nak?" tanya sang ibu dengan heran nya.
"I, iya Bu. Aku perlu bicara dengan Alana. Membicarakan semuanya. Dia siap gak menikah denganku. Jangan nanti, setelah menikah. Ada penyesalan. Cek cok lah, diam diaman lah. Aaku tak mau seperti itu. Ini pernikahanku yang Kedua. Aku tak mau lagi pernikahan ini sama tragisnya dengan pernikahan yang pertama." Jelas Ali panjang lebar, memberi pemahaman pada Ibunya.
"Alana gak akan menolak, pasti ia sudah setuju,.makanya pak Samsul datang kesini." Sang ibu terlihat gamang. Ia tak mau pernikahan ini tak terlaksana, setelah Arif bertemu dengan Alana.
"Iya bu, semoga saja Alana memang setuju dar hatinya yang paling dalam. Ibu berdoalah sekarang, agar Alana yakin seribu persen dengan pernikahan ini. Karena sebenarnya bu, Alana itu juga sedang patah hati. ia kan gagal nikah dua minggu yang lalu." Jelas Arif dengan lembut pada sang ibu.
"Oouuww... Iya, iya Nak. Kamu cepatlah pergi, bicara dengan Alana. Dan ibu, akan berdoa di sini Untuk mu." Sahut sang ibu, menepuk pelan lengan sang anak, yang kini sudah naik di atas motor.
"Iya bu." Arif pun melajukan motornya
dengan kecepatan sedang keluar dari pekarangan rumah itu, menuju rumahnya Alana yang berjarak Sekitar 500 meter dari rumahnya Arif.
__ADS_1
TBC
Like komentar dong